InvesTime

Lagi Pandemi, Saham-saham Farmasi Punya Saingan Berat Nih!

Investment - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
14 July 2021 07:40
Dok. PT Bundamedik Tbk

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham emiten farmasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) mendapatkan 'saingan' di tengah pandemi Covid-19 yang masih membuat pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak tak stabil kendati masih di level 6.000.

Pada masa awal pandemi Covid-19, harga saham farmasi sempat naik gila-gilaan. BUMN farmasi yang merupakan anak usaha PT Bio Farma, yakni PT Indofarma Tbk (INAF) dan PT Kimia Farma Tbk (KAEF) sempat mencatat kenaikan lebih dari 100% pada pertengahan tahun lalu.

Namun, beberapa waktu kemudian harga saham farmasi sempat ambrol. Keberadaannya pun kian 'terancam' ditinggalkan investor ketika saham emiten teknologi mulai merangkak naik.


Terbaru, saham PT DCI Indonesia Tbk (DCII) yang bergerak di bisnis data center melesat 14.000% dalam kurun waktu 6 bulan. Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah saham farmasi sudah tidak seksi lagi dan kalah dari saham tekno?

"Dua-duanya menarik karena struktural jangka panjang tekno dibutuhkan dan sejak pandemi kita sadari minimnya perawatan kesehatan," kata Head Of Research PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk (TRIM), Willinoy Sitorus dalam program Investime CNBC Indonesia, dikutip Selasa (13/7/21).

"Jadi saya rasa bujet pemerintah akan fokus health sector. Saham Prodia, kemudian dari hospital Siloam, RS Bunda dan sebagainya itu akan diuntungkan," sebutnya.

Saham-saham yang disebut itu yakni PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA) yang naik 149% secara year to date hingga Selasa kemarin di level Rp 8.100/saham, lalu PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) naik 81% di Rp 9.975/saham, dan pengelola RS Bunda, PT Bundamedik tbk (BMHS).

Saham BHMS baru tercatat di BEI pada Selasa 6 Juli lalu dan sudah melesat 5 hari beruntun (koreksi sehari di Selasa, -4,39%) di level Rp 980/saham, sehingga sepekan melesat 131%.

Dia menilai, ada perbedaan untuk melihat saham dan sektor yang potensial untuk diburu investor.

Menurut dia, untuk melihat saham farmasi itu lebih pada kondisi masing-masing perusahaan baik cashflow atau arus kas maupun sehat tidaknya perusahaan tersebut.

Sementara untuk melihat saham-saham teknologi, perlu mencermati jangka panjang hingga bertahun-tahun ke depan, karena berkaitan dengan masa depan. Namun, kondisi perusahaan juga menjadi salah satu perhatian.

"Beda dengan old ekonomi kita lihat historical cashflow, secara detil. Kalau liat tech economy we're talking about future," sebutnya.

Terkait dengan saham tech, emiten data center DCII memang jadi perhatian. Sejak tercatat di BEI 6 Januari 2021, harga saham ini meroket 14.000% menjadi Rp 59.000/saham dari Rp 420/saham harga penawaran umumnya (IPO).

Saat ini saham DCII memang masih disuspensi oleh BEI sejak 17 Juni lalu.

Saham emiten data center lainnya, satu grup dengan DCI, yakni PT Indointernet Tbk (EDGE) juga sudah meroket. Pada perdagangan sesi II, Selasa (13/7), saham EDGE turun 6,50% di Rp 30.925/saham. Meski demikian sahamnya sudah meroket 319% dari harga IPO Rp 7.375 per saham pada 8 Februari 2021.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading