Masih Mimpi Emas Bakal ke US$ 3.000? Yuk Cek Dulu Faktanya

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
26 November 2020 09:45
FILE PHOTO: An employee sorts gold bars in the Austrian Gold and Silver Separating Plant 'Oegussa' in Vienna, Austria, December 15, 2017.  REUTERS/Leonhard Foeger/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga logam mulia emas mengalami kenaikan pada perdagangan pagi hari ini, Kamis (26/11/2020). Namun kenaikan yang terjadi tidaklah signifikan dan harga emas masih enggan beranjak dari level terendah dalam lima bulan terakhir.

Pada 09.10 WIB, harga emas dunia di arena pasar spot menguat 0,32% dari posisi penutupan perdagangan kemarin ke level US$ 1.811,21/troy ons. Apabila sampai akhir perdagangan level ini dipertahankan maka emas berada di harga terendahnya sejak 18 Juli 2020.


Sentimen positif seputar perkembangan vaksin Covid-19 sangatlah kuat sehingga mendorong aset-aset berisiko seperti saham terbang dan investor pun melego aset minim risiko seperti emas. Konsekuensinya harga emas pun drop signifikan. 

Aksi jual emas membuat harga logam kuning ini hampir menyentuh level US$ 1.800/troy ons di bulan November. Jika dibandingkan dengan level tertingginya pada Agustus lalu di US$ 2.063/troy ons. Harga emas sudah ambles 12,2% secara point to point.

Untuk pergerakan harga emas ke depannya banyak analis yang memiliki perbedaan pandangan. Sebagian masih bullish sementara sebagian lagi cenderung bearish. Westpac meramal bahwa harga emas bisa jatuh ke US$ 1.650 dalam dua tahun mendatang.

Sementara Bank of America (BoA) yang tadinya bullish dan memproyeksi harga emas bakal ke US$ 3.000/troy ons kini menjadi netral. Kemungkinan adanya tiga vaksin yang sangat efektif pada tahun 2021 telah mengubah lanskap pasar emas, menurut analis di Bank of America Securities.

Dalam presentasi prospek 2021 BoA, Francisco Blanch, kepala penelitian komoditas & derivatif global, dan Michael Widmer, ahli strategi logam di bank, mengumumkan perubahan signifikan dalam perkiraan emas mereka untuk 2021. Bank tidak lagi mengharapkan harga mencapai US$ 3.000/troy ons.

"Kami sekarang netral terhadap emas," kata Blanch. "Kami melihat risiko kenaikan suku bunga jangka panjang." tambahnya, sebagaimana diwartakan Kitco News.

"Ketika ekonomi global terbuka, emas menghadapi lebih banyak tantangan, membuatnya sulit untuk mencapai US$ 3.000/oz, tetapi stimulus fiskal dan moneter yang sedang berlangsung akan mendorong logam kuning ke atas US$ 2.000 / oz lagi," kata analis bank pada tahun 2021.

Berbeda dengan Westpac dan BoA, Presiden dari Blue Line Futures  Bill Baruch justru masih cenderung bullish terhadap emas. Dalam wawancaranya dengan Kitco News, ia memperkirakan harga emas masih bisa tembus ke US$ 2.300/troy ons.

"Saat emas mendekati level US$ 1.800 per ons, sekarang akan menjadi saat yang tepat untuk perlahan-lahan membangun posisi long menuju US$ 2.300, yang masih dalam kartu untuk tahun 2021" katanya. 

Ya, pasar masih terus mencari sinyal arah pergerakan harga emas ke depan di tengah sentimen yang campur aduk seperti sekarang. Adanya stimulus jilid II, wabah Covid-19 yang tak kunjung mereda akan positif bagi emas. 

Sementara jika vaksin yang efektif dan aman ditemukan hingga didistribusikan sehingga ekonomi bisa rebound maka ini menjadi malapetaka bagi emas. 

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading