CNBC Insight

Raja Kretek RI: Nitisemito Sang Raksasa Rokok Sebelum Djarum!

Entrepreneur - Petrik, CNBC Indonesia
07 March 2022 12:40
Cover Insight, Rokok

Jakarta, CNBC Indonesia - Ada banyak juragan kretek di Kudus pada abad lalu, mulai dari M. Nadiroen, Haji Muslich, Haji Ma'roef, Haji Nawawi dan Nitisemito adalah legenda dalam industri rokok racikan M. Djamhari.

Sebelum jadi juragan besar rokok kretek, Nitisemito adalah penjual daging kerbau. Selain itu dia pernah bertugas sebagai carik desa. Anak lurah ini tidak betah bekerja di pemerintahan. Dia kemudian menemukan dirinya cocok jadi pedagang.

Awalnya, seperti dicatat dalam buku Republik Indonesia Propinsi Djawa Tengah (1953), pada 1910 Nitisemito mulai membuat rokok sendiri secara kecil-kecilan.


Masa jaya Nitisemito dengan merek Bal Tiga tak datang dengan cepat.

Kesuksesan baru menghampirinya pada tahun 1922. Awal sejarah bisnisnya, dia menitipkan pengerjaan ke para pengrajin di kampung-kampung. Namun, kualitas yang kurang baik, membuatnya harus membangun pabrik di daerah Jati, Kudus, Jawa Tengah.

Rokok yang produksi Nitisemito bukan hanya Bal Tiga. Pabriknya kreteknya di Kudus juga memproduksi merek Gunung Kedu, Tebu & Cengkeh, Trio, dan Tiga Kaki.

Setelah rokoknya laku di pasaran, produksi rokoknya per hari mencapai 8 juta batang. Bisnisnya membesar dan pada 1934 ia mempekerjakan 10 ribu buruh. Kebesaran usahanya, membuatnya dikunjungi oleh Sri Susuhunan Pakubuwana X pada tahun 1936.

Di masa sudah jaya, Nitisemito adalah orang yang sadar pentingnya iklan untuk produknya. JA Noertjahyo dalam Seribu Tahun Nusantara (2000:284) menyebut Nitisemito memiliki Radio Vereniging Koedoes (RVK) yang dijadikannya sarana iklan rokok Bal Tiga.

Solichin Salam dalam Kudus Selayang Pandang (1995:92) menyebut Nitisemito "mempergunakan selebaran lewat udara dengan menyewa kapal terbang jenis Fokker pakai baling-baling seharga 150-250 gulden."

Pemikiran yang maju dari Nitisemito tak hanya dalam memasarkan produk, tapi membangun perusahaannya. Dia mengarahkan perusahaannya menjadi perusahaan modern. 

Di tengah kejayaannya, ketika Hindia Belanda terjangkit depresi ekonomi dunia, pemerintah kolonial menaikkan pajak perusahaannya hingga mencapai 350 ribu gulden.

Perusahaan Nitisemito pernah dituduh menggelapkan pajak sebesar 160 ribu gulden. Koran Nieuwsblad voor Sumatra (27/11/1939), perusahaannya berhutang pajak 75 ribu Gulden. Badai penggelapan pajak dan kenaikan pajak itu dilaluinya.

Perang Dunia II membuat bisnis Nitisemito dalam bahaya. Setelah tentara Jepang menduduki Indonesia, bisnis lesu. Di zaman Jepang, seperti disebut Orang Indonesia Terkemoeka di Djawa (1944:257), Nitisemito bekerja sebagai pedagang kretek dan menyewakan sewa rumah.

Setelah Indonesia merdeka, Nitisemito pabriknya dimulai lagi, namun perang Indonesia-Belanda membuatnya menjadi sulit. Mengembalikan kejayaan seperti di tahun 1922-1940 setelah 1945 menjadi hal mustahil baginya.

Nitisemito ingin perusahaannya berlanjut setelah kematiannya. Dia rela memungut Kasmani, karyawannya yang berbakat, dijadikan mantunya. Kasmani dijadikan manager pabrik, namun Kasmani lebih dahulu tutup usia daripada Nitisemito.

Selain Kasmani, Nitisemito juga berharap agar anaknya, Sumadji mau meneruskan bisnisnya. Hal itu jauh dari harapan karena Sumadji aktif di Masyumi daripada berbisnis.

Setelah tentara Belanda pergi dari Indonesia pada 1950, Nitisemito berjuang lagi membangun bisnis kreteknya. Produksinya terganggu karena cengkeh langka. Sementara itu Tiga Bal punya saingan lain setelahnya.

Usahanya benar-benar harus berakhir ketika dirinya tutup usia pada 7 Maret 1953. Hanya berselang 2 tahun setelah Oei Wie Gwan membeli sebuah pabrik rokok kretek kecil di Kudus pada 1951, yang menjadi cikal bakal kerajaan bisnis rokok Djarum.

Nitisemito yang merupakan kelahiran 1863 itu lalu dimakamkan di Krapyak, Kudus. Meski tak dalam masa jaya ketika tutup usia, koran De Locomotief (9/3/1953) menulis "sebelum perang (PD II), almarhum dikenal di seluruh Indonesia sebagai Raja Rokok Kretek."

 

TIM RISET CNBC INDONESIA

 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Raja Rokok RI: Kisah Bentoel Ganti Merek Gara-Gara Mimpi


(pmt/pmt)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading