Supermarket Diserang di Mana-Mana, Krisis Pangan di Depan Mata

Redaksi,  CNBC Indonesia
03 November 2026 14:05
Sejumlah supermarket di Paris, Prancis terkena serangan siber yang menyasar sistem pendingin pada Selasa (13/10/2026). (REUTERS/Lucien Libert)
Foto: REUTERS/Lucien Libert

Jakarta, CNBC Indonesia - Gelombang serangan peretasan (hacking) misterius meluas di benua Eropa. Kali ini, para peretas secara sengaja membobol dan mengacaukan sistem pengontrol suhu pada lemari pendingin (refrigerator) dan lemari pembeku (freezer) di puluhan ritel serta supermarket dari Swedia hingga Belgia, hingga memaksa toko-toko membuang pasokan bahan pangan dalam jumlah besar.

Serangan siber yang menaikkan suhu pendingin secara ekstrem ini menghantam jaringan supermarket raksasa Ahold Delhaize dan Colruyt di Belgia serta Luksemburg. Tak hanya itu, dua raksasa ritel bahan pangan Swedia, ICA dan Coop, serta satu gerai perabot rumah tangga asal Swedia, IKEA, turut mengonfirmasi bahwa operasional mereka menjadi korban peretasan.

"Semuanya hancur. Terjadi serangan siber dan seluruh freezer kami suhunya melesat naik hingga 50 derajat Celsius," ungkap Engla Ingwall, Manajer Penjualan franchise ICA di Stockholm, Swedia, dikutip dari Reuters, Selasa (3/11/2026).

Insiden ini mengekor serangan serupa yang melanda ratusan supermarket di Prancis bulan lalu, di mana pelaku menguasai pengontrol suhu unit pendingin hingga memicu kebakaran serta kehancuran stok bahan pangan massal.

Meskipun belum ada pihak atau kelompok tertentu yang mengklaim bertanggung jawab, serangan sistematis ini meningkatkan kewaspadaan tingkat tinggi bagi otoritas Eropa. Insiden ini dipandang sebagai ancaman hibrida (hybrid threat) yang sengaja menargetkan infrastruktur vital masyarakat di tengah memanasnya peta geopolitik kawasan sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.

Meski demikian, pihak Kremlin secara konsisten membantah keterlibatan mereka dalam operasi sabotase maupun perang siber.

"Belum diketahui pasti siapa aktor di balik serangan ini. Seluruh sistem IT berpotensi rentan, dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kini dapat dieksploitasi pelaku untuk membobol kelemahan tersebut," ujar Juru Bicara Pusat Keamanan Siber Belgia, Katrien Eggers.

Sektor Ritel Sasaran Empuk Sabotase Digital

Dari lemari es, sistem pemanas, hingga kamera keamanan dan alarm, berbagai perangkat industri yang dulunya bersifat mekanis kini telah terhubung ke jaringan internet (Internet of Things/IoT) dan dapat dikendalikan dari jarak jauh. Transisi digital ini rupanya membuka celah kejahatan siber baru.

Sejumlah unit pendingin yang lumpuh diketahui menggunakan teknologi pengontrol suhu buatan perusahaan asal Denmark, Danfoss-pemasok yang sama yang juga menjadi target serangan di Prancis.

Komisi Eropa menegaskan bahwa insiden ini merupakan ancaman serius yang berisiko mengganggu kestabilan ekonomi kawasan.

"Ini adalah upaya sengaja untuk merusak rantai pasok makanan dan mengikis kepercayaan konsumen. Ini adalah peringatan keras yang harus kita tanggapi secara serius," tegas Komisioner Pertanian Uni Eropa, Christophe Hansen.

Dampak peretasan ini juga menjalar hingga Irlandia, di mana grosir Musgrave terpaksa menarik produk dingin dari 13 gerai SuperValu. Sementara itu, di Belgia, Carrefour melaporkan 15 dari 700 tokonya terkena dampak, dan pemilik toko daging lokal De Laet & Van Haver mengaku mengalami kerugian hingga €15.000 (Rp304 juta) akibat produk daging busuk mendadak setelah suhu pendingin dinaikkan ke 18 derajat Celsius secara ilegal.

Peneliti keamanan siber dari SentinelOne, Tom Hegel, menguraikan bahwa ketiadaan tuntutan tebusan (ransomware) mengindikasikan bahwa motivasi utama serangan ini murni aksi sabotase industri atau operasi bermotif geopolitik dari pihak nation-state.

"Sektor ritel adalah sasaran yang sangat mudah karena mengoperasikan ribuan perangkat pengontrol suhu, sistem manajemen gedung, hingga perangkat kasir (point-of-sale). Peretas yang masuk ke panel kontrol terbuka hampir tidak meninggalkan jejak digital sama sekali," jelas Hegel.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Presiden Jadi Korban, Menteri Langsung Turun Tangan Lakukan Ini


Most Popular
Features