Internasional

Ada Flu Babi Asal China Berpotensi Jadi Pandemi, Ini Kata WHO

Lifestyle - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
02 July 2020 15:23
LiLou the therapy pig stands in front of a departures board at San Francisco International Airport in San Francisco, California, U.S. October 4, 2019. Picture taken October 4, 2019. REUTERS/Jane Ross

Jakarta, CNBC Indonesia - Flu babi mutasi dari H1N1 yang berasal dari China kini menjadi sorotan. Flu babi yang disebut G4 EA H1N1 ini dapat menulari manusia dan berpotensi berkembang menjadi pandemi, seperti virus corona (Covid-19).

Namun flu babi terbaru ini bukanlah hal baru, dan sedang dalam pengawasan ketat oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Hal ini dibenarkan oleh Michael Ryan, direktur eksekutif program kedaruratan kesehatan WHO.

"Ini bukan virus baru. Ini adalah virus yang sedang diawasi," ujar Ryan dalam konferensi pers di Jakarta pada Rabu (1/7/2020), dikutip dari Xinhua. "Ini adalah temuan dari pengawasan yang telah dilakukan selama bertahun-tahun."



Ryan memaparkan jika flu babi disebabkan oleh strain virus H1N1 ini sudah diawasi oleh otoritas China, WHO, serta jaringan pengawasan influenza global di seluruh dunia sejak tahun 2011 hingga 2018 lalu.

"Sudah (diawasi) sejak 2011. Publikasi (flu babi) terbaru adalah (hasil dari) semua data pengawasan dari waktu ke waktu," papar Ryan, menambahkan jika publikasi tersebut juga melaporkan evolusi virus, tidak hanya dalam populasi hewan babi, tetapi juga dalam para pekerja yang bekerja di industri babi di China.

Penelitian tersebut setidaknya menemukan varian genotipe 4 virus H1N1 yang menyerupai burung Eurasia (G4 EA H1N1), menurut jurnal penelitian Amerika Serikat, Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) yang terbit pada Senin (29/6/2020) lalu.

"Kami perlu terus-menerus waspada dan melakukan pengawasan pada genotipe G4 ini. Kami berharap itu akan terus berlanjut dalam beberapa bulan dan tahun mendatang," ujar Ryan, menekankan jika pekerjaan ini menunjukkan pentingnya sistem vital pengawasan dan respon terhadap influenza global.

Selama masa penelitian, peneliti mengambil 30.000 sampel usap hidung babi dari berbagai rumah jagal dan rumah sakit hewan yang tersebar di 10 provinsi di China. Dari sini, peneliti mengisolasi setidaknya 179 virus flu babi.

Mayoritas virus flu yang ditemukan merupakan jenis baru yang dominan ditemukan pada babi sejak 2016 lalu.

Para peneliti kemudian melakukan berbagai percobaan termasuk pada ferret, yakni hewan mirip musang tetapi berbeda keluarga. Hewan ini banyak digunakan dalam studi flu karena mereka dapat mengalami gejala yang mirip dengan manusia, terutama demam, batuk, dan bersin.

Flu G4 diamati sangat menular, bereplikasi dalam sel manusia, dan menyebabkan gejala yang lebih serius pada ferret daripada virus lain. Tes juga menunjukkan bahwa kekebalan yang didapat manusia dari paparan flu musiman tidak memberikan perlindungan dari flu terbaru ini.

Menurut tes darah yang menunjukkan antibodi yang diciptakan oleh paparan virus, sekitar 10,4% pekerja di rumah pemotongan hewan dan industri babi di negara itu dikabarkan sudah terinfeksi. Tes lainnya menunjukkan 4,4% dari populasi umum juga tampaknya telah terpapar virus tersebut.

Vaksin flu saat ini juga tampaknya disebut tak dapat melindungi mereka yang sudah terpapar virus baru ini, sehingga mendesak untuk memantau para pekerja yang bekerja di industri itu.

Meskipun virus telah berpindah dari hewan ke manusia, namun belum ada bukti bahwa virus flu baru ini dapat ditularkan dari manusia ke manusia.


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading