Ternyata, Minuman Manis Lebih Bahaya Dibanding Rokok!

Lifestyle - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
16 October 2019 16:15
Ternyata, Minuman Manis Lebih Bahaya Dibanding Rokok!
Jakarta, CNBC Indonesia - Singapura menjadi negara pertama yang melarang iklan minuman kemasan dengan kadar gula tinggi guna melawan penyakit diabetes, bagaimana dengan Indonesia?

CNBC Indonesia menghubungi ahli gizi Syarief Darmawan. Menurutnya, minuman kemasan tinggi gula memang sangat berbahaya, bahkan tingkatnya lebih berbahaya dibandingkan dengan efek merokok.

"Ya betul sekali. Minuman kemasan lebih berbahaya dibanding dengan rokok karena dalam minuman kemasan ada bahan tambahan makanan berupa pemanis buatan dan pewarna buatan," ungkap Syarief.

Menurut Syarief, terkadang banyak produsen minuman tinggi gula yang menggunakan pemanis buatan yang jelas bisa menimbulkan penyakit jika dikonsumsi berlebihan. Ada beberapa jenis pemanis buatan, seperti Sakarin, siklamat, sorbitol, dan aspartam.




Sakarin memiliki tingkat 'aman' untuk dikonsumsi sekitar 50-300 mg/kg, siklamat 500 mg/kg sampai 3 gr/kg, sorbitol 120 gr/kg hingga 5 gr/kg, sedangkan aspartam sebenarnya sama sekali tidak diperbolehkan untuk dikonsumsi.

"Pemanis buatan rasanya lebih manis, membantu mempertajam penerimaan terhadap rasa manis, tidak mengandung kalori, dan harganya lebih murah. Memang cocok untuk penderita penyakit gula (diabetes), tetapi jika dikonsumsi berlebihan dapat beresiko kerusakan organ ginjal dan penyebab kanker," papar Syarief.

Sedangkan mengenai pewarna dalam minuman, menurut Syarief, banyak produsen yang menggunakan pewarna tekstil untuk mewarnai makanan atau minuman produksi mereka. "Warnanya sangat menyolok dan tampak bagus, tetapi ini sangat berbahaya bagi kesehatan," imbuhnya.

Ada beberapa pewarna sintetis sudah dilarang digunakan untuk makanan, misalnya Rodhamin B karena dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernafasan, iritasi pada kulit, iritasi pada mata, iritasi saluran pencernaan, dan bahaya kanker hati.

"Selain itu ada juga Metanil Yellow yang dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernafasan, iritasi pada kulit, iritasi pada mata, dan bahaya kanker pada kandung dan saluran kemih," lanjutnya.



Menurut Syarief, sudah benar Singapura melakukan hal tersebut, sebab mencegah lebih baik daripada mengobati. Ia juga berharap Indonesia bisa mengikuti jejak negara tetangga tersebut.

"Saya setuju dengan kebijakan Singapura, karena ini sifatnya preventif dan sangat baik. Dibutuhkan ketegasan pemangku jabatan untuk mengeluarkan peraturan seperti ini. Indonesia juga bisa, tetapi harus diadvokasi terus sehingga keluar peraturan tersebut," ungkapnya.



[Gambas:Video CNBC]



(gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading