InvesTime

Kepastian Tapering jadi Kunci Tren Penguatan IHSG

Investment - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
31 August 2021 10:49
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Laju bursa saham domestik diperkirakan akan terus melanjutkan tren kenaikan sampai akhir tahun ini seiring dengan adanya kepastian dari The Federal Reserve mengenai rencana tapering pada akhir tahun ini.

Simposium Jackson Hole memastikan, The Fed akan mengurangi pembelian obligasi di pasar sekunder pada akhir tahun 2021. Hal ini turut direspons positif oleh Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang pada Senin kemarin (30/8/2021) ditutup menguat sebesar 1,71% ke level 6.144,90 poin dengan nilai transaksi Rp 10,97 triliun. Investor asing tercatat melakukan pembelian bersih senilai Rp 567,68 miliar.

Analis dan Konsultan Infovesta Kapital Advisori, Praska Putrantyo mengatakan, kenaikan IHSG sebagai respons positif dari investor karena adanya kejelasan The Fed terkait rencana tapering.


"Tapering diperuntukan pengurangan pembelian oligasi di pasar sekunder senilai US$ 145 miliar akan coba dikurangi, namun tidak memberikan kenaikan suku bunga meskipun inflasi di AS sudah mencapai 5,4%," kata Praska, di program Investime CNBC Indonesia, Senin (31/8/2021).

Dia pun optimis, bursa saham akan melanjutkan tren bullish karena optimis dengan data-data penguatan kurs Rupiah dan kenaikan indeks dollar dan kebijakan The Fed yang belum akan menaikkan suku bunga sampai 2023 mendatang.

"Pasar lebih percaya diri terhadap pergerakan ke depan, karena suku bunga yang paling dominan di sektor riil, sehingga pasar melanjutkan tren bullish," ujarnya.

Praska menambahkan, risiko tapering di tahun ini juga dampaknya diperkirakan tidak sedalam tahun 2013 di mana taper tantrum tersebut menyebabkan pasar Surat Berharga Negara (SBN) terkoreksi -14% dan investor asing keluar dari pasar saham domestik senilai Rp 75 triliun.

"Seharusnya di tahun 2021 tidak seperti tahun 2013, saat itu pengurangan quantitative easing tahap 2, saat itu dibarengi normalisasi neraca The Fed. Memang, akibatnya saat itu kebijakan mendadak, tidak dibikin timeline jelas, investor bereaksi agresif terutama di pasar saham," ujarnya.


[Gambas:Video CNBC]

(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading