Internet Diam-Diam Bawa Perubahan Besar ke Masyarakat Sumba

Khoirul Anam,  CNBC Indonesia
21 October 2026 12:53
Menara BTS BAKTI Komdigi di Ngadu Langgi
Foto: Elvan Chandra

Jakarta, CNBC Indonesia - Perkembangan teknologi kini membawa perubahan besar pada masyarakat Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), dalam menjual hasil kerajinan. Jika sebelumnya para pedagang banyak mengandalkan wisatawan yang datang langsung, kini pembeli bisa dijangkau melalui ponsel dan media sosial.

Facebook, Instagram, hingga WhatsApp menjadi sarana baru untuk menawarkan kain tenun. Pembelinya pun tidak lagi terbatas pada wisatawan domestik, tetapi dapat menjangkau pasar luar negeri.

Perubahan ini salah satunya didukung oleh perkembangan infrastruktur telekomunikasi. Data Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Sumba Timur per 22 Januari 2026 mencatat sebanyak 96 menara Base Transceiver Station (BTS) milik BAKTI Komdigi yang tersebar di 22 kecamatan.

Kecamatan Tabundung memiliki jumlah BTS BAKTI terbanyak, yakni 10 unit, disusul Paberiwai sebanyak tujuh unit. Sementara itu, Kecamatan Kambata Mapambuhang, Mahu, Pandawai, dan Pinu Pahar masing-masing memiliki enam unit BTS.

Salah satu yang memanfaatkan infrastruktur tersebut adalah Mama Kiani, pedagang kain tenun di Kampung Raja Prailiu, tidak jauh dari pusat Kota Waingapu, Sumba Timur.

Setelah mulai memperkenalkan dan menawarkan kain tenun melalui media sosial, usaha keluarga Mama Kiani mendapat perhatian dan berkesempatan tampil di pameran kerajinan internasional INACRAFT 2026 di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, pada 7-11 Oktober 2026.

Mama Kiani bercerita, usaha keluarganya kini tidak hanya mengandalkan wisatawan yang datang langsung. Sejak 2022, mereka mulai memanfaatkan media sosial untuk memperluas penjualan.

"Jualan online sama jualan langsung di rumah," kata Mama Kiani dikutip Senin (19/10/2026).

Cerita serupa juga ditemukan di Kampung Adat Praiyawang, Desa Rende, Kecamatan Rindi, Kabupaten Sumba Timur.

Kampung ini menawarkan pengalaman wisata yang berbeda. Sejak 2025, Kampung Adat Praiyawang telah mendapatkan fasilitas akses internet melalui program BAKTI Komdigi.

Umbu Borung, salah satu tokoh masyarakat Kampung Praiyawang, menjelaskan kehadiran fasilitas tersebut dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, terutama untuk berkomunikasi dan membantu aktivitas penjualan kain tenun.

"Dengan hadirnya BAKTI AKSI itu sangat membantu sekali," ujar Umbu Borung.

Menurutnya, fasilitas akses internet yang tersedia membuat masyarakat lebih mudah mengakses internet untuk berbagai keperluan sehari-hari.

Internet juga mulai digunakan sebagai sarana pemasaran. Facebook menjadi salah satu platform yang paling banyak dimanfaatkan masyarakat Sumba, disusul Instagram dan TikTok.

"Biasanya Facebook. Facebook yang biasanya orang Sumba sering gunakan," katanya.

Kemudahan internet juga dirasakan oleh Rambu Magdalena, perempuan berusia 42 tahun yang sehari-hari membuat dan menjual kain tenun di Kampung Adat Praiyawang. Ia juga memanfaatkan Facebook untuk menawarkan kain tenunnya.

Selain membantu penjualan, internet memberikan kemudahan lain yang terasa langsung dalam aktivitas perdagangan, yakni pembayaran secara digital.

"Kalau tamu-tamu yang tidak bawa uang cash, dia bisa transfer," ujar Rambu.

(dpu/dpu) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Internet Lebih Mengerikan dari Dunia Nyata, Orang Tua Sering Tak Sadar


Most Popular
Features