Gen Z Ogah Balas Chat Cepat, WhatsApp dan Telegram Mulai Ditinggalkan

Redaksi,  CNBC Indonesia
16 September 2026 18:00
Ilustrasi orang bermain handphone. (Getty Images/filadendron)
Foto: Ilustrasi orang bermain handphone. (Getty Images/filadendron)
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah dunia modern yang menuntut segalanya serba instan dan cepat, sebuah tren tak biasa justru lahir dari kalangan Generasi Z. Secara perlahan, anak-anak muda mulai meninggalkan aplikasi pesan instan konvensional dan beralih ke aplikasi komunikasi yang sengaja dibuat lambat-bahkan dengan risiko pesan hilang di tengah jalan.

Fenomena unik ini diulas dalam laporan Yahoo Tech beberapa saat lalu. Aplikasi bernama Carrier Pidge dan Roost mendadak jadi sorotan setelah menawarkan pengalaman berkirim pesan seolah-olah dibawa oleh burung merpati pos. Tren "jadul tapi baru" ini mulai mengikis dominasi platform mapan seperti iMessage di Amerika Serikat maupun WhatsApp di berbagai belahan dunia lainnya.

Cara Kerja Unik, Kembali ke Masa Lalu

Mekanisme pengiriman pesan di aplikasi ini terbilang anti-mainstream. Saat tombol kirim ditekan, aplikasi tidak langsung menyampaikan pesan ke ponsel penerima.

Sebaliknya, sebuah animasi burung merpati virtual akan "terbang" membawa pesan tersebut dari pengirim ke penerima dengan kecepatan rata-rata 177 kilometer per jam. Untuk jarak dekat, pesan mungkin tiba dalam hitungan detik. Namun, jika dikirim antarbenua, penerima harus bersabar menunggu hingga berjam-jam lamanya.

Tak hanya lambat, ada bumbu ketegangan di dalamnya: terdapat peluang 0,2% bahwa burung tersebut "tersesat" dan pesan dipastikan gagal sampai ke tujuan.

Aplikasi besutan pengembang muda Noah Iarrobino ini sejatinya hanya dirancang dalam kurun waktu sekitar tiga minggu. Di toko aplikasi, sang kreator bahkan dengan blak-blakan menyebut karyanya sebagai aplikasi yang "tidak berguna" dan "benar-benar tidak praktis".

Kendati demikian, justru aspek absurd inilah yang memikat hati para pengguna. Alih-alih sekadar notifikasi instan yang kerap diabaikan, pesan kini bertransformasi menjadi sesuatu yang dinanti-nantikan kehadirannya.

Sensasi Menunggu yang Bikin Ketagihan

Saat pesan dikirimkan, pengguna disuguhkan layar peta interaktif yang memantau pergerakan si merpati menuju titik penerima. Sensasi deg-degan menanti kedatangan pesan ini sama sekali tidak bisa ditemukan di WhatsApp, Telegram, maupun aplikasi pesan instan lainnya.

Di aplikasi biasa, begitu tombol kirim ditekan, pesan langsung muncul dan sering kali langsung dilupakan begitu saja. Sebaliknya, sistem merpati pos ini membuat proses "menunggu" menjadi inti dari pengalaman berkomunikasi itu sendiri.

Bukan sekadar iseng, tren ini terbukti memiliki pasar yang masif. Aplikasi serupa bernama Roost tercatat sukses meraup 300.000 pengguna hanya dalam hitungan minggu setelah diluncurkan. Artinya, ratusan ribu orang secara sadar memilih untuk "merem"" laju komunikasi digital mereka.

Menghapus Stres "Harus Balas Cepat"

Fenomena ini menjadi sinyal adanya pergeseran cara pandang masyarakat terhadap komunikasi digital. Selama ini, paradigma umum meyakini bahwa komunikasi yang ideal adalah yang paling cepat.

Namun, kemudahan berlebihan itu kerap memicu kejenuhan. Orang jadi terbiasa mengirim pesan tanpa berpikir panjang, membalas seadanya, hingga merasa tertekan secara psikologis (chat fatigue) jika tidak merespons dalam waktu singkat.

Dengan sengaja memperlambat tempo pengiriman, tekanan untuk selalu siaga langsung menguap. Pengirim dipaksa merangkai kata dengan lebih matang, sementara penerima memiliki ruang dan waktu luang untuk merespons tanpa beban. Komunikasi digital pun dikembalikan ke esensi utamanya: memiliki nilai personal yang bermakna, bukan sekadar aliran data otomatis yang melelahkan.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]
Next Article WhatsApp dan Telegram Ditinggalkan, Gen Z Mulai Pindah ke Penggantinya


Most Popular
Features