Hacker Serang Supermarket Eropa: Makanan Rusak-Dalangnya Misterius
Jakarta, CNBC Indonesia - Serangan peretas (hacker) melanda deretan supermarket di seluruh Eropa pada hari Senin. Insiden ini menyerang sistem lemari es dan pembeku dari Swedia hingga Belgia, memaksa toko-toko membuang makanan secara massal.
Mengutip Reuters, Selasa (3/11/2026), insiden tersebut secara mengejutkan langsung menaikkan suhu unit pendingin di puluhan toko. Serangan siber besar-besaran ini setidaknya berdampak pada grup supermarket Ahold Delhaize dan Colruyt di Belgia serta Luksemburg.
Jaringan ritel bahan makanan asal Swedia, ICA dan Coop, juga ikut menjadi korban dari peretasan terencana ini. Bahkan, jaringan ritel perabotan IKEA juga melaporkan bahwa setidaknya ada satu toko mereka yang ikut terdampak.
Manajer penjualan di toko waralaba ICA di Stockholm, Engla Ingwall, menyebut serangan itu terjadi pada pukul 2 dini hari.
"Semuanya hancur," kata Ingwall. "Telah terjadi serangan siber dan semua lemari es kami mencapai suhu 50 derajat (Celsius)."
Sementara itu, juru bicara ICA telah menyadari bahwa sejumlah kecil tokonya terkena dampak pada sistem pendingin dan pembeku secara tiba-tiba.
Ancaman Hibrida & Peran AI
Kejadian terbaru ini menyusul serangan di Prancis bulan lalu ketika peretas mengambil alih unit pendingin di ratusan supermarket. Insiden berskala besar saat itu bahkan sempat memicu kebakaran dan kerugian makanan bernilai tinggi.
Hingga kini tidak ada satu pun pihak yang mengklaim bertanggung jawab atas rentetan serangan siber tersebut. Namun, hal ini telah meningkatkan kekhawatiran otoritas Eropa tentang ancaman hibrida terhadap infrastruktur sipil sejak serangan Rusia ke Ukraina pada 2022.
Moskow sendiri telah berulang kali membantah tegas segala keterlibatan mereka dalam operasi sabotase atau perang hibrida. Juru Bicara Pusat Keamanan Siber Belgia Katrien Eggers juga mengaku tidak tahu secara pasti siapa dalang di balik serangan ini.
"Tidak diketahui siapa di balik serangan ini, dan mungkin tidak akan pernah bisa dipastikan," ucap Eggers.
"Semua sistem TI berpotensi rentan, dan AI kini dapat digunakan untuk berhasil mengeksploitasi kelemahan ini, terutama oleh aktor canggih."
Beberapa unit lemari es yang terkena dampak dilaporkan menggunakan teknologi pengatur suhu dari perusahaan Denmark, Danfoss. Teknologi tersebut sebelumnya juga ditargetkan dalam serangan di Prancis dan kini pihak perusahaan sedang berusaha keras memperbaikinya bersama pelanggan.
Komisaris Pertanian Uni Eropa Christophe Hansen turut buka suara mengenai insiden kelam yang menimpa fasilitas penyimpanan makanan di benua itu.
"Ini adalah upaya yang disengaja untuk mengganggu rantai pasokan makanan kita dan merusak kepercayaan konsumen di dalamnya, sebuah peringatan yang harus kita tanggapi dengan serius," tegasnya.
"Terjadinya serangan siber yang berulang ini sangat memprihatinkan."
Target Mudah Ritel Eropa
Di tempat lain, juru bicara Colruyt Group yang mengoperasikan supermarket Spar di Belgia mengatakan sistem lemari es di lima tokonya telah sukses diserang. Di Irlandia, pihak grosir Musgrave menyebut insiden tersebut memengaruhi operasional 13 toko SuperValu miliknya.
"Sistem pemantauan kami memberi tahu kami tentang masalah ini dan kami segera mengambil tindakan," paparnya.
"Penyelidikan kami sedang berlangsung."
Peneliti keamanan siber SentinelOne, Tom Hegel, mengaitkan serangan semacam ini dengan pemerasan, motif politik, atau operasi tingkat negara. Apalagi, tidak adanya tuntutan finansial dalam kasus-kasus terbaru ini justru lebih mengarah pada tindakan sabotase murni.
"Ritel adalah target yang mudah karena jaringan ritel menjalankan banyak sekali pengontrol pendingin, sistem manajemen gedung, panel akses pintu, dan peralatan titik penjualan," tutur Hegel.
"Seorang penyerang yang masuk ke panel kontrol yang terbuka hampir tidak meninggalkan jejak."
Ketakutan Para Pengusaha
Carrefour yang terpukul parah dalam serangan di Prancis bulan lalu mengatakan 15 dari 700 tokonya di Belgia ikut terdampak. Ritel kelontong swasta Swedia, Coop, juga menyebut 7 dari 800 tokonya terkena insiden perusakan sistem pendingin tanpa izin.
Pendiri jaringan toko daging Belgia De Laet & Van Haver, Luc De Laet, mengaku terbangun pukul 3.30 pagi karena masalah ini. Ia menemukan lemari es di tokonya di selatan Antwerpen mengalami kenaikan suhu tajam hingga mencapai 18 derajat Celsius.
Insiden tersebut memaksanya membuang banyak makanan dan ditaksir telah menghancurkan daging bernilai sekitar 15.000 euro (Rp 302.400.000). Ia pun meyakini bahwa peretas di balik insiden ini memang sengaja mencoba mengacaukan ekonomi benua Eropa.
"Sangat menakutkan," ucap De Laet.
"Mereka meretas sistem yang mencatat suhu, dan mereka dapat memprogramnya dari jarak jauh," paparnya.
"Saya hanya punya dua kata untuk mereka: tolong bangun, karena ada sesuatu yang sedang terjadi."