Bahasa Tanaman Sudah Bisa Diterjemahkan, Alatnya Dijual Buat Petani

Redaksi,  CNBC Indonesia
22 October 2026 17:50
Budidaya tanaman kopi di Hutan Kota Pesanggrahan Sangga Buana, Lebak Bulus, Jakarta, Selasa (20/10/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Budidaya tanaman kopi di Hutan Kota Pesanggrahan Sangga Buana, Lebak Bulus, Jakarta, Selasa (20/10/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Siapa sangka tanaman ternyata punya cara "berbicara". Setiap kali butuh air, cahaya, atau nutrisi, tanaman mengirimkan sinyal listrik di dalam tubuhnya. Sebuah perusahaan rintisan kini berhasil menciptakan kecerdasan buatan yang mampu menerjemahkan sinyal tersebut, sehingga petani akhirnya tahu apa yang sebenarnya dirasakan tanaman mereka.

Ide ini bermula dari penemuan sederhana. Ketika tanaman membutuhkan lebih banyak cahaya, jaringan hidupnya mengeluarkan aliran listrik halus. Sinyal itu dulu belum dipahami, tetapi kini sebuah perusahaan bernama Electric Plant mengembangkan alat perekam dan model kecerdasan buatan bernama Bombadil yang mampu menerjemahkannya menjadi bahasa manusia.

Alat berupa sensor kecil dipasang menembus lapisan kulit batang pohon atau tanaman, menangkap perubahan tegangan listrik yang sangat kecil, lalu mengirimkan data ke sistem awan untuk diolah. Hasilnya, petani menerima pesan yang jelas misalnya bahwa tanaman sedang haus, kekurangan pupuk, atau kebutuhan cahayanya sudah terpenuhi.

Cara yang dipakai selama ini seperti mengukur kelembapan tanah atau memantau dari atas, hanya menebak apa yang dibutuhkan tanaman. Alat baru ini mendengarkan langsung dari dalam tanaman itu sendiri. Hasilnya, pemberian air dan pupuk dapat disesuaikan dengan tepat waktu dan jumlah. Penggunaan air dapat dikurangi hingga 20% atau lebih, sedangkan hasil panen justru meningkat.

Sensor ini juga jauh lebih murah dibandingkan alat ukur yang sudah ada. Harganya puluhan dolar, bukan ribuan dolar seperti perangkat sejenis. Cukup beberapa sensor per hektar untuk memantau kondisi keseluruhan lahan.

Model Bombadil kini telah dilatih menggunakan data dari lebih dari 125 spesies tanaman yang berbeda, mulai dari pakis, pohon merah, tomat, bunga dahlia, hingga pohon raksasa. Pengembang menyebut ini sebagai model terluas yang pernah dibuat untuk memahami sinyal listrik makhluk hidup.

"Kami mendengarkan lebih dulu, sebelum mencoba berbicara. Dan mendengarkan adalah langkah pertama," ujar Justin Mast, pendiri Electric Plant seperti dikutip oleh TechCrunch. Perusahaan ini baru saja mendapatkan pendanaan awal sebesar US$ 11,2 juta untuk mengembangkan dan menyebarkan alat tersebut ke pasar.

Ke depannya, teknologi ini diharapkan tidak hanya memberi tahu petani kapan menyiram atau memberi pupuk. Jika dikembangkan lebih lanjut, mimpi para peneliti adalah terciptanya percakapan dua arah. Manusia tidak lagi sekadar merawat tanaman, tetapi benar-benar memahami apa yang dikatakan tumbuhan.

(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Prabowo Mau Kloning Sapi, Kejar Indonesia Swasembada Daging


Most Popular
Features