Internasional

Menteri Keuangan Mohon-Mohon ke China Jelang Pertemuan Dua Presiden

Redaksi,  CNBC Indonesia
21 September 2026 13:40
Presiden China Xi Jinping memperlihatkan suasana kompleks bersejarah Zhongnanhai kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump usai pembicaraan mengenai perdagangan, Taiwan, dan Iran, Jumat (15/5/2026). (REUTERS/Evan Vucci/Pool)
Foto: Presiden China Xi Jinping memperlihatkan suasana kompleks bersejarah Zhongnanhai kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump usai pembicaraan mengenai perdagangan, Taiwan, dan Iran, Jumat (15/5/2026). (REUTERS/Evan Vucci/Pool)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan antara dua kekuatan raksasa dunia kembali mencair di meja perundingan. Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS), Scott Bessent, dan Wakil Perdana Menteri China, He Lifeng, resmi mengakhiri rangkaian pembicaraan tertutup di New York, pada Minggu (20/9).

Di balik meja hijau tersebut, Washington tampak melunak dan memohon adanya kerja sama konkret dari Beijing, khususnya terkait pembentukan mekanisme keamanan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI), serta kepastian komitmen dagang jelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pekan ini.

Bessent secara terbuka menyampaikan urgensi keterbukaan data kepada media usai pertemuan. Pihak Paman Sam mendesak agar rival utamanya itu bersedia keluar dari sikap tertutup demi mengantisipasi risiko global.

"Kami berpikir bahwa, seperti halnya aktivitas lintas batas lainnya, beralih dari ketertutupan menuju transparansi yang lebih besar antara kekuatan AI nomor satu dan nomor dua di dunia adalah hal yang sangat penting," ujar Bessent memohon kejelasan komitmen Beijing, dikutip dari Reuters, Senin (21/9/2026).

Meski Trump dan Xi sempat merintis wacana konsultasi AI di Beijing pada Mei lalu, forum tersebut sempat mandek tanpa kejelasan. Kini, AS kembali melempar proposal agar kedua negara mau mendirikan sistem pemberitahuan bersama untuk meredam ancaman insiden AI berstandar keamanan nasional.

Namun, respons China terpantau dingin. Kantor berita Xinhua hanya merilis pernyataan normatif bahwa pertemuan berlangsung "konstruktif" tanpa memberikan lampu hijau secara gamblang terhadap proposal AI Washington.

Minta Realisasi Dagang dan Pasokan Mineral

Tak hanya soal teknologi masa depan, delegasi AS juga dibuat gigit jari terkait berbagai janji manis Beijing yang hingga kini belum ditepati. Washington kembali menagih realisasi janji lama China untuk mendongkrak pembelian produk pertanian AS senilai US$17 miliar per tahun serta komitmen memborong lebih dari 200 unit pesawat Boeing.

Bahkan, di tengah rapuhnya hubungan dagang kedua negara, AS belum juga mendapat kepastian kelancaran pasokan mineral penting (critical minerals) bagi korporasi domestiknya. Padahal, Beijing sebelumnya telah berjanji melonggarkan keran ekspor tersebut lewat gencatan tahun lalu.

Di sisi lain, Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer, tampak berhati-hati menjaga asa agar KTT Trump-Xi pekan depan di Washington bisa berjalan mulus. Ia mengakui bahwa kerja sama kedua negara adalah harga mati demi stabilitas ekonomi global.

"Ini adalah dua negara paling berkuasa di bumi, baik dalam perdagangan maupun AI, dan sangat imperative (penting) bagi mereka untuk dapat bekerja sama," ungkap Greer.

Desakan Ketat di Tengah Tawar-Menawar Tarif

Dalam perundingan tersebut, AS dan China juga mengupayakan pengoperasian "Dewan Perdagangan" (Board of Trade) demi memangkas tarif barang-barang non-sensitif. AS berharap produk andalannya seperti energi, komoditas pertanian, dan alat kesehatan bisa mendapat karpet merah di pasar China.

Kendati demikian, jalan menuju perdamaian ekonomi ini masih terjal. Washington secara tegas menolak melonggarkan kontrol ekspor cip AI canggih dan mesin semikonduktor.

Di sisi lain, tekanan politik domestik di AS kian membara. Sejumlah politikus hingga industri otomotif mendesak pemerintahan Trump agar tetap menutup rapat pintu bagi masuknya pabrikan mobil asal China ke AS demi alasan keamanan nasional.

Kini, nasib kerja sama dua raksasa ekonomi ini sepenuhnya berada di tangan Donald Trump dan Xi Jinping yang dijadwalkan bakal bertatap muka langsung di Washington pada Kamis dan Jumat mendatang.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Presiden Bilang Orang yang Menentangnya Pasti Antek Asing


Most Popular
Features