Investasi Emas Itu Membosankan! Apa Pendapatmu Gaes?

Investment - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
26 November 2020 14:02
FILE PHOTO: Gold bullion is displayed at Hatton Garden Metals precious metal dealers in London, Britain July 21, 2015. REUTERS/Neil Hall/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Salah satu artikel di situs morningstar.com, ada satu tulisan yang berjudul 'Gold Is a Dull Investment'. Penulisnya adalah Alex Bryan yang menyandang gelar CFA (Chartered Financial Analyst (CFA).  

Dalam tulisan ini, Bryan menyampaikan analsisi mengenai investasi di emas yang menurutnya kurang memberikan imbal hasil yang kurang maksimal.

Sepanjang tahun ini harga emas telah melesat lebih dari 20%. Bahkan bulan Agustus lalu, harga bullion menyentuh level tertingginya sepanjang sejarah. Kinerja harga emas yang ciamik membuat imbal hasil komoditas ini mengungguli aset keuangan seperti saham dan obligasi. 


Namun pada dasarnya emas bukanlah aset yang produktif. Berbeda dengan saham dan obligasi yang memberikan dividen maupun kupon atau bunga, emas tidak memberikan imbal hasil apapun. 

Tidak adanya imbal hasil yang diberikan emas membuat investor kawakan seperti Warren Buffet tidak tertarik untuk melirik emas sebagai salah satu aset untuk investasi. Emas tak ubahnya seperti mata uang lainnya yang nilainya didasarkan pada keyakinan pelaku pasar. 

Bagaimanapun juga logam kuning ini punya nilai historis sehingga membuatnya menjadi salah satu aset yang menarik. Sebelum mata uang fiat diperkenalkan, emas adalah salah satu alat tukar. 

Produksi emas juga setiap tahun relatif lebih stabil. Ini yang membedakan dengan mata uang fiat yang pasokannya bisa dinaikkan atau diturunkan kapan saja oleh otoritas moneter melalui instrumen suku bunga acuan maupun tools moneter lain. 

Lebih dari ribuan tahun digunakan sebagai store of value dan stabilitas pasokannya membuat aset ini lebih cocok digunakan sebagai sarana untuk lindung nilai (hedging). Oleh sebab itu emas cenderung punya korelasi positif terhadap tingkat inflasi dan berlawanan arah dengan dolar maupun pergerakan saham.

Emas lebih berperan seperti asuransi yang memberikan proteksi ketika pasar sedang goyang, kepercayaan terhadap dolar melemah dan inflasi yang tinggi. Ini adalah cara pandang yang melekat selama ini. 

Mengingat emas tidak memberikan imbal hasil apapun, maka ada opportunity cost yang harus dibayar ketika memegang aset ini. Saat suku bunga acuan rendah dan pasokan uang beredar meningkat, maka opportunity cost memegang emas juga ikut rendah. 

Inilah yang membuat harga emas terkerek naik sepanjang tahun ini, didukung dengan pemangkasan suku bunga acuan ke zero lower bound di negara-negara maju dan imbal hasil obligasi pemerintah yang sudah terjun ke teritori negatif. 

Artinya ketika suku bunga naik saat perekonomian sudah mulai mengalami fase ekspansifnya, opportunity cost untuk emas pun meningkat. Hal ini akan membuat emas menjadi tidak menarik lagi untuk dimiliki. 

Saat ini kondisi perekonomian yang terpuruk akibat pandemi Covid-19 masih menjadi salah satu pendorong utama kenaikan harga emas yang membuatnya cuan puluhan persen. 

Hanya saja ketika ekonomi nantinya rebound dan suku bunga acuan dinaikkan, harga emas akan terpelanting dan aset ini akan kehilangan tenaga belinya (purchasing power). 

Emas memang bukan aset produktif karena tak memberikan imbal hasil apa-apa. Namun adanya emas dalam sebuah portofolio investasi memiliki peranan penting yaitu untuk diversifikasi di tengah banyaknya risiko yang ada dan hanya sedikit aset yang bisa digunakan sebagai alternatif untuk diversifikasi dan lindung nilai. 

Oleh sebab itu, banyak yang berkesimpulan emas memang bukanlah aset yang menarik untuk digunakan sebagai investasi. Namun tetap saja, emas masih menarik punya peranan untuk diversifikasi serta lindung nilai ketika kondisi ekonomi tidak kondusif dan pasar sedang goyah.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading