Kejayaan AI Runtuh di China, Begini Kondisi di Indonesia
Jakarta, CNBC Indonesia - Gelembung kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di China dikabarkan pecah hingga menghapus kapitalisasi pasar senilai Rp8.700 triliun. Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan optimisme korporasi di Indonesia terhadap pemanfaatan AI, khususnya untuk meningkatkan efisiensi operasional dan pengelolaan keuangan perusahaan.
Survei HSBC Redefining Treasury in Asia Pacific: Voices of Treasury 2026 menunjukkan bahwa manajer keuangan korporasi di Indonesia justru menjadi salah satu kelompok paling optimistis di Asia Pasifik terhadap manfaat AI. Sebanyak 84% responden di Indonesia memperkirakan AI akan memberikan manfaat signifikan bagi pengelolaan keuangan (treasury) dalam tiga tahun mendatang. Angka tersebut jauh melampaui rata-rata Asia Pasifik yang sebesar 72%.
Head of Global Payments Solutions HSBC Indonesia, Anne Suhandojo, mengatakan bahwa pihaknya memanfaatkan AI untuk meningkatkan efisiensi proses internal dan membantu karyawan menyelesaikan pekerjaan rutin. Dengan demikian, perkembangan eksternal seperti pecahnya gelembung AI tidak menjadi faktor utama yang memengaruhi strategi penggunaan teknologi tersebut di HSBC Indonesia.
"Di HSBC sendiri, AI menjadi enabler agar staf HSBC dapat bekerja dengan lebih efisien. Jadi, apa yang digantikan oleh AI? Tugas-tugas rutin (routine task), misalnya. Kami memiliki AI untuk customer service. Yang digantikan bukan peran customer service-nya, melainkan proses pembuatan email-nya. Itu pekerjaan AI," terang Anne saat Media Briefing Survei HSBC: Tren Adopsi AI di Korporasi Indonesia di WTC 3, Kamis (29/10/2026).
Anne menegaskan, pemanfaatan AI tidak ditujukan untuk mengurangi jumlah sumber daya manusia (SDM) di perusahaan. Sebaliknya, teknologi tersebut diharapkan dapat membantu karyawan bekerja lebih produktif sehingga kapasitas kerja perusahaan meningkat.
Optimisme serupa juga terlihat di kalangan korporasi. Chief Financial Officer (CFO) Shipper Group, Leonard Pontoh, menilai AI dapat meningkatkan kualitas tenaga kerja dengan mengalihkan fokus karyawan dari pekerjaan administratif menuju tugas yang membutuhkan pemikiran dan analisis yang lebih mendalam.
"Kami meng-upgrade karyawan yang tadinya mengerjakan hal-hal terlalu klerikal menjadi lebih analitis (thinker) dibandingkan administratif," ucapnya.
Menurut Leonard, penerapan AI juga sejalan dengan upaya perusahaan mengurangi penggunaan kertas. Shipper Group telah menerapkan penggunaan dokumen dalam format digital (soft copy) sehingga kebutuhan akan dokumen fisik semakin berkurang.
"Jadi jauh lebih paperless, jauh lebih ramah lingkungan (green), dan tidak perlu lagi ada hard copy," pungkasnya.
Hal senada disampaikan oleh Head of Finance ATIC Group (PT Anabatic Technologies Tbk./ATIC), Minto Hartati. Pihaknya juga telah menerapkan penggunaan dokumen berbentuk soft copy untuk mendukung aktivitas operasional perusahaan.
Adapun survei HSBC mencatat bahwa adopsi AI untuk pengelolaan treasury di Indonesia relatif lebih maju dibandingkan negara-negara lain di kawasan. Sebanyak 34% manajer keuangan korporasi di Indonesia telah menggunakan AI agent untuk mengotomatisasi proses transaksi treasury, hampir dua kali lipat dibandingkan rata-rata Asia Pasifik yang sebesar 17%.
Sementara itu, hanya 7% perusahaan di Indonesia yang belum mengadopsi AI untuk fungsi treasury. Persentase tersebut lebih rendah dibandingkan rata-rata Asia Pasifik yang mencapai 19%.
Tingginya optimisme tersebut tidak terlepas dari kebutuhan korporasi dalam mengelola transaksi keuangan di tengah volatilitas nilai tukar dan suku bunga. Survei HSBC menunjukkan bahwa pengelolaan risiko dari pergerakan kedua variabel tersebut menjadi salah satu prioritas utama perusahaan dalam 12 bulan ke depan, baik di Indonesia maupun di pasar Asia Pasifik.
Meski demikian, perusahaan masih menghadapi sejumlah tantangan untuk memperluas implementasi AI. Sebanyak 80% responden Indonesia menyebutkan integrasi dengan sistem yang sudah ada sebagai hambatan utama, lebih tinggi dibandingkan rata-rata Asia Pasifik sebesar 70%.
Hambatan lainnya mencakup keterbatasan tenaga ahli dan risiko implementasi, yang masing-masing disebutkan oleh 40% responden. Selain itu, 33% responden menyoroti masalah biaya, sedangkan 27% lainnya menilai kualitas data masih menjadi kendala.
Tantangan juga muncul dalam upaya mewujudkan pengelolaan treasury secara real-time. Hampir separuh atau 48% manajer keuangan di Indonesia menyebutkan persetujuan anggaran untuk implementasi sistem sebagai salah satu tantangan terbesar. Sementara itu, 37% responden menyoroti risiko keamanan serta upaya meyakinkan para pemangku kepentingan mengenai manfaat perubahan tersebut.
Dengan demikian, meski risiko dan tantangan implementasi masih membayangi, korporasi di Indonesia tetap melihat AI sebagai instrumen untuk meningkatkan efisiensi dan memperkuat pengelolaan keuangan. Fokus perusahaan kini tidak hanya pada adopsi teknologi, tetapi juga pada cara mengintegrasikannya ke dalam sistem yang sudah ada agar manfaatnya dapat dirasakan secara optimal.
(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]