WhatsApp dan Telegram Mulai Ditinggalkan, Gen Z Pindah ke Penggantinya

Redaksi,  CNBC Indonesia
02 November 2026 12:50
Ilustrasi whatsapp (REUTERS/DADO RUVIC)
Foto: Ilustrasi whatsapp (REUTERS/DADO RUVIC)

Jakarta, CNBC Indonesia - Fenomena unik kini tengah melanda Gen Z di tengah cepatnya arus komunikasi digital. Alih-alih mengandalkan kepraktisan aplikasi pesan instan konvensional, anak muda zaman sekarang justru ramai-ramai beralih ke platform perpesanan yang sengaja memperlambat pengiriman pesan, bahkan membawa risiko pesan tersebut hilang di jalan.

Melalui aplikasi seperti Carrier Pidge dan Roost, pengiriman pesan digital disimulasikan mirip dengan pengantaran oleh merpati pos virtual yang melintasi angkasa, sebagaimana dilaporkan Yahoo Tech, dikutip Senin (2/11/2026).

Tren tak biasa ini perlahan mulai menggoyang dominasi platform raksasa seperti WhatsApp dan Telegram di pasar global.

Mekanisme kerjanya dirancang tidak biasa. Alih-alih terkirim dalam sekejap, aplikasi akan menerbangkan burung merpati virtual untuk membawa pesan dari pengirim ke penerima dengan kecepatan rata-rata 177 kilometer per jam. Untuk jarak dekat, pesan mungkin tiba dalam hitungan detik. Namun, jika dikirim antarbenua, penerima harus bersabar menunggu hingga berjam-jam.

Tak berhenti di situ, pengalaman berkirim pesan ini juga dibumbui elemen kejutan. Ada peluang sebesar 0,2% bagi sang merpati untuk "tersesat" di jalan, membuat pesan tersebut raib dan tidak pernah sampai sama sekali.

Aplikasi besutan pengembang Noah Iarrobino ini sejatinya dirancang hanya dalam kurun waktu sekitar tiga minggu. Bahkan, dalam deskripsinya di toko aplikasi, sang pencipta secara blak-blakan melabeli karyanya sebagai aplikasi yang "tidak berguna" dan "benar-benar tidak praktis".

Kendati demikian, justru aspek absurd inilah yang memikat hati Gen Z. Pengguna diajak bernostalgia ke masa lalu, di mana sebuah pesan bukan sekadar notifikasi yang lewat begitu saja, melainkan sesuatu yang dinantikan kedatangannya dengan penuh rasa penasaran.

Sensasi Menunggu yang Dirindukan

Saat tombol kirim ditekan, pengguna disuguhkan tampilan peta interaktif yang memvisualisasikan pergerakan merpati melintasi jarak menuju sang penerima. Sensasi antisipasi semacam ini mustahil ditemukan di WhatsApp, Telegram, maupun aplikasi perpesanan konvensional lainnya.

Pada aplikasi konvensional, pesan instan sering kali langsung kehilangan maknanya begitu terkirim dan dibaca sekadarnya. Sebaliknya, sistem merpati virtual ini mengubah proses menunggu menjadi bagian utama dari pengalaman berkomunikasi.

Fenomena ini rupanya bukan sekadar keisengan musiman. Aplikasi serupa berjuluk Roost bahkan sukses meraup 300.000 pengguna hanya dalam hitungan minggu setelah resmi meluncur. Angka ini membuktikan bahwa jutaan orang kini secara sadar memilih untuk "mengerem" kecepatan komunikasi digital mereka.

Pergeseran tren ini mencerminkan perubahan psikologis masyarakat dalam memandang interaksi sosial. Selama bertahun-tahun, paradigma komunikasi digital selalu berpatokan pada prinsip "semakin cepat, semakin baik".

Namun pada praktiknya, kemudahan yang berlebihan justru menguras energi. Banyak orang terbiasa mengetik tanpa berpikir panjang, membalas seadanya, hingga mengalami kepenatan mental (burnout) tatkala tuntutan untuk merespons pesan datang tanpa henti.

Dengan sengaja memperlambat laju informasi, beban psikologis untuk membalas seketika otomatis lenyap. Para pengirim dipaksa merangkai kata lebih matang sebelum menekan tombol kirim, sementara penerima memiliki ruang dan waktu untuk mencerna pesan sebelum menjawab. Komunikasi akhirnya kembali menemukan nilainya, bukan sekadar rentetan respons otomatis yang melelahkan.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Gen Z Mulai Tinggalkan WhatsApp-Telegram, Chat Pakai Cara Baru


Most Popular
Features