Viral Ahli Fisika Ramal Bumi Kiamat Minggu Depan, Ini Faktanya

Novina Putri Bestari,  CNBC Indonesia
06 November 2026 19:20
Pemandangan Bumi yang diambil oleh astronot NASA dan komandan Artemis II, Reid Wiseman, dari salah satu dari empat jendela utama pesawat ruang angkasa Orion.  (NASA/Handout via REUTERS)
Foto: Pemandangan Bumi yang diambil oleh astronot NASA dan komandan Artemis II, Reid Wiseman, dari salah satu dari empat jendela utama pesawat ruang angkasa Orion. (NASA/Handout via REUTERS)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah tulisan artikel ilmiah lawas mendadak viral di internet. Judulnya sendiri adalah Doomsday: Friday, 13 November 2026 A.D. 2026, cukup menarik perhatian karena tidak ada yang tahu pasti kapan dunia berakhir selain Tuhan.

Sebenarnya artikel ini memprediksi soal kiamat karena populasi yang meledak. Kemungkinan jumlah orang di muka Bumi jauh lebih besar dari yang diperkirakan. Misalnya perkiraan PBB tahun 2025 menyebut populasi mencapai 8,2 miliar orang.

Penelitian mengenai model pelacakan populasi di masa depan dipimpin oleh Fisikawan Heinz von Foerster pada 1960. Saat itu, dia mengkhawatirkan populasi yang meningkat saat sumber daya yang tersedia juga terbatas.

Berbeda dengan saat ini, saat kekhawatiran berputar pada cara mengatasi populasi yang menua.

Tim peneliti Foerster melakukan pemodelan populasi di masa depan dengan perkiraan dari zaman Yesus hingga 1958. Trennya mengalami peningkatan.

Mereka menemukan tahun 2026 menjadi titik populasi meledak tak terhingga. Sementara 13 November kemungkinan adalah lelucon karena tanggal lahir Foerster.

"Untuk disebut kiamat, karena apada tanggal itulah N [jumlah manusia] menuju tak terhingga, dan populasi yang cerdas bakal memusnahkan diri sendiri. Cucu buyut tidak akan kelaparan, mereka akan mati kelaparan," jelasnya saat itu, dikutip dari IFL Science, Jumat (6/11/2026).

Tujuan penelitian kemungkinan untuk menjadi gagasan untuk mempertahankan populasi berkelanjutan di Bumi. Mungkin bisa dengan ssejumlah tindakan mengenai kesuburan.

Namun makalah itu juga memicu perdebatan. Peneliti Marvin Shinbrot pada 1961 menuliskan kesimpulan makalah tidak masuk akal.

"Terlalu menggelikan mengomentarinya, jika bukan karena contoh dari penggunaana matematika yang tidak bisa diterima untuk mendukung kesimpulan yang tidak masuk akal," ucapnya.

Di sisi lain, ulasan tahun 1990 menyebut makalah Foerster lebih akurat dari prediksi kebanyakan ahli demografi kontemporer. Setidaknya untuk sementara waktu.

(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Terbaru! Ada Ilmuwan Prediksi Kiamat, Paling Dekat November 2026


Most Popular
Features