PSBB Transisi

Sudah 4X Kena Zonk, Pengusaha Masih Pikir-Pikir Buka Bioskop

Lifestyle - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
12 October 2020 15:57
Mannequins wearing face masks are placed to provide social distancing in a theatre in Madrid, Spain, Wednesday, June 17, 2020. Spanish Prime Minister Pedro Sanchez has announced a state ceremony to be held on July 16 to honour more than 27,000 who have died from the coronavirus. The ceremony will be held four months after Spain imposed one of the strictest lockdowns in the world to respond to the virulent cluster that followed major outbreaks in China and northern Italy. (AP Photo/Manu Fernandez)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kembali mengizinkan bioskop untuk beroperasi sesuai dengan ketentuan PSBB Transisi yang berlaku 12 Oktober 2020.

Ini bukan kali pertama, sebelumnya, Pemprov DKI Jakarta juga beberapa kali mengizinkan, namun ketika akan dibuka, justru dibatalkan kembali. Inkonsitensi kebijakan tersebut menimbulkan kekhawatiran bagi industri, sehingga mereka berpikir ulang.

"Sudah ke 4 kali. Mudah-mudahan nggak ditutup lagi. Dari bulan Juli, Agustus, September rencananya buka, nggak boleh lagi. Belum dibuka udah nggak boleh," kata Ketua Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) Djonny Syafruddin kepada CNBC Indonesia, Senin (12/10).


Ketika Pemprov DKI Jakarta sudah memberi sinyal untuk membuka kembali operasional, giliran pelaku industri yang nampaknya ragu. Mereka terlebih dahulu bakal mengadakan rapat secara seksama sebelum mengambil keputusan.

"Kita ada mekanisme, dari 20 hari lalu sudah meeting. Membicarakan setelah PSBB DKI, diperpanjang atau tidak. Selanjutnya kita meeting hari rabu atau lusa besok. Semuanya, Cinema 21, CGV, Cinèpolis atau Cinemax meeting Rabu jam 1. Evaluasi kebijakan itu," sebut Djonny.

Rapat tersebut bakal membicarakan sejumlah hal, salah satunya yakni soal kapasitas penonton dengan jumlah hanya maksimal dibatasi 25% dari kapasitas. Dengan kapasitas tersebut, ia ragu produsen film mau masuk untuk ambil bagian di masa-masa awal pembukaan bioskop. Pasalnya, perlu perhitungan matang dari sisi biaya modal maupun potensi yang diraup dari penayangan film di bioskop.

"Kalau 25% secara logika masalahnya gini. Yang punya film mau nggak. (Rencana) kemarin kapasitas 50% saja mikir-mikir. Bukan kita sendiri. Film nasional ada 100 judul yang belum diputar. Ketika dia mau tayang di bioskop. Dia mikir 50%. Waduh gimana ya, kan nggak bisa dipaksakan. Dia hitung-hitungan juga, kalkulasinya. apalagi 25%," kata Djonny.

Kehati-hatian ini juga tampak dari sikap PT Nusantara Sejahtera Raya, selaku pemilik brand Cinema XXI, yang belum buru-buru memberikan kepastian kapan bioskop di DKI segera operasi lagi. Cinema XXI belum akan beroperasi dalam waktu dekat di ibu kota. 

"Hingga hari ini, Senin, 12 Oktober 2020, Cinema XXI masih belum kembali melakukan kegiatan operasional bioskop di wilayah DKI Jakarta," ujar Head of Corporate Communications & Brand Management Cinema XXI Dewinta Hutagaol yang diterima CNBC Indonesia di Jakarta, Senin (12/10/2020).


[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading