Serba-serbi Xiaomi, Ponsel China yang Raih Popularitas Global

Fintech - Ester Christine Natalia, CNBC Indonesia
29 June 2018 13:40
Serba-serbi Xiaomi, Ponsel China yang Raih Popularitas Global
Jakarta, CNBC Indonesia - Xiaomi didirikan delapan tahun lalu di Beijing, dan segera menjadi raksasa teknologi global.

Kini, perusahaan itu adalah pemain terbesar keempat di pasar ponsel pintar (smartphone) dunia, menurut peneliti pasar International Data Corporation (IDC). Perusahaan itu sempat menduduki tempat ketiga setelah Apple dan Samsung sebelum digeser oleh sesama perusahaan China, Huawei.

Produk Xiaomi tidak terbatas pada smartphone saja. Dalam kunjungan baru-baru ini ke toko Xiaomi di Hong Kong, CNBC International melihat para konsumen mencoba ponsel dan jam tangan pintar (smart watches) yang terletak di tengah-tengah produk seperti dompet, bantal, dan penanak nasi.


Perusahaan memperoleh sebagian besar pendapatannya dari penjualan ponsel pintar, tetapi juga memperluas cakupannya ke produk lain, seperti streaming musik dan video.


Xiaomi dijadwalkan untuk melakukan penawaran umum perdana saham (initial public offering/ IPO) di Hong Kong awal Juli. Aksi korporasi itu diprediksi sebagai IPO terbesar di dunia setelah Alibaba melantai di Bursa Saham New York pada tahun 2014.

Di tahun 2017, penjualan Xiaomi tumbuh lebih dari 67% dari tahun sebelumnya sehingga membuat beberapa pihak menyebutnya sebagai "phoenix China".


Kurang terkenal di AS
Sementara Xiaomi kurang terkenal bagi konsumen-konsumen Amerika Serikat (AS), perusahaan ini aktif di 74 pasar dan memiliki hampir 15.000 karyawan. Mereka juga mengklaim lebih dari 300 juta orang menggunakan produk dan jasanya.

Meskipun begitu, Kepala Bisnis Internasional Xiaomi mengatakan kepada CNBC International bahwa perusahaannya berencana untuk memasuki pasar AS.


'Apple-nya China'
Seperti kebanyakan perusahaan, Xiaomi ingin smartphone-nya menjadi awal dari seluruh ekosistem teknologi bagi para penggunanya. Hal itu kemungkinan menjelaskan mengapa kadang perusahaan itu disebut sebagai 'Apple-nya China'.

Sementara itu, toko fisik, produk, dan presentasinya terkadang juga dibandingkan dengan Apple.


Kembali ke toko fisik
Ketika pertama kali didirikan, Xiaomi hanya menjual produk-produknya langsung ke konsumen secara daring (dalam jaringan/ online) demi mengurangi ongkos berlebihan.

Perusahaan berkata menghindari pengeluaran iklan dan mengandalkan konsumen setia untuk menyebarkan informasi.

Namun, penjualan tahun 2016 anjlok karena pemain di bidang ponsel terjangkau memasuki pasar dan perusahaan kesulitan menjangkau konsumen baru, khususnya yang tinggal di kota-kota kecil China.

Kini, perusahaan melebarkan sayapnya ke luar China, membuka toko-toko di Eropa - termasuk lokasi-lokasi di Milan dan Barcelona, serta membentuk kemitraan ritel di Inggris.

Xiaomi berencana untuk membuka 2.000 toko di seluruh dunia pada tahun 2019, sekitar setengahnya akan berada di China.


Penurunan penjualan smartphone global
Penjualan ponsel pintar global turun tahun lalu untuk pertama kalinya sejak 2009. Di China, pengiriman anjlok 21% dalam kuartal pertama tahun 2018.

Sementara pemberitaan tentang industri ini mengkhawatirkan para pemain smartphone, penjualan global Xiaomi sebenarnya melonjak 88% dalam kuartal pertama tahun ini, menurut IDC. Kinerja yang cukup memuaskan jika dibandingkan dengan sedikit penurunan yang dialami Samsung dan sedikit kenaikan di bisnis Apple. (prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading