CNBC Insight

Raja Rokok RI: Cerita Pabrik Djarum yang Jarang Orang Tahu!

Entrepreneur - Petrik, CNBC Indonesia
02 March 2022 13:25
Cover Insight, Rokok

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejarah merek rokok Djarum yang tersohor itu ternyata berawal bukan dari bisnis tembakau. Produk yang mengangkat pemiliknya sebagai orang terkaya di Indonesia punya sejarah yang panjang.

Ini berawal dari bisnis kembang api cap Leo yang ditekuni Oei Wie Gwan tak diteruskannya. Padahal kembang api cap Leo tidak kecil pasarnya. Jongki Tio dalam Kota Semarang Dalam Kenangan (2000:60) menyebut mercon cap Leo di ekspor pula ke luar negeri.

Bisnis kembang api punya risiko besar. Bataviaasch Nieuwsblad (28/1/1938) memberitakan bagaimana pabrik kembang api Oei Wie Gwan di Rembang meledak dan lima pekerja pabrik tewas seketika, 22 luka berat dan 14 luka ringan. Diantara yang luka berat, sembilan orang tewas di rumah sakit


Oei Wie Gwan kemudian memilih hidup barunya di dunia dagang setelah perang antara Indonesia dengan Belanda mereda. Oei Wie Gwan banting stir, meski barang dagangannya kali sama-sama harus dibakar untuk dinikmati pelanggannya. Kali ini Oei Wie Gwan bisnis rokok.

Oei Wie Gwan membeli sebuah pabrik rokok kretek kecil di Kudus pada 1951. Mulanya perusahaan rokok kecil itu namanya Djarum Gramophon ketika dibeli, namun kemudian disingkatnya menjadi Djarum. Pabrik berada di Jalan Bitingan Baru nomor 28 (kini Jalan Ahmad Yani) Kudus, Jawa Tengah.

Sama seperti bisnis sebelumnya, lagi-lagi api membuat repot dan mengganggu bisnis rokok Oei Wie Gwan. "Pada tahun 1963 terjadilah musibah kebakaran yang hampir menghancurkan perusahaan," tulis Rudi Badil dalam Kretek Jawa (2011:35). Peristiwa itu disusul dengan meninggalnya Oei Wie Gwan.

Meski begitu, usaha rokok Djarum yang dirintis Oei Wie Gwan itu tak ditinggalkan anak-anaknya. Dua anaknya, yang sudah punya nama Indonesia, Michael Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono, menurut Rudi Badil "berhasil memulihkan keadaan" hingga rokok Djarum bersaing di pasaran.

Kedua anak Oei Wie Gwan itu, menurut catatan Mark Hanusz dalam Kretek: The Culture and Heritage of Indonesia's Clove Cigarettes (2000:136&142) bahkan membangun bagian penelitian dan pengembangan terkait produk mereka sejak 1970 dan memakai mesin-mesin untuk meningkatkan produksi. Artinya keduanya serius dengan industri keluarganya. 

Setelah kematian Oei Wie Gwan, perusahaan rokok Djarum berinovasi. Mereka memasarkan produk kretek filter sejak 1976 dan pada 1981 mereka meluncurkan Djarum Super. Merek terakhir cukup diminati pasar hingga saat ini.

Kudus yang di zaman Nitisemito berjaya dengan rokok Tiga Bal sudah diramaikan industri kretek, di masa anak-anak Oei Wie Gwan memimpin Djarum, kota ini seolah dibuat menjadi kota bulutangkis. PB Djarum berdiri di kota itu dan anak-anak Oei Wie Gwan membina atlit bulutangkis berkat rokok.

Bisnis rokok mengantarkan anak-anak Oei Wie Gwan menjadi konglomerat. Mereka terjun elektronika (Polytron), perkebunan (HPI Argo), pusat perbelanjaan (Grand Indonesia), perdagangan elektronik (Blibli), agen perjalanan daring (tiket.com) dan di perbankan mereka pemilik Bank Central Asia (BCA).

Kebetulan pemilik awal BCA juga pernah tinggal di Kudus. Richard Borsuk dan Nancy Chng dalam Liem Sioe Liong dan Salim Group (2016:87) menyebut bahwa Liem dan Oei Wie Gwan adalah kawan lama.

 

TIM RISET CNBC INDONESIA

 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Raja Rokok RI: Kisah Bentoel Ganti Merek Gara-Gara Mimpi


(pmt/pmt)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading