Roket Kebanggaan China Meledak, Satu Pulau Diselimuti Asap Tebal

Novina Putri Bestari,  CNBC Indonesia
12 August 2026 12:30
Sebuah rekaman saksi mata menunjukkan roket luar angkasa Tianlong-3 milik China tak sengaja lepas landas dan akhirnya jatuh. Dilaporkan peristiwa ini terjadi pada hari Minggu (30/6/2024) di Kota Gongyi, Provinsi Henan. (Tangkapan Layar Video Reuters/
Foto: Sebuah rekaman saksi mata menunjukkan roket luar angkasa Tianlong-3 milik China tak sengaja lepas landas dan akhirnya jatuh. Dilaporkan peristiwa ini terjadi pada hari Minggu (30/6/2024) di Kota Gongyi, Provinsi Henan. (Tangkapan Layar Video Reuters/)

Jakarta, CNBC Indonesia - Roket kebanggaan China, Long March 7A, meledak tak lama setelah diluncurkan. Ledakan besar itu memicu timbulnya asap tebal serta puing-puing berterbangan yang menyelimuti kawasan Hainan.

Long March 7A meluncur pada hari Senin waktu setempat dari Situs Peluncuran Luar Angkasa Wenchang. Sekitar 85 detik kemudian, roket tersebut meledak, sebagaimana dikutip dari Gizmodo, Rabu (12/8/2026).

Menurut media pemerintah, roket mengalami anomali yang tidak teridentifikasi selama penerbangan. Penyelidikan kini sedang dilakukan untuk mengetahui penyebab pasti ledakan tersebut.

Ledakan itu mengakibatkan hilangnya muatan satelit ChinaSat 4B, yaitu satelit komunikasi geostasioner yang didesain untuk menyediakan layanan internet dan penyiaran bagi pengguna.

Dampaknya, jadwal peluncuran roket lain, Zhuque-3, turut ditunda. CNN International melaporkan roket yang dikembangkan oleh perusahaan startup LandSpace tersebut sebelumnya dijadwalkan lepas landas pada hari Selasa dari Pusat Peluncuran Satelit Jiuquan.

Sebagai wahana angkut kelas menengah, Long March 7A pertama kali diluncurkan pada 16 Maret 2020. Sejak saat itu, belasan misi telah diselesaikan tanpa hambatan, termasuk pengiriman muatan eksperimental rahasia ke orbit transfer geosinkron setahun setelah debutnya.

Ledakan yang terjadi awal pekan ini menjadi kegagalan misi pertama bagi Long March 7A, di tengah pesatnya kemajuan industri antariksa China.

Miliarder sekaligus CEO SpaceX, Elon Musk, turut mengomentari insiden ini. Ia menyampaikan bahwa pembuatan roket memang sangat penuh tantangan dan berharap pihak China dapat segera bangkit dari kegagalan tersebut.

"Roket itu sangat sulit dibuat," tulisnya dalam sebuah unggahan di akun resmi media sosial X.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Dulu Upah Rp 500 Ribu Per Jam, Kini Hartanya Rp 17,8 Miliar


Most Popular
Features