Harga Ambles 3 Hari, Ternyata Ini Penyebab Emas Antam Memudar

Investment - Haryanto, CNBC Indonesia
15 April 2020 18:00
Emas Antam (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas yang diproduksi PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau emas Antam dalam 3 hari perdagangan terakhir membukukan penurunan 1% atau sebesar Rp 9.000/gram menjadi Rp 894.000/gram pada Rabu ini (15/4/2020) dari Senin (13/4) Rp 903.000/gram.

Harga ini adalah acuan untuk emas 100 gram. Sementara khusus harga 1 gram emas
Antam sempat mencapai rekor baru di Rp 963.000/gram yang tercatat pada tanggal 7 April 2020 lalu.

Jika merujuk dari harga 1 gram Rp 943.000 hingga Rabu ini, harga emas Antam telah anjlok 2,07% sebesar Rp 20.000/gram dari rekor harga tersebut.

Adapun pada Senin pekan ini, harga 1 gram emas di level Rp 952.000, mengacu data situs logammulia milik Antam. Artinya dalam 3 hari, hanya sekali emas Antam naik yakni di Senin sebesar Rp 1.000/gram, sementara Selasa dan Rabu ini melorot.

Timbul pertanyaan, kenapa harga emas Antam bisa turun mengingat sebagai aset safe haven mestinya harga emas berada pada tren penguatan di tengah pandemi virus corona yang semakin meluas. Apalagi harga emas global juga dalam tren positif di tengah kekhawatiran pertumbuhan ekonomi global yang diprediksi menuju jurang resesi.



Salah satu sentimen yang hari ini mewarnai pasar keuangan dan pasar saham dalam negeri ialah kabar terbaru dari Dana Moneter Internasional (IMF). Ramalan terbaru IMF bertajuk 'The Great Lockdown' menyatakan bahwa ekonomi global bakal mengalami kontraksi tajam hingga minus 3% di tahun ini, jauh lebih buruk sejak krisis keuangan yang terjadi di 2008-2009.

"Virus corona dan upaya negara-negara untuk mengendalikannya telah menempatkan ekonomi global pada jalur resesi terburuk sejak Depresi Hebat (Great Depression)," kata Gita Gopinath, Kepala Ekonom IMF, Selasa (14/4), dilansir CNBC International.

"[Upaya menangani virus corona ini] dapat menelan kerugian kumulatif US$ 9 triliun dalam kegiatan ekonomi selama tahun 2020 dan 2021, lebih besar dari ukuran ekonomi Jepang dan Jerman jika digabungkan," tegas Gita.

'Terpapar' sentimen IMF ini, harga emas dunia di pasar spot justru menikmati keuntungan. Harga emas spot dunia sejak 7 April hingga penutupan perdagangan Selasa (14/4) justru meroket 4,81% menjadi sebesar US$ 1.727,7/troy ons, mengacu data Refinitiv.

Seharusnya ketika harga emas dunia melonjak, harga emas Antam bisa mengikutinya, tetapi ini malah sebaliknya.

Kok bisa?

Salah satu penyebabnya ialah, ketika harga emas dunia melonjak alias menguat, ternyata mata uang Garuda juga mengalami penguatan sejak 7 April ketika berada di level Rp 16.125/US$.

Jadi jika dihitung-hitung hingga penutupan perdagangan Rabu ini, rupiah sudah menguat 3,69% sebesar Rp 575/US$ yang sekarang berada di level Rp 15.550/US$.

Mari kita hitung lebih lanjut.

Sebelum menghitung kita harus mengetahui beberapa konsep dasar. Harga yang tertera adalah dalam satuan US$ dengan berat troy ons pada harga emas dunia.


Kita harus mengubah berat troy ons ke satuan berat gram. Dari satuan berat gram baru kita konversi nilai US$ tersebut ke rupiah. 1 troy ons ekuivalen atau sama dengan 31,1034768 gram (Untuk kemudahan kita ambil angka 31,1 gram).

Jadi, jika harga emas dunia di pasar spot per hari ini pukul 15:30 WIB yang berada di level US$ 1.713/troy ons dibagi dengan 31,1, maka didapat US$ 55,08 per gram.

Nah, harga emas dunia per gram ini kita kalikan dengan nilai tukar rupiah saat ini di Rp 15.550/US$ hasilnya adalah Rp 856.500/gram. Padahal saat ini harga emas Antam per 1 gramnya berada di Rp 943.00/gram jauh lebih tinggi dari harga seharusnya.

Oleh sebab itu, bukan karena aset safe haven yang satu ini kehilangan kinclongnya, melainkan ada faktor nilai tukar rupiah yang menguat 3,69% terhadap dolar AS.

 

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

 



(har/har)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading