Ternyata Ini Biang Kerok Kenapa Saham-saham Big Cap Jeblok!

Investment - Lynda Hasibuan, CNBC Indonesia
16 March 2021 11:25
Diskusi jual beli saham Oppo Stocks in Your Hand di Bursa Efek Indonesia, Senin (18/2/2019). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten big cap alias saham dengan kapitalisasi pasar (market cap) di atas Rp 100 triliun umumnya memberikan 'jaminan' keamanan investasi. Hal itu karena biasanya perusahaan kategori ini punya prospek bisnis ini bagus dan fundamental oke.

Kendati demikian, mengacu data BEI ada beberapa saham big cap yang sebetulnya belum mampu memberikan cuan besar sejak Januari hingga saat ini. Tapi ada pula saham-saham big cap justru memberikan return negatif.

Head Of Equity Trading PT MNC Sekuritas Medan, Frankie WP mengungkapkan ternyata jatuhnya saham-saham big cap lantaran banyaknya investor ritel yang semakin besar.


"Kalau aku boleh bilang, ini disebabkan oleh jumlah investor ritel sejak tahun lalu sudah meningkat pesat. Jadi kalau komposisi investor ritel pada saat ini sudah lebih besar dibandingkan institusi, dana pensiun, asuransi, reksa dana, itu malah komposisi investor retail malah paling besar, di 34,6%," kata Frankie WP dalam Investime, CNBC Indonesia Senin malam (15/03/2021).

Dia menuturkan hal ini tentu membuat saham big cap merosot lantaran investor ritel cenderung melepas porsi saham akibat beralih ke saham-saham lain yang cepat memberikan keuntungan.

Investor ritel yang masuk ke saham big cap dengan modal kecil, tapi punya prinsip ingin hasil cepat dari sisi keuntungan.

"Jadi bayangkan sepertiga, third of the pie, itu dikuasai oleh investor ritel. Yang kita tahu, investor ritel adalah approach-nya, strateginya beda dengan institusi. Di mana kalau institusi itu, kalau masuk dananya gede, mereka akan masuk ke big caps atau ke blue chips. Sedangkan investor ritel, mereka lebih pengennya something quick. Itu yang menyebabkan jadinya shifting, yang big caps jadi anjlok," ungkap dia.

Adapun alasan lainnya yaitu dipengaruhi oleh momentum stocks. Hal ini misalnya pernah terjadi pada emiten-emiten farmasi yang sedang tren sehingga para investor banyak beli saham farmasi ketimbang perbankan.

"Kalau saya boleh bilang istilahnya adalah momentum stocks, kayak mungkin di awal tahun ini ada emiten-emiten farmasi. Semua orang akan bilang "wah vaksin akan bagus" dan sebagainya. Semua retail belinya ke farmasi. Sekarang itu banking memang bagus, tapi nggak semua banking juga. Yang dikejar itu malah banking yang digital bank," ucap dia.

Data BEI mencatat, beberapa saham big cap memang masih belum memberikan cuan besar sejak awal tahun.

Misalnya PT Astra International Tbk (ASII) dengan kapitalisasi pasar Rp 229 triliun, sahamnya minus 6,22% di level Rp 5.650/saham dengan asing net sell Rp 1,65 triliun secara year to date.

Berikutnya saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dengan market cap Rp 250 triliun, sahamnya anjlok 11% sejak awal tahun dan net sell Rp 4,47 miliar.

Lalu lainnya yakni PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) sahamnya minus 5% dengan kapitalisasi pasar Rp 166 triliun.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading