Banyak Negara Sudah Siaga Penuh, Bank-Bank Dalam Bahaya Besar

Redaksi,  CNBC Indonesia
14 October 2026 12:20
Ilustrasi Dolar Amerika Serikat (AS) di Valuta Inti Prima (VIP) Money Changer, Menteng, Jakarta, Rabu (11/10/2023). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Ilustrasi Dolar Amerika Serikat (AS) di Valuta Inti Prima (VIP) Money Changer, Menteng, Jakarta, Rabu (11/10/2023). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Lonceng peringatan bahaya kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) resmi dibunyikan para regulator keuangan global. Otoritas perbankan di berbagai negara kini berada dalam status siaga penuh untuk membendung risiko siber tingkat lanjut, menyusul ancaman nyata dari agen AI otonom (rogue agents) yang dinilai berpotensi merontokkan stabilitas sistem keuangan global.

Laporan terbaru mengungkapkan bahwa pengawasan ketat tengah digencarkan oleh bank sentral dan otoritas regulasi di Amerika Serikat (AS) dan Eropa. Perkembangan AI canggih (frontier AI) dikhawatirkan memicu kerentanan masif, mulai dari aksi peretasan bank berbasis AI hingga lumpuhnya infrastruktur pembayaran internasional.

AS Wanti-Wanti Perbankan, Waspada Teknologi China

Di Amerika Serikat, tiga regulator utama termasuk Federal Reserve (The Fed) turun tangan mewanti-wanti bank-bank besar terkait pemanfaatan model AI canggih, dikutip dari Reuters, Rabu (14/10/2026).

Para regulator memburu jawaban mengenai sejauh mana bank menggunakan teknologi buatan China, pemanfaatan agen AI dalam sistem pertahanan siber, hingga aspek kendali atas sistem yang berjalan secara otonom.

Kantor Pengawas Mata Uang (OCC) dan Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC) menuntut kejelasan pengamanan, apakah manusia masih memegang kendali penuh (human-in-the-loop), serta bagaimana prosedur darurat untuk mematikan sistem AI jika lepas kendali.

Langkah ini menyusul insiden keamanan siber baru-baru ini. Perusahaan keamanan siber CrowdStrike melaporkan indikasi bahwa pihak di China menggunakan agen AI serta perangkat Claude Code milik Anthropic untuk meretas bank-bank di Korea Selatan. Sementara itu, platform AI Hugging Face juga sempat dibobol oleh agen AI otonom buatan OpenAI.

Eropa Pasang Kuda-Kuda, Ancaman Nyata dalam 6 Bulan

Sementara itu di Eropa, Bank of England (BoE) dan Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) mendesak perbankan untuk segera memperketat rencana pemulihan darurat (recovery plan). Otoritas Eropa khawatir laju perkembangan AI dapat mendatangkan malapetaka di pasar keuangan jauh lebih cepat dari perkiraan semula.

Bahkan, seorang eksekutif senior di salah satu bank besar Eropa memperingatkan bahwa potensi kerusakan masif pada sektor keuangan dapat terjadi dalam kurun waktu enam bulan ke depan.

Sebagai langkah pencegahan, ECB telah memberikan tenggat waktu bagi perbankan untuk merampungkan sistem pertahanan terhadap ancaman siber berbasis AI, termasuk membangun sistem pemulihan cadangan mandiri (bare metal recovery). Sistem ini dirancang terpisah sepenuhnya dari jaringan utama agar bank tetap bisa beroperasi jika sistem primer mereka lumpuh total diserang peretas.

"Untuk melindungi diri dari serangan, pemulihan yang cepat sama pentingnya dengan pencegahan," ujar Sukand Ramachandran, Managing Director & Senior Partner Boston Consulting Group (BCG).

"Tanpa salinan data penting yang bersih dan aman, serangan serius dapat mengunci nasabah dari akun mereka dan melumpuhkan sistem pembayaran di seluruh perekonomian," tegasnya.

IMF Ikut Bersuara

Ancaman serupa turut disoroti oleh Dana Moneter Internasional (IMF). Dalam peringatannya, IMF meminta pasar keuangan global untuk tidak "berpuas diri" di tengah masifnya adopsi teknologi.

Lembaga keuangan internasional tersebut memperingatkan bahwa serangan siber skala besar yang menargetkan institusi atau layanan vital dapat menghancurkan kepercayaan publik secara instan, mendesak para pembuat kebijakan untuk segera memperkuat kapasitas pertahanan siber nasional masing-masing negara.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Waspada HP Disadap dari Jarak Jauh, Kenali Malware Baru Super Canggih


Most Popular
Features