Pesaing Berjatuhan di Streaming, Gimana Nasib Langit Musik?

Lifestyle - Bernhart Farras, CNBC Indonesia
19 April 2019 14:37
Pesaing Berjatuhan di Streaming, Gimana Nasib Langit Musik?
Jakarta, CNBC Indonesia - Layanan streaming musik telah menjadi standar baru dalam industri musik dunia. Kehadiran streaming mampu mengubah cara menikmati musik dan mendorong revolusi dalam komersialisasi industri musik global.

Di Indonesia, tren streaming pun terjadi dengan ramainya perusahaan-perusahaan masuk ke bisnis streaming musik, mulai dari perusahaan pelat merah alias BUMN hingga multinasional. Mereka berlomba-lomba untuk bisa tetap bertahan dalam industri streaming musik dan bersaing dengan perusahaan rintisan (startup) kelas dunia. 

Live streaming sebetulnya istilah yang mengacu pada konten yang disiarkan langsung melalui internet, bisa berupa video atau audio.

Aplikasi streaming musik Yonder milik perusahaan telekomunikasi swasta multinasional, PT XL Axiata Tbk (EXCL) dan Arena Musik besutan PT Indosat Tbk (ISAT) telah tergerus karena persaingan. Jadi kini tinggal satu perusahaan streaming musik tanah air yang masih bertahan selama 10 tahun di Indonesia sejak 2009 yaitu Langit Musik.

Langit Musik, Bertahan di Tengah Gempuran Streaming GlobalFoto: Langit Musik

Langit Musik adalah platform streaming musik digital yang dimiliki oleh perusahaan BUMN PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) atau Telkom Group. Langit Musik dikelola oleh anak perusahaan Telkom bernama Melon.


Merek Langit Musik diawali dan dimiliki oleh Telkomsel yang juga anak usaha Telkom. Namun dalam perjalanan, ada beberapa aplikasi serupa di Telkom Group seperti Speedy musik kemudian menjadi Indi Musik. Selain itu Melon juga memiliki layanan streaming musik sendiri. Pada akhirnya Telkomsel meminta Melon untuk mengelola bisnis musiknya.

Dedi Suherman, CEO Melon, menceritakan bagaimana kondisi ekosistem dan persaingan di industri musik di Indonesia dewasa ini. 

"Di dalam suatu layanan harus ada kompetisi namun masing-masing akan mencoba memberikan layanan terbaik dengan memberikan ciri khas atau unit positioning dari masing-masing produk," kata Dedi kepada CNBC Indonesia, di kantor Melon, Telkom Landmark Tower, Senin (15/4/2019).
 

Langit Musik, menurut Dedi, lebih fokus pada konten lokal yaitu musik Indonesia. Dia bertekad agar Langit Musik bisa menjadi tuan rumah musik Indonesia.

Langit Musik, Bertahan di Tengah Gempuran Streaming GlobalFoto: Ist/news.spotify.com

Musik internasional Vs Indonesia

Tak mudah memang menggoyahkan hegemoni lagi-lagu internasional karena sejak awal dominan, tapi bukan tidak mungkin pergerseran itu berubah.

"Awalnya itu memang konten global [musik luar] yang mendominasi," ujarnya.

Namun dia menjelaskan karena kerja sama yang sangat baik bersama para para label dan musisi yang secara aktif mempromosikan lagu-lagunya di Langit Musik, kini hasilnya mulai kentara. Posisinya kian berubah sejak 2018. Data terakhir dari Januari 2019 sampai April lalu, posisi lagu Indonesia mendominasi sebesar 76%, bertambah terus dari akhir Desember yang masih 50%.


Sejak awal 2019, 76% streaming di Langit Musik adalah lagu Indonesia walaupun aplikasi tersebut juga menyediakan lagu-lagu internasional.

"Awalnya memang lagu-lagu asing yang banyak diputar dalam perjalanan akhirnya Langit Musik ketemu sendiri polanya," tambahnya. "Platform yang lain itu masih sangat besar lagu asing yang dibeli."

Apa kuncinya? Menurut Dedi, pencapaian ini juga didukung oleh pengguna yang memang mayoritas menyukai lagu-lagu pop Indonesia. Strategi pemasaran juga sangat mendukung tingginya dominasi lagu Indonesia.

"Banyak sekali endorse yang dilakukan untuk mendorong lagu-lagu Indonesia," ujarnya.

Bersaing dalam kualitas dan harga

Langit Musik menyediakan kualitas audio yang bersaing dan cocok dengan kondisi internet di Indonesia dengan dua format yaitu normal (96 kbps) dan high-quality (256 kbps).

Adapun format high-quality itu equivalen dengan format tertinggi Spotify dan Apple Music. Pihaknya juga tengah menyiapkan dan menguji coba satu format looseless bernama FLAC. Format ini sangat digaungkan oleh platform streaming musik TIDAL di AS besutan musisi International, Jay Z, suami Beyonce Knowles.

Selain kualitas, salah satu pendorong lainnya ialah Telkomsel menyediakan kuota gratis untuk menggunakan aplikasi tersebut. "Pengguna Telkomsel, walaupun kuota habis tetap bisa streaming, ini yang kami namakan zero rating," jelasnya. "Pengguna tetap bisa streaming dengan gratis."

Tumbuh iya, tapi tantangan terus di depan. Dedi mengakui bahwa platformnya masih kalah dari Joox dan Spotify dalam segi jumlah aktif per bulan. Sebab itu, untuk menjaring banyak pengguna butuh 'bakar uang' menggunakan iklan di berbagai media sosial.

"Kami pernah melakukan seperti itu tetapi, apakah pelanggan besar, engagement-nya [keterlibatan pengguna] besar?" tegasnya.

Ia mengakui cara tersebut kurang efektif, setidaknya untuk platform yang dikelola Melon karena belum tentu meningkatkan engagement.

Ia ingin Langit Musik lebih fokus kepada engagement karena investor senang menggunakan metrik tersebut. Dengan strategi fokus pada keterlibatan pengguna, Ia bahkan mengklaim "Langit Musik 3 kali lipat lebih lama digunakan dibandingkan platform lainnya [di Indonesia."

Model Bisnis

Strategi Langit Musik saat ini ialah bekerjasama dengan perusahaan label untuk mendapatkan konten musik. Dedi menjelaskan bahwa cara ini lebih memudahkan akuisisi konten dan pembagian keuntungan. Adapun bagi musisi independen, ada salah satu perusahaan label yang mewakili musisi-musisi tersebut.

Bagaimana dengan profit? Hmmm.

Langit musik belum mencapai profit, tetapi sudah mendapatkan Pendapatan. Kondisi ini terjadi karena biaya operasional masih lebih tinggi dari pendapatan. Langit Musik juga menggunakan sistem revenue sharing alias pendapatan bagi hasil. Langit Musik mendapatkan pendapatan dari penjualan paket premium dan bundling yang dikenakan kepada pengguna aplikasi.

Untuk pembagian terhadap label, Langit Musik terlebih dahulu melihat jumlah putaran pelanggan terhadap kumpulan lagu yang dimiliki label tersebut. Lalu 50% nya dibagi kepada para label.

Contohnya begini, jika pendapatan tahun ini adalah Rp 100 miliar dan ada 100 label yang bekerjasama dengan catatan semua pemutaran lagu per label jumlahnya sama, maka tiap label mendapatkan Rp 500 juta.

"Mereka itu dihitung per menit," ujarnya. "Revenue sharing ini didapatkan dari 50% keuntungan total," kata Dedi.

Akankah Langit Musik bisa terus bertumbuh dengan besarnya potensi pasar streaming di Indonesia di tengah menjamurnya generasi milenial? Kita tunggu saja gebrakan Langit Musik berikutnya.

(tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading