Sport Tourism RI Sumbang Rp39,5 T ke Ekonomi, MotoGP Kontribusi Rp5 T

Emir Yanwardhana,  CNBC Indonesia
30 September 2026 12:24
Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir di acara pelepasan kontingen Indonesia menuju Asian Games ke-20 Aichi Nagoya di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (9/9/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir di acara pelepasan kontingen Indonesia menuju Asian Games ke-20 Aichi Nagoya di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (9/9/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir mengungkapkan potensi ekonomi dari sport tourism atau pariwisata olah raga di Indonesia mencapai Rp39,5 triliun. Nilai itu masih relatif kecil jika dibandingkan potensi sport tourism secara global.

Hal ini diungkapkan dalam Peluncuran Buku Dampak MotoGP Mandalika dan Kickoff Desain Besar Pengembangan Industri Olahraga, di Kantor Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta, Rabu (30/9/2026).

"Kalau dari data yang kita lihat hari ini baru 0,5% dari pada nilai global yaitu kurang lebih Rp39,5 triliun. Inisiasi MotoGP Mandalika kontribusinya bisa Rp5 triliun," kata Erick Thohir, saat memberikan sambutan.

Dia menjelaskan bahwa olahraga memiliki potensi ekonomi yang besar, tapi sektor itu masih belum mendapatkan perhatian. Industri olahraga itu memiliki nilai ekonomi mencapai Rp8.000 triliun secara global, sedangkan sport tourism mencapai Rp9.500 triliun. Sedangkan potensi yang baru dirasakan baru 0,5% atau mencapai Rp39,5 triliun.

"Olahraga ini sangat potensi yang luar basa selama ini kadang kita overlook, kita tidak melihat potensinya," kata Erick.

Erick juga menjelaskan bahwa penyelenggaraan acara olahraga tidak hanya untuk pengembangan karakter bangsa, melainkan juga ada hitungan ekonomi yang besar dari dampak penyelenggaraan. Selain itu ada investasi infrastruktur yang terbangun yang memiliki nilai tak terhingga, seperti fasilitas olah raga di Gelora Bung Karno, Hotel Indonesia, hingga Tugu Selamat Datang.

Erick juga menjelaskan jajarannya sudah melakukan deregulasi aturan menjadi agar dapat mendorong dampak ekonomi dari penyelenggaraan acara olah raga. Selain itu juga adanya website Sport In Indonesia untuk memberikan akses mudah bagi wisatawan yang ingin berkunjung untuk menghadiri penyelenggaraan acara.

"(memiliki) Interkoneksi link ke Keimigrasian contoh, ada MotoGP dia bisa lihat masuk web Sport In Indonesia, dia lihat perlu visa gak, kalau perlu dia langsung klik masuk ke web menteri keimigrasian register visa. kita juga link tiketing, kita menjadi agregatir supaya kita beri kemudahan," katanya.

Dalam kesempatan itu juga, Menteri Pariwisata Widiyawati Putri Wardhana menjelaskan olah raga merupakan wisata potensial untuk menggerakan ekonomi. Dari hasil survei-nya, 44% wisatawan global rela ke luar negeri untuk menghadiri acara olah raga, dengan rata-rata pengeluaran mencapai US$1.500 per orang.

Sport tourism juga berkontribusi terhadap 10% total belanja wisata global, yang diperkirakan bakal bertumbuhan mencapai 17,5% di tahun 2030.

Di Indonesia, menurutnya perkembangan sport tourism diyakini akan berkembang. Terlihat dari gaya hidup sehat yang berkembang di masyarakat. Dari datanya 86% masyarakat Indonesia lebih proaktif menjaga kesehatan dari pada rata-rata masyarakat global, sebesar 70%.

"Sports tourism masih menjanjikan terlihat bukti nyata di berbagai hal," kata Widi.

Dia mencontohkan keberhasilan sport tourism di Indonesia seperti penyelenggaraan Hyrox Jakarta 2026 dengan peserta terbesar di Asia Pasifik dengan 35% peserta merupakan WNA. Selain itu Jakarta International Marathon juga berhasil mendatangkan 1.012 pelari internasional dari total peserta 45.500.

(emy/mij) [Gambas:Video CNBC]
Next Article BRI Dukung Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026


Most Popular
Features