Dunia Dalam Bahaya, Layanan Pembayaran Global Sudah Siaga Penuh

Novina Putri Bestari,  CNBC Indonesia
30 September 2026 17:25
Kartu kredit dan logo visa. (REUTERS/Dado Ruvic/Illustration/File Photo)
Foto: Kartu kredit dan logo visa. (REUTERS/Dado Ruvic/Illustration/File Photo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Raksasa jaringan pembayaran global, Visa, mulai mengambil langkah siaga tinggi dalam menghadapi ancaman bahaya siber akibat perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence / AI). Sebagai bentuk mitigasi, perusahaan bahkan telah membuka sebagian kode sumber (source code) dari sistem pertahanan siber berbasis teknologi canggih miliknya.

Presiden Teknologi Visa, Rajat Taneja, mengungkapkan bahwa perusahaannya merasa harus bersikap waspada berkaca dari berbagai insiden keamanan siber yang terjadi sepanjang tahun ini. Ia mencontohkan celah kerentanan pada model AI Mythos buatan Anthropic yang sempat terbuka awal tahun ini, serta insiden serangan agen AI terhadap platform Hugging Face.

Ia mengaku tidak dapat memprediksi secara pasti seberapa besar dampak kehancuran yang akan terjadi jika insiden serupa menimpa infrastruktur pembayaran mereka, namun persiapan matang telah dilakukan sejak dini.

"Sulit memprediksi seberapa buruknya nanti, namun kami telah melihat cuplikannya," jelas Taneja, dikutip dari Reuters, Rabu (30/9/2026).

"Seringkali trailer jadi bagian terbaik dari sebuah film. Namun saya pikir ini jadi trailer kecil seperti apa filmnya nanti, jadi kita harus mempersiapkannya dan memiliki pola pikir mengakui kekuatan teknologi ini," imbuhnya.

Taneja juga mengingatkan bahwa serangan siber di masa depan diprediksi akan menjadi sangat adaptif. Serangan tersebut bahkan dinilai mampu berkembang secara otonom tanpa campur tangan manusia sama sekali, sehingga memberikan "kekuatan super" bagi para peretas.

"Jika pihak lawan memiliki agen [AI], maka pertahanan juga harus punya agen. Jika tidak, akan terjadi ketidakseimbangan," tegasnya.

Sebagai informasi, Visa memproses hingga satu miliar transaksi pembayaran setiap harinya dengan total nilai mencapai US$ 15 triliun per tahun. Dengan skala sebesar itu, potensi daya rusak dari serangan siber tentu berada di tingkat yang sangat mengkhawatirkan.

Seperti kebanyakan perusahaan global lainnya, Visa sendiri tidak menutup diri dan turut memanfaatkan teknologi AI. Perusahaan bahkan telah mulai menguji coba penggunaan agen AI untuk mempermudah penyelesaian proses belanja online bagi para pelanggannya.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Alarm Bahaya! Bank-Bank Siaga Hadapi Petaka Besar


Most Popular
Features