Bom Waktu Data Center Siap Meledak, Rp 94.000 Triliun Langsung Menguap
Jakarta, CNBC Indonesia - Pembangunan pusat data atau data center yang berlangsung sangat masif di seluruh dunia ternyata menyimpan risiko besar. Analisis dari firma konsultan Bain & Co memperingatkan bahwa industri AI perlu menghasilkan pendapatan sebesar US$ 6 triliun atau sekitar Rp 94.000 triliun setiap tahunnya pada tahun 2031 agar modal yang sudah ditanamkan sebanding dengan hasilnya.
Jika tidak, seluruh investasi raksasa ini berisiko menjadi salah satu penyalahgunaan dana terbesar dalam sejarah, dikutip dari laporan Futurism, Jumat (2/10/2026).
Analisis ini menunjukkan bahwa pendapatan langsung dari layanan AI diperkirakan hanya akan menyumbang sekitar US$ 1,8 triliun dari target tersebut. Artinya, masih ada kekurangan sebesar US$ 4,2 triliun yang harus dicari dari tempat lain. Jumlah yang sangat besar ini memerlukan terobosan teknologi yang belum pernah terjadi sebelumnya, bahkan melebihi dampak yang dibawa oleh HP dan komputasi awan pada masanya.
David Crawford, penulis utama laporan sekaligus ketua praktik teknologi di Bain, menyatakan bahwa infrastruktur sedang dibangun jauh di depan permintaan yang sesungguhnya.
"Apa yang dibutuhkan industri ini adalah gelombang inovasi yang jauh lebih besar dibandingkan apa yang pernah dibawa oleh telepon seluler dan komputasi awan," ujarnya.
Untuk menutupi biaya pembangunan ini, pertumbuhan ekonomi global harus bertambah sekitar 1 persen setiap tahunnya hanya dari sektor AI saja. Pertanyaannya kini adalah apakah aplikasi dan manfaatnya akan hadir tepat waktu untuk mengembalikan kucuran modal tersebut?
Kekhawatiran ini pertama kali dikemukakan oleh investor Harris Kupperman dari Praetorian Capital setahun sebelumnya. Ia menegaskan bahwa perangkat di data center memiliki masa pakai yang singkat dan harus diganti secara berkala. Hanya untuk menutupi biaya penggantian dan pemeliharaan, industri memerlukan pendapatan triliunan dolar setiap tahunnya. Jika tidak, pembangunan data center hyperscale besar-besaran justru memperburuk keadaan.
"Jika perhitungannya tidak masuk akal, memperbesarnya tidak akan memperbaikinya. Itu hanya akan mengubah krisis industri menjadi krisis ekonomi nasional," ujarnya.
Pengeluaran raksasa teknologi seperti Microsoft, Amazon, Meta, dan Oracle diperkirakan mencapai US$ 780 miliar hanya pada tahun 2026 saja. Namun sejauh ini pendapatan yang dihasilkan dari AI belum cukup besar untuk menutupi investasi tersebut.
Jessica Wachter, pengajar keuangan di Universitas Pennsylvania, memperingatkan bahwa jika keajaiban pertumbuhan itu tidak terwujud, generasi mendatang akan melihat pembangunan data center ini sebagai "penyalahgunaan modal terbesar dalam sejarah."
(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]