China Siap Mengubah Dunia-Tendang Amerika, Begini Taktik Xi Jinping

Redaksi,  CNBC Indonesia
14 October 2026 21:00
Chinese President Xi Jinping speaks during a state dinner hosted by US President Donald Trump (R) in the East Room of the White House in Washington, DC, on September 24, 2026. President Xi is on a State visit to the United States from September 23 to
Foto: AFP/BRENDAN SMIALOWSKI
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - China tidak lagi sekadar menjadi "pabrik dunia" tempat memproduksi barang murah. Di bawah komando Presiden Xi Jinping, Negeri Tirai Bambu kini melancarkan strategi jangka panjang yang sangat agresif untuk merebut takhta sebagai kekuatan adikuasa sains dan teknologi dunia.

Dalam pertemuan tingkat tinggi di Shanghai beberapa saat lalu, Xi Jinping dengan tegas menginstruksikan para pembuat kebijakan regional, universitas, hingga lembaga riset untuk menempatkan riset fundamental di garda terdepan agenda nasional.

"Kita harus memanfaatkan setiap peluang, bangkit menghadapi tantangan, dan menempatkan riset dasar sebagai prioritas utama," kata Xi, dikutip dari Nature, Rabu (14/10/2026).

Arahan ini bukan sekadar retorika politik. Langkah tersebut merupakan bagian dari cetak biru kebijakan Rencana Lima Tahun (Five-Year Plan) terbaru China, yang berkomitmen menggelontorkan investasi raksasa ke sektor-sektor penentu masa depan, mulai dari kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), aplikasi kuantum, hingga fusi nuklir terkendali.

Dari Nol Menjadi Raksasa Sains

Transformasi China dalam lima dekade terakhir tergolong luar biasa. Pada 1978, ketika pintu ekonomi mulai dibuka bagi dunia luar, kontribusi ilmiah China di kancah global hampir tak terlihat, hanya menyumbang 0,02% dari total publikasi ilmiah internasional, menurut laporan Nature.

Kini, kurang dari setengah abad berselang, peta kekuatan telah berbalik drastis. China telah menjelma menjadi salah satu pembelanja terbesar di dunia untuk riset dan pengembangan (research and development/R&D), merajai jumlah pengajuan paten global, mendominasi teknologi nuklir serta biologi sintetik, hingga sukses menduduki puncak pemeringkatan Nature Index untuk pertama kalinya.

Tak hanya unggul di atas kertas, terobosan nyata China sukses meruntuhkan dominasi Barat. Mulai dari gebrakan model AI hingga keberhasilan bersejarah misi pengembalian sampel batuan dari sisi jauh Bulan (far side of the Moon).

Bahkan, laju penguasaan teknologi ini diprediksi bakal makin menggila. Pemerintah China menargetkan pertumbuhan belanja R&D publik dan swasta minimal 7% setiap tahun hingga 2030.

Langkah ini menciptakan kontras tajam dengan Amerika Serikat (AS), di mana dinamika politik dan wacana pemangkasan anggaran sains oleh pemerintahan Donald Trump justru dinilai melemahkan kapabilitas riset di negeri Paman Sam.

"Bagi Barat, jika bersaing dengan Jepang pada tahun 1980-an dirasakan seperti menghadapi badai, maka China akan mendatangkan gelombang tsunami di tahun-tahun mendatang," ujar Yanbo Wang, peneliti kebijakan sains dari Universitas Hong Kong.

Keunggulan Sistem Sentralisasi dan Raksasa Swasta

Salah satu senjata paling mematikan dalam strategi China adalah konsistensi jangka panjang. Menurut Zhang Lin, peneliti kebijakan sains dari Universitas Wuhan, sistem pemerintahan yang terpusat memungkinkan Beijing mengarahkan sumber daya raksasa secara konsisten ke sektor strategis, tanpa harus terombang-ambing oleh siklus politik praktis seperti yang kerap terjadi di Barat.

Strategi ini terbukti sukses diterapkan dalam ekosistem semikonduktor. Lewat suntikan dana talangan raksasa yang melibatkan ribuan triliun rupiah sejak 2014 dan berlanjut ke putaran ketiga senilai US$50 miliar pada 2024, China berhasil membangun rantai pasok cip mandiri secara utuh di tengah gempuran sanksi dagang Amerika Serikat.

Selain peran negara, raksasa teknologi swasta kini menjadi motor penggerak inovasi baru. Kebangkitan model bahasa besar (Large Language Model) asal Hangzhou, DeepSeek, yang sukses menandingi dominasi AI AS dengan biaya jauh lebih murah, menjadi bukti nyata ketangguhan ekosistem teknologi domestik China.

Kini, eksplorasi ruang angkasa, mulai dari operasional stasiun antariksa Tiangong hingga ambisi mendaratkan astronaut ke Bulan pada 2030, dipandang China bukan sekadar perlombaan geopolitik jangka pendek, melainkan strategi jangka panjang demi mengunci kedaulatan teknologi nasional.

Jalan Terjal Menuju Puncak

Kendati ambisinya kian tak terbendung, strategi transformasi China bukan tanpa celah. Para pengamat mencatat bahwa pendekatan serba cepat (go-fast approach) masih menyisakan pekerjaan rumah besar terkait pelanggaran integritas akademik dan etika riset.

Selain itu, kendati alokasi anggaran riset fundamental terus digenjot hingga menembus rekor 7,08% dari total anggaran R&D tahun lalu, angka tersebut masih berada di bawah AS, Jepang, serta Korea Selatan. Budaya akademik yang masih terjebak pada target kuantitas publikasi makalah juga menjadi tantangan tersendiri bagi China untuk melahirkan penemuan revolusioner sekelas peraih Nobel atau Penghargaan Turing.

Namun terlepas dari berbagai tantangan sistemik tersebut, satu hal yang pasti, strategi masif China telah berhasil mengubah gravitasi dunia sains dan teknologi global secara permanen.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Respons Tak Terduga China Setelah Trump Tiba-Tiba Rombak Nama AI


Most Popular
Features