Pernah Cuan Ratusan Juta, Apa Kabar Bisnis Batu Permata?

Lifestyle - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
10 November 2019 18:23
Pernah Cuan Ratusan Juta, Apa Kabar Bisnis Batu Permata? Foto: Thea Fathanah Arbar
Jakarta, CNBC Indonesia - Pada 2014 silam, sempat booming batu permata hingga semua orang memilikinya, baik yang muda, tua, laki-laki dan perempuan.

Bisa dikatakan salah satu penyebabnya bermula pada tahun 2010, di mana saat itu Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memberikan batu bacan kepada Presiden Amerika Serikat Barack Obama sebagai cinderamata.

Isu positif yang diembuskan terhadap batu bacan akhirnya mampu mendongkrak harga jual batu berwarna hijau yang semula berkisar di angka ratusan ribu rupiah bisa mencapai puluhan bahkan ratusan juta rupiah.


Sayangnya euforia itu cepat pudar. Setahun setelah booming, pada akhir 2015, batu-batu tersebut tidak lagi menjadi primadona. Harga jualnya juga turun drastis, hingga tidak bisa lagi menjadi salah satu sarana investasi.

CNBC Indonesia berkunjung ke Jakarta Gems Center (JGC), Rawa Bening, Jakarta Timur, beberapa waktu lalu, untuk menemukan jawabannya. Ketika menginjakan kaki di pusat penjualan batu mulia terbesar di Asia Tenggara ini, terlihat masih banyak orang yang bertransaksi di beberapa toko-toko.

Namun, tidak sedikit juga toko-toko yang sepi pelanggan. Berdasarkan pandangan mata, kebanyakan pemilik atau penjaga toko sedang asyik bermedia sosial atau streaming video lewat ponselnya. Ada juga yang tidur di dalam toko karena sepi pelanggan.

Bagian pasar yang masih ramai adalah tempat memotong, mengikir dan menghaluskan batu-batu permata dan akik. Pengunjung yang datang juga kebanyakan pria paruh baya. Namun ada juga pengunjung perempuan yang memenuhi beberapa toko.

Selain itu, CNBC melihat beberapa pengunjung yang datang biasanya pergi dengan cepat. Untuk pengunjung pria, yang disinyalir merupakan kolektor, sudah mengetahui betul apa yang mereka butuhkan, jadi tidak perlu waktu lama di dalam pasar tersebut.

CNBC Indonesia menemui pemilik Toko Mas Usaha Baru, Defriman (53). Saat ditemui, ia sedang asyik bermain dengan ponselnya. Merasa tidak keberatan berbincang, Defriman mulai memaparkan pasar batu-batu tersebut pasca 2015.

"(Untuk penjualan batu) sekarang jauh menurunnya. Kalau dipersenkan, paling 5%... sisanya. Artinya 95% penurunan. Dulu kan penjualan 100%, untung semua. Kalau sekarang tinggal 5%, sedikit banget," paparnya.

Defriman menceritakan, saat batu-batu tersebut masih booming, pasar JGC dipenuhi oleh pelanggan setiap harinya. Bahkan saking ramainya, banyak orang yang sulit untuk berjalan di lorong-lorong pasar tersebut.

"Dulu ini pasar penuh, sampai keluar-keluar. Dari ujung ke ujung penuh semua. Orang mau jalan aja susah, enggak muat. Orang mau lewat saja gak bisa. Bayangin aja. Kalau sekarang pasarnya sudah hancur, enggak ada lagi," lanjutnya.

Ketika ditanya soal pendapatannya ketika batu-batu sedang booming, pria 53 tahun ini sempat tertawa. "Waktu booming tahun 2014 sampai 2015, penjualan paling kecil penglarisnya Rp 50 juta-Rp 100 juta per hari. Berbagai batu, rangka cincin dan lainnya," jawabnya.

"Kalau sekarang mah, hari ini aja penglarisnya cuma Rp 2 juta. Tiap hari segini. Paling tinggi Rp 2,5 jutalah. Ini terjadi dari akhir 2015 sampai sekarang pendapatan segitu saja," lanjut Defriman.

Selanjutnya mengenai jenis-jenis batu yang paling laris dijual pada saat itu, Defriman dengan cepat mengatakan bahwa batu bacan menjadi yang paling laris dijual.

"Ada juga Safir, Zamrud, dan Rubi. Itu mah batu-batu mahal itu. Bacan itu dulu bisa dijual sampai Rp 100 juta yang bersih. Kalau sekarang gak sampai Rp 10 juta. Jauh juga penurunannya kan," ujarnya.

"Tapi kalau dulu mah macem-macem. Batu jenis apapun pasti laris manis dijual. Batu jalan aja digosok masih laku. Bayangkan aja," paparnya sambil tertawa.

Tentu Defriman tidak merekomendasikan untuk orang berinvestasi dengan batu. Ia lebih menyarankan berinvestasi dengan emas atau lainnya. Namun, jika hanya ingin untuk koleksi batu tanpa berinvestasi, menurutnya masih sah saja.

"Tapi kalau nanti booming lagi, baru beli. Tapi ya mana tahu kita ini bakal booming lagi atau tidak. Namanya fenomena kan," imbuhnya.

Defriman sendiri sudah berjualan sejak 35 tahun lalu. Ketika masih booming batu-batu, tokonya penuh dengan calon pembeli hingga harus menambah pegawai hingga enam orang. Kini hanya tinggal dirinya dan keponakan laki-lakinya yang menjaga toko. Kadang toko ditinggalkan untuk dirinya istirahat di mushola lantai 3.

Walaupun Defriman terlihat santai sebagai pedagang, ia juga sebenarnya ingin sekali penjualannya naik. Ia memiliki ide untuk membangun kembali komunitas penjualan ini dengan menggelar bazaar dan pameran.

"Caranya gini, kalau kepala pasar aktif, tiap bulan seharusnya ada pameran-pameran batu di depan, saya kira baru bisa ramai kembali. Kerja sama dengan pemerintah kan bisa. Sedangkan ini enggak ada. Kepala pasarnya juga gak aktif, dibiarin aja pedagang kayak gini," tukasnya.

[Gambas:Video CNBC]



(miq/miq)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading