Satelit NASA Hancur Lebur Jatuh ke Bumi, Astronom Berduka
Jakarta, CNBC Indonesia - Salah satu satelit observatorium luar angkasa legendaris NASA, Neil Gehrels Swift Observatory, bersiap mengakhiri perjalanannya secara dramatis. Setelah hampir 22 tahun mengorbit dan mengukir berbagai penemuan monumental, wahana antariksa ini diproyeksikan akan jatuh dan terbakar di atmosfer Bumi pekan depan akibat kegagalan misi penyelamatan.
Upaya pendorongan orbit (orbit boost) yang diluncurkan pada Juli lalu berakhir gagal setelah wahana penyelamat kehilangan kendali dan berputar tanpa arah sebelum mencapai sasaran. Dampaknya, Swift meluncur kian rendah hingga tak lagi mampu mengunci target pengamatan astronomisnya.
Pekan lalu, Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA) secara resmi mematikan seluruh operasional sains Swift. Sejumlah peneliti memperkirakan observatorium ini akan menembus atmosfer Bumi pada 2 November, dengan mayoritas badannya terbakar habis dan menyisakan sedikit puing yang jatuh ke lautan.
"Kami semua tentu merasa sangat sedih. Jelas ada rasa duka," ujar Ketua Tim Operasi Sains Swift di The Pennsylvania State University, Caryl Gronwall, mengutip laporan Nature, dikutip Rabu (28/10/2026).
Jejak Emas Penyingkap Misteri Alam Semesta
Sejak mengorbit, Swift awalnya dirancang khusus untuk mengamati gamma-ray bursts (GRB), yakni kilatan radiasi berenergi tinggi yang menjadi ledakan paling dahsyat di alam semesta. Sepanjang kariernya, Swift berhasil mengidentifikasi hampir 2.000 ledakan GRB.
Pada 2017, Swift mencatatkan sejarah saat mengamati dampak tabrakan dua bintang neutron. Pengamatan tersebut membuktikan teori ilmiah bahwa peristiwa tabrakan bintang superpadat merupakan asal-usul pembentukan elemen berat bernilai tinggi di alam semesta, seperti emas dan platina.
Tak hanya itu, Swift juga aktif mengamati fenomena supernova, pergerakan komet, hingga menyingkap cara lubang hitam menghasilkan semburan energi raksasa saat menelan bintang.
"Portofolio ilmiah observatorium ini berkembang dan bertumbuh jauh melampaui tujuan awal perancangannya," kata Peneliti Utama Swift di Goddard Space Flight Center NASA, Brad Cenko.
Tinggalkan Celah di Industri Antariksa
Kehilangan Swift meninggalkan celah besar bagi komunitas astronom global. Sesuai namanya (swift yang berarti cepat), observatorium ini dikenal sangat lincah karena mampu merespons fenomena baru di langit hanya dalam hitungan menit. Kecepatan ini jauh melampaui teleskop luar angkasa berukuran besar seperti Hubble yang memiliki antrean tugas rumit.
Kendati demikian, NASA memastikan warisan sains Swift tidak akan hilang begitu saja. Swift merupakan salah satu proyek pertama NASA yang membuka seluruh data pengamatannya secara publik.
"Ada sejumlah besar data ilmiah Swift di dalam arsip yang masih bisa digali oleh publik untuk menghasilkan penemuan-penemuan baru di masa depan," pungkas Gronwall.
(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]