InvesTime

Saham-saham Big Cap Rontok Berjamaah, Saatnya Masuk!

Investment - Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
03 August 2021 18:45
A man takes pictures inside the Indonesia Stock Exchange building in Jakarta, Indonesia, September 6, 2018. REUTERS/Willy Kurniawan

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah saham big caps alias saham dengan kapitaliasi pasar besar di atas Rp 100 triliun memang mengalami tren penurunan di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Sebab itu, CEO Finvesol Consulting, Fendi Susiyanto mengatakan saat ini adalah waktu yang tepat untuk memburu sahams-saham berfundamental baik dan masuk big cap dengan harga lebih rendah.

"Strategi perlahan melakukan akumulasi cicil beli, bukan averaging down [sudah punya di harga tinggi, beli lagi di harga rendah] tapi adalah cicil beli semacam installment, kalau bisa setiap bulan masuk. Karena berdasarkan pengalaman dan nilai fundamentalnya memang ini menjadi undervalue [murah]," kata dia dalam program InvesTime CNBC Indonesia, Jumat (30/7/2021).


Saham-saham big caps ini, menurut dia, cepat atau lambat akan berpeluang mengalami kenaikan lebih besar lagi.

Menurutnya secara fundamental, saham-saham big cap ini masih bagus dan memberikan peluang upside bahkan di atas 25% dan ini juga yang membuat saham tersebut layak untuk dipertahankan.

Dia mencontohkan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) harga saat ini berkisar Rp 29.000/saham. Harga wajarnya ada di Rp 38.700, artinya memiliki upside sampai 30%.

Berikutnya saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) memiliki potensial 34%, dengan harga sekarang Rp 3.240-an dan harga wajar Rp 4.300.

Sedangkan, PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) potensinya 40% sebab memiliki harga wajar Rp 5.950 dan saat ini berkisar Rp 4.220-an.

Dia meyakini dengan emiten yang memiliki fundamental bagus memiliki peluang untuk kembali lagi. Namun para investor perlu untuk sabar sebab saham tersebut tidak akan cepat mengalami apresiasi harga.

"Karena apapun yang terjadi kembali kepada harga yang fundamental, akan mengalami potensi kenaikan harga," kata Fendi.

Mantan analis BNI Sekuritas ini mengatakan sebaiknya investor mencermati support level [batas tahanan bawah] Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebagai patokan yakni di level 5.800.

Jika indeks acuan Bursa Efek Indonesia (BEI) berada di level tersebut, maka cukup kuat untuk bergerak ke atasnya, dengan demikian waktu yang tepat melakukan akumulasi pada saham-saham emiten tersebut.

Menurutnya saat saham-saham kategori big cap itu mengalami penurunan lagi, pilihan yang ada ada adalah melakukan pembelian secara bertahap. Dengan begitu menghindari risiko investasi apabila mengalami over-exposed secara langsung.

"Mungkin secara bertahap lebih wise, time frame nya jangan dilihat sebulan atau dua bulan, lihat setahun-dua tahun. Artinya dalam waktu itu akan berpeluang besar menikmati hasil capital gain disamping dividen yield dari saham blue chip," jelas Fendi.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading