Mau Tenang Berinvestasi? Ada nih Investasi yang Bebas Risiko

Investment - Yazid Muamar, CNBC Indonesia
28 October 2019 10:33
Mau Tenang Berinvestasi? Ada nih Investasi yang Bebas Risiko Foto: Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Seringkali kita mendengar penipuan investasi, entah berkedok koperasi, perusahaan fintech, bahkan tour travel yang menawarkan jasa ibadah yang ujung-ujungnya adalah penipuan dan membuat korbannya menderita.

Berinvestasi apapun itu, tentu harus disadari bahwa risiko (risk) selalu membayangi. Penting juga bagi calon investor untuk meningkatkan literasi dengan mengetahui terlebih dahulu produk investasi yang ingin dibeli, apakah sudah resmi, terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) atau masih abu-abu?

Di pasar saham, orang mengenal investasi ini berisiko tinggi tetapi punya potensi keuntungan yang juga tinggi alias high risk high return. Dalam hal ini saham menjadi urutan teratas untuk investasi pasar modal dalam kaitannya dengan high risk high return ini. Beberapa lainnya yakni waran, reksa dana, dan ETF (reksa dana yang bisa diperdagangkan di bursa atau exchange traded fund).



Namun di pasar modal sebenarnya ada juga instrumen investasi yang rendah risiko, bahkan keuntungan instrumen ini bersifat tetap atau fixed. Investasi tersebut ialah Surat Berharga Negara (SBN) alias surat utang yang diterbitkan oleh negara, Pemerintah Indonesia.

Tentu karena ini yang menerbitkannya adalah negara, bukan perusahaan (yang biasa dikenal dengan obligasi korporasi), maka pembayarannya menjadi jaminan utama. Seringkali instrumen investasi SBN ini dianggap bebas risiko (risk free).

SBN ini ada yang bersifat konvensional dan ada yang sifatnya syariah, ada pula yang menyasar investor korporasi atau institusi, ada pula membidik pasar baru yakni ritel.

Untuk yang konvensional yakni Surat Utang Negara alias SUN yang biasa menjadi buruan dari para investor institusi asing dan lokal. Institusi lokal bisa berasal dari perusahaan asuransi, fund manager, dana pensiun, dan Bank Indonesia. Investor asing bisa dari fund manager luar, bank global dan pemerintah negara lain.

Adapula Surat Perbendaharaan Negara (SPN) dan global bond dengan denominasi beragam, ada yen jepang (Samurai Bond) dan yuan China (Dim Sum Bond).

Adapun untuk SBN ritel ada Obligasi Negara Ritel (ORI), Saving Bond Ritel (SBR).

Sedangkan yang bersifat syariah atau dikenal dengan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) yakni Sukuk Negara, Islamic Fixed Rate (IFR), Surat Perbendaharaan Negara Syariah (SPNS), Sukuk Dana Haji Indonesia (SDHI), Project Based Sukuk (SBSN PBS), dan Sukuk Valas (SV).

Untuk syariah ini, ada pula versi yang membidik investor ritel yakni: Sukuk Ritel (Sukri) dan Sukuk Tabungan.

Khusus instrumen yang ditujukan bagi masyarakat luas atau dijual secara ritel atau eceran yakni ORI, SBR, Sukri, dan sukuk tabungan.

Instrumen tersebut bisa diperoleh oleh masyarakat luas melalui  agen penjual berupa bank, perusahaan efek, dan fintech sehingga pembelian bisa dilakukan dengan online.


Sebagai contoh, awal Oktober lalu, Kementerian Keuangan kembali menerbitkan ORI seri 016 dengan tingkat kupon 6,8%. Instrumen investasi ini ditujukan bagi investor ritel domestik.

Direktur Surat Utang Negara Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, Loto Srinaita Ginting mengutarakan, instrumen ini dapat diperdagangkan di pasar sekunder dan sudah dapat dibeli secara daring (online), berbeda dengan penerbitan pada 2018 yang masih offline.

"Investor bisa membeli ORI 016 mulai Rp 1 juta, maksimal Rp 3 miliar," kata Loto, dalam acara peluncuran di Jakarta, Rabu (2/10/2019).

Penjualan ORI-016 sudah difasilitasi oleh 14 bank, empat sekuritas, dan lima perusahaan keuangan berbasis teknologi atau fintech. Fintech tersebut terdiri dari dua perusahaan fintech peer to peer lending (P2P) dan tiga fintech berizin khusus sebagai agen penjual reksa dana (Aperd).

Beberapa bank penjual di antaranya PT Bank Central Asia Tbk (BCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Permata Tbk (BNLI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN), hingga
 PT Bank Commonwealth.

Adapun sekuritas yang menjual ORI-016 di antaranya PT Danareksa Sekuritas dan PT Bahana Sekuritas.

ORI-016 akan ditawarkan pada 2 Oktober-24 Oktober dan difinalkan pada 28 Oktober. Penyelesaian penawaran (settlement) akan dilakukan pada 30 Oktober 2019.

Kendati demikian, pilihan investasi tetap berada di tangan Anda. Karena pada faktanya, ada pula negara (bukan Indonesia ya) yang gagal membayar utangnya alias default.

(yam/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading