Laris Manis, Pemesanan ORI017 Sudah Lampaui Target

Investment - Rahajeng Kusumo Hastuti, CNBC Indonesia
07 July 2020 12:59
Kemenkeu RI Raih The Best Ministry di CNBC Indonesia Award 2019 (CNBC Indonesia TV)

Jakarta, CNBC Indonesia- Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan mulai membuka masa penawaran Obligasi Negara Ritel atau ORI seri ORI017. Masa penawaran ORI017 dibuka hari ini, Senin (15/6/2020) dan ditutup pada 9 Juli 2020, dengan masa jatuh tempo pada 15 Juli 2023.

Direktur Surat Utang Negara DJPPR Deni Ridwan mengatakan minat masyarakat terhadap ORI 017 ini sangat besar, hal ini terlihat dari pemesanan yang diperkirakan sudah melebihi target penerbitan senilai Rp 10 Triliun. Apalagi ORI 017 bersifat tradable atau bisa diperdagangkan kembali setelah masa holding period.

"Target awal Rp 10 triliun, tapi sepertinya hari ini sudah tembus," kata Deni kepada CNBC Indonesia belum lama ini.


Dia menilai jenis investasi seperti ini cocok untuk masa sekarang, terutama melihat karakteristik kebutuhan masyarakat di masa pandemi. Masyarakat selain ingin berinvestasi juga membutuhkan rasa aman, dan berjaga-jaga sebagai dana yang mudah dicairkan.

"Jadi memang paling cocok ORI dibanding SBR (Saving Bond Ritel). Apalagi 2019, sejumlah investor yang banyak beli milenial," ujar Deni.

Adapun kupon yang ditawarkan untuk ORI 017 sebesar 6,4%. Artinya, investor yang membeli atau berinvestasi melalui ORI 017 akan mendapatkan imbal hasil sebesar 6,4% per tahun. ORI017 merupakan seri ORI ke-17 yang diterbitkan oleh pemerintah dan penjualannya bisa dilakukan secara online. Minimal pembeliannya juga relatif kecil yaitu Rp 1 juta dan maksimal Rp 3 miliar.

Deni juga berpesan agar berinvestasi di pos yang tepat, dan memahami risiko investasi. "Yang pasti-pasti saja di ORI 017 selain aman, cuannya juga, dan bisa bahu membahu bantu negara atasi Covid-19," tambahnya.

Selain itu, sebelum berinvestasi harus dipahami setidaknya ada 3 resiko dalam investasi, termasuk pada ORI. Pertama gagal bayar, namun untuk ORI potensi ini bisa dinilang 0 karena pembayaran bunga pokok jatuh tempo dijamin Undang-undang.

"Jadi Meski pemerintahan ganti, tak akan mengubah komitmen pembayaran," kata Deni.

Kedua adalah risiko pasar. Dalam investasi ada naik turun, sebagai salah satu acuannya adalah suku bunga Bank Indonesia (BI). Jika Suku bunga acuan naik, maka bunga deposito akan naik. Ketiga adalah risiko likuiditas. Pada tabungan, suku bunga yang diperoleh nasabah sangat kecil hanya 1%, kecuali deposito yang bisa ditempatkan dengan jangka waktu 3,6 sampai 9 bulan. Namun, deposito tak bisa diambil sewaktu-waktu karena ada jatuh tempo.

"Kalau ORI hanya 2 bulan pertama, ada holding period. Makanya untuk cocok masa sekarang, penawaran saat ini di masa pandemi masyarakat butuh penempatan dana yang aman, sebagai jaga-jaga ini mudah dicairkan," ujar Deni.


[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading