Asia "Ditelan" Dolar AS: Rupiah, Won - Yen Melemah, 2 Negara Selamat
Jakarta, CNBC Indonesia - Tekanan kembali terasa pada pergerakan mata uang Asia pagi ini, Rabu (12/8/2026). Mayoritas mata uang kawasan melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), seiring greenback yang masih bertahan menjelang rilis data inflasi AS.
Merujuk data Refinitiv per pukul 09.14 WIB, dari 10 mata uang Asia, tujuh diantaranya melemah terhadap greenback. Sementara dua mata uang menguat dan satu lainnya stagnan.
Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia pada pagi ini. Won terkoreksi 0,28% ke posisi KRW 1.415,05/US$.
Rupiah juga masuk zona merah. Mata uang Garuda melemah 0,22% ke posisi Rp17.870/US$.
Peso Filipina turut melemah 0,16% ke posisi PHP 61,326/US$, disusul dolar Singapura yang turun 0,09% ke SGD 1,28/US$.
Baht Thailand terkoreksi 0,06% ke posisi THB 33,14/US$, sementara yen Jepang melemah tipis 0,04% ke JPY 159,33/US$. Yuan China juga turun tipis 0,01%.
Di sisi lain, dolar Taiwan menjadi mata uang dengan penguatan paling tinggi di Asia. Dolar Taiwan naik 0,08% ke posisi TWD 32,204/US$.
Dong Vietnam juga menguat tipis 0,01% ke posisi VND26.131/US$. Adapun ringgit Malaysia bergerak stagnan di posisi MYR 4,090/US$.
Tekanan terhadap mayoritas mata uang Asia pagi ini tidak lepas dari dolar AS yang masih menguat. Indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.10 WIB terpantau menguat tipis 0,03% ke posisi 99,861.
Meski kenaikannya terbatas, pelaku pasar masih berhati-hati menjelang rilis data inflasi AS pada Rabu waktu setempat. Data tersebut menjadi salah satu agenda utama pekan ini karena dapat memberi petunjuk baru mengenai arah suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed).
Sebelumnya, data tenaga kerja AS yang melemah dari perkiraan belum cukup untuk menghapus keraguan pasar terhadap langkah The Fed berikutnya. Kondisi ini membuat pelaku pasar masih menunggu konfirmasi tambahan dari data inflasi.
Di sisi lain, ketegangan di Timur Tengah kembali menjadi perhatian setelah adanya serangan terhadap jalur pelayaran penting. Harga minyak ikut naik, dengan Brent menguat 0,8% ke US$89,61 per barel.
Kenaikan harga minyak membuat risiko inflasi kembali dicermati. Analis ING menilai masih ada ruang bagi inflasi untuk mereda pada sisa 2026, dengan syarat harga minyak tetap terkendali dan Selat Hormuz kembali dibuka.
"Ada jalan bagi pelonggaran inflasi sepanjang sisa 2026, dengan asumsi harga minyak tetap terkendali dan Selat Hormuz dibuka kembali," tulis analis ING, dikutip dari Reuters.
Namun, sikap The Fed masih belum sepenuhnya jelas. Presiden The Fed Chicago Austan Goolsbee mengatakan bank sentral AS lebih khawatir terhadap inflasi yang terlalu tinggi dibandingkan pelemahan pasar tenaga kerja.
Pelaku pasar pun masih terbelah dalam membaca langkah The Fed berikutnya. Fed funds futures memperhitungkan peluang 52% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada rapat yang berakhir 16 September. Sementara peluang kenaikan suku bunga 25 basis poin berada di 48%, menurut CME Group FedWatch Tool.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)