Pascademo 22 Mei, Penurunan Yield SUN Catat Rekor Baru

Investment - Irvin Avriano A, CNBC Indonesia
24 May 2019 21:58
Pascademo 22 Mei, Penurunan Yield SUN Catat Rekor Baru
Jakarta, CNBC IndonesiaHarga obligasi rupiah pemerintah ditutup menguat signifikan hari ini, sekaligus membuat yield seri acuan mengalami penurunan terbesar sejak 26 Februari.

Naiknya harga surat utang negara (SUN) itu seiring dengan perkembangan kondusifnya pilpres pascabentrok yang terjadi Rabu malam. Kenaikan harga di pasar obligasi rupiah pemerintah tersebut seiring dengan apresiasi yang terjadi di mayoritas pasar surat utang pemerintah negara berkembang yang lain.


Data Refinitiv menunjukkan menguatnya harga SUN itu tercermin dari empat seri acuan (benchmark) yang sekaligus menurunkan tingkat imbal hasilnya (yield). Pergerakan harga dan yield obligasi saling bertolak belakang di pasar sekunder.


Yield juga lebih umum dijadikan acuan transaksi obligasi dibanding harga karena mencerminkan kupon, tenor, dan risiko dalam satu angka.

SUN adalah surat berharga negara (SBN) konvensional rupiah yang perdagangannya paling ramai di pasar domestik, sehingga dapat mencerminkan kondisi pasar obligasi secara umum.

Keempat seri yang menjadi acuan itu adalah FR0077 bertenor 5 tahun, FR0078 bertenor 10 tahun, FR0068 bertenor 15 tahun, dan FR0079 bertenor 20 tahun. Seri acuan yang paling menguat adalah FR0079 yang bertenor 20 tahun dengan penurunan yield 20,1 basis poin (bps) menjadi 8,45%. Besaran 100 bps setara dengan 1%.

Seri acuan 10 tahun yang paling dilihat pelaku pasar obligasi domestik maupun global mengalami penurunan 11,9 bps, tertinggi sejak akhir Februari silam.

Pascademo 22 Mei, Penurunan Yield SUN Catat RekorYield obligasi negara (Foto: CNBC Indonesia)

Apresiasi SBN hari ini juga membuat selisih (spread) obligasi rupiah pemerintah tenor 10 tahun dengan surat utang pemerintah AS (US Treasury) tenor serupa mencapai 560 bps, menyempit dari posisi kemarin 569 bps. Yield US Treasury 10 tahun turun hingga 2,32% dari posisi kemarin 2,35%.

Terkait dengan pasar US Treasury, saat ini masih terjadi inversi pada tenor 3 bulan-10 tahun yang menjadi indikator yang lebih menegaskan kembali bahwa potensi resesi AS semakin dekat dibanding inversi tenor lain.

Inversi adalah kondisi lebih tingginya yield seri lebih pendek dibanding yield seri lebih panjang.

Inversi tersebut membentuk kurva yield terbalik (inverted yield curve), yang menjadi cerminan investor yang lebih meminati US Treasury seri panjang dibanding yang pendek karena menilai akan terjadi kontraksi jangka pendek, sekaligus indikator adanya potensi tekanan ekonomi bahkan hingga krisis.

Pascademo 22 Mei, Penurunan Yield SUN Catat RekorYield US Treasury (Foto: CNBC Indonesia)

Terkait dengan porsi investor di pasar SBN, data Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu (DJPPR) terakhir menunjukkan investor asing menggenggam Rp 949,69 triliun SBN, atau 38,18% dari total beredar Rp 2.487 triliun berdasarkan data per 21 Mei.

Angka kepemilikannya masih positif Rp 56,44 triliun dibanding posisi akhir Desember Rp 893,25 triliun, sehingga persentasenya masih naik dari 37,71% pada periode yang sama. Meskipun demikian, sepanjang Mei, investor asing tercatat sudah keluar dari pasar SUN senilai Rp 12,88 triliun.

Penguatan di pasar surat utang hari ini juga terjadi di pasar ekuitas yang menguat 0,41%. Dari pasar surat utang negara berkembang, penguatan terjadi secara luas yaitu di Brasil, China, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Afsel. Di negara maju, penguatan hanya terjadi di pasar OAT Perancis dan JGB Jepang.

Saat ini pelaku pasar masih mencermati mundurnya Perdana Menteri Theresa May dari kursi pimpinan pemerintahan Inggris Raya malam ini, terkait dengan kegagalannya dalam mengamankan proses Brexit.

Pascademo 22 Mei, Penurunan Yield SUN Catat RekorYield obligasi tenor 10 tahun negara berkembang (Foto: CNBC Indonesia)


TIM RISET CNBC INDONESIA


(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading