InvesTime

Heboh GoTo Mau IPO, Bisakah Sesukses Facebook?

Investment - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
09 June 2021 09:45
Mitra GoTo untuk layanan GoKilat atau GoSend Same Day Delivery (SMD) melakukan aksi mogok kerja dengan cara off bid secara massal di kawasan Kemang, Selasa, (8/6). Mogok massal tersebut dilakukan karena pihak GoTo mengubah insentif para kurir/driver secara sepihak. Ia mengatakan perubahan skema insentif GoSend FMD tersebut juga melanggar ketentuan perundang-undangan di Indonesia. Pasalnya, Undang-Undang nomor 20 tahun 2008 tentang Kemitraan tidak membolehkan adanya keputusan sepihak tetapi melalui perundingan bersama yang menguntungkan para pihak yang bermitra. (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rencana GoTo, perusahaan gabungan Gojek dan Tokopedia, untuk melantai ke bursa saham Tanah Air masih diragukan beberapa investor mengenai bagaimana fundamental bisnis mereka, seperti perolehan laba bersih dan pendapatan.

Sebagai perbandingan, Facebook, media sosial besutan Mark Zuckerberg yang mencatatkan saham perdana (initial publik offering/IPO) pada tahun 2012 silam, menjadi contoh yang baik perusahaan rintisan yang sudah membukukan laba sebesar US$ 1 miliar mengacu laporan keuangan per tahun 2011.

Dari IPO, perusahaan yang tercatat di Nasdaq dengan kode FB ini kemudian meraih dana IPO sebesar US$ 16 miliar, rekor tertinggi sepanjang masa kala itu.


Bagaimana kondisi serupa, apakah bisa berlaku untuk GoTo?

Founder Emtrade, Ellen May menjelaskan, perusahaan rintisan digital, secara kinerja keuangan baik dari sisi perolehan laba dan pendapatan biasanya masih belum cukup baik, bahkan kebanyakan masih merugi.

"Kita melihatnya tidak revenue [pendapatan], tapi dari story. Investor jangka panjang melihat revenue, earnings [laba] jadi dasar fundamental penghitungan valuasinya," kata Ellen May, kepada CNBC Indonesia dalam program InvesTime.

Dengan begitu, bagi para trader, atau yang ingin berinvestasi dalam jangka pendek biasanya lebih melihat apa rencana-rencana yang akan dilakukan GoTo dan kemudian menjadi katalis positif bagi investor.

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, Founder Creative Trading System, Argha Jonathan Karo-Karo mengungkapkan, IPO GoTo menjadi sinyalemen baik bagi bursa saham domestik. Pasalnya, saat ini perusahaan dengan market cap terbesar masih dikuasai oleh sektor jasa keuangan, terutama perbankan.

"Ideal saya rasa sudah dibutuhkan. Karena memang, di Indonesia big cap banking [kapitalisasi pasar besar dari perbankan], itu jadi tidak menarik bagi investor asing. Di luar negeri sudah perusahaan teknologi, secara timing sudah terbuka pintunya," beber dia.

Namun demikian, Argha menilai, dengan tercatat di bursa saham, GoTo harus membuktikan kinerjanya secara fundamental, karena itu yang dibutuhkan oleh investor.

"Gojek dan Tokopedia akan IPO, jadi IPO itu proses dari dunia venture capital [modal ventura] ke bursa saham, ada fundamental, yang dibutuhkan GoTo mengindahkan fundamentalnya," tandasnya.

Secara terpisah, Head of Investment Information, Mirae Asset Sekuritas Roger M.M mengungkapkan, rencana IPO GoTo menjadi katalis positif bagi keyakinan calon perusahaan yang akan melantai di bursa dan termasuk yang ditunggu-tunggu oleh investor. Mirae, kata dia, saat ini masih menghitung potensi saham yang akan dilepas kepada publik melalui IPO tersebut.

Berdasarkan perkiraan Mirae Asset, valuasi perusahaan Gojek dan Tokopedia setelah merger dengan Tokopedia sekitar Rp 170 triliun. Jika target dana yang dihimpun dalam IPO sebesar 10% saja dari valuasi keduanya, nilainya mencapai Rp 17 triliun.

"Kita tinggal menebak apakah nilai itu bisa diserap ritel. Rencana IPO GoTo cukup menjadi sentimen positif di market karena perusahaan teknologi sebesar itu mau IPO di market kita," ujar Roger, Kamis (4/6/2021).


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading