Begini Strategi Investasi Dana Pensiun Saat Pandemi Covid-19

Investment - Monica Wareza, CNBC Indonesia
14 September 2020 16:37
ADPI: Tujuan Konsolidasi Jadi Faktor Penting Penggabungan Dapen BUMN  (CNBC Indonesia TV) Foto: ADPI: Tujuan Konsolidasi Jadi Faktor Penting Penggabungan Dapen BUMN (CNBC Indonesia TV)

Jakarta, CNBC Indonesia - Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) mengatakan dalam situasi yang tidak pasti seperti saat ini, dana pensiun lebih memilih strategi moderat dengan mempertahankan portofolio yang sudah ada. Aktifitas transaksi di pasar modal yang dilakukan dana pensiun tidak terlalu agresif dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. 

Ketua APDI Suheri mengatakan koreksi nilai portofolio yang terjadi pekan lalu, tak sedalam koreksi yang terjadi pada masa awal pandemi Covid-19 melanda Idnonesia. Asosiasi optimistis menunggu momentum yang lebih baik untuk masuk ke pasar modal dan memilih portofolio yang menarik.

"Saya kira sebagian besar dapen sudah antisipasi dalam kondisi seperti ini menahan portofolio saham atau reksadana, sampai situasi kondusif kembali," kata Suheri kepada CNBC Indonesia, Senin (14/9/2020).


Dia menekankan, posisi investasi dana pensiun berorientasi jangka panjang, ketika terjadi volatilitas dalam waktu singkat tidak serta merta membuat dapen merubah alokasi investasinya secara drastis.

Sebelumnya, Suheri menyebutkan bahwa penempatan dana investasi dana pensiun di saham dan reksa dana umumnya dilakukan untuk jangka panjang. Sehingga jika investasi yang rugi tersebut tak direalisasikan ketika posisi turun maka tak akan ada kerugian yang ditanggung perusahaan

Selain itu, pemilihan saham-saham juga menjadi perhatian. Sejauh ini, saham-saham yang likuid dan baik fundamentalnya sudah menjadi 'pakem' di industri ini.

Sementar itu kalangan manajer manajer investasi juga optimistis situasi pasar keuangan domestik akan membaik. Direktur Utama PT Samuel Asset Management (SAM) Agus Basuki Yanwar mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun depan akan lebih baik, kendati tahun ini diperkirakan akan tumbuh negatif atau cenderung flat saja.

"Secara umum, meskipun tahun ini GDP kita berpotensi negatif atau flat, investor sudah melihat bahwa tahun 2021 ada perbaikan di GDP dan EPS growth, sehingga IHSG sampai dengan akhir tahun ini masih ada potensi menguat ke 5.400 - 5.600," kata Agus kepada CNBC Indonesia, Senin (14/9/2020).

Untuk itu, strategi investasi MI dengan ekspektasi perbaikan ekonomi tahun depan lebih memilih saham-saham yang berpotensi mendapatkan keuntungan dengan kondisi tersebut (proxy to recovery).

Selain itu, emiten dengan neraca keuangan yang kuat juga menjadi pilihan untuk penempatan aset saat ini.

"Sektor pilihannya adalah perbankan, telekomunikasi, healthcare, retail, consumers, logistics," kata dia.


[Gambas:Video CNBC]

(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading