China Kini Jadi Negara Nomor Satu Dunia, Amerika Sudah Kalah Telak
Jakarta, CNBC Indonesia - Perlombaan kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI) global makin menggelora. Persaingan sengit mengerucut pada dua negara utama, yakni Amerika Serikat (AS) dan China.
Raksasa teknologi AS dan China kejar-kejaran meluncurkan sistem AI paling canggih. Investasi besar-besaran untuk membangun infrastruktur data center AI, serta pengembangan chip AI, juga terus digeber.
Ada faktor lain yang tak kalah penting dalam menentukan siapa 'penguasa' AI di masa depan, yakni talenta AI. Dalam laporan terbaru yang dirilis Carnegie, China kini resmi mengukuhkan diri sebagai pusat kekuatan talenta AI global.
Negara kekuasaan Xi Jinping sukses melibas dominasi Barat dari sisi penciptaan sumber daya manusia unggulan. Pangsa talenta AI elit asal China, yang diukur berdasarkan asal institusi tempat mereka merengkuh gelar sarjana, meroket hingga menyentuh angka 57% pada 2025. Angka ini melonjak tajam sebesar 11 poin persentase dibanding periode 2022, jauh meninggalkan AS yang pangsanya justru merosot ke level 13%.
Peta sebaran talenta AI global. (Dok. Carnegie) Foto: (Dok. Carnegie) |
Pertarungan di "Lapisan Model" dan Perang Talenta
Dalam empat tahun terakhir sejak ChatGPT pertama kali dirilis, ledakan industri AI telah mencapai tingkat yang sangat tinggi, memicu pertumbuhan ekonomi global sekaligus memantik kekhawatiran terkait keamanan nasional. Persaingan ketat antara AS dan China sendiri bertumpu pada lima lapisan utama yang diartikulasikan oleh CEO Nvidia, Jensen Huang. Masing-masing adalah energi, chip, infrastruktur, model, dan aplikasi.
Meski persaingan keras terjadi di semua lini, pertarungan paling kasat mata tersaji di lapisan model. Setiap beberapa bulan sekali, laboratorium AI terkemuka di AS selalu merilis model frontier (canggih) terbaru. Namun, inovasi tersebut langsung dibayangi ketat oleh model open-weight asal China yang terus mengejar tanpa kenal lelah.
Sebagai salah satu teknologi paling rumit dalam sejarah peradaban modern, kemajuan pesat di lapisan ini sangat bergantung pada para peneliti dan ilmuwan AI elit dunia. Dengan kata lain, perang teknologi ini pada hakikatnya adalah ajang perebutan talenta kelas kakap.
Untuk mengukur peta kekuatan global tersebut, laporan AI Talent v3.0 yang dirilis Carnegie menggunakan metodologi berbasis analisis makalah dari konferensi elit Neural Information Processing Systems (NeurIPS) 2025.
Dari total 5.823 makalah dan 25.677 penulis yang diterima, tim peneliti menggunakan alat bantu AI mutakhir untuk membedah sampel yang jauh lebih besar, yakni lebih dari 10.000 penulis (40% dari total keseluruhan). Para penulis yang lolos di panggung NeurIPS ini diibaratkan sebagai pasukan "Navy SEAL" di dunia riset teknologi.
Peking University Pimpin Dunia, Tren "Pulang Kampung" Menguat
Peta sebaran talenta AI global. (Dok. Carnegie) Foto: (Dok. Carnegie) |
Peking University kini dinobatkan sebagai institusi nomor satu di dunia dalam hal mencetak talenta AI papan atas di antara 30 institusi global terbaik, sukses menggeser posisi Google yang sempat memimpin pada daftar 2022.
Tak hanya itu, laporan tersebut juga membedah perubahan drastis dalam peta migrasi talenta global. Jika sebelumnya banyak peneliti asal China berbondong-bondong merantau ke luar negeri, kini tren tersebut mulai berbalik arah.
Sebanyak 69% peneliti keturunan China memilih untuk tetap bertahan dan berkarier di dalam negeri pada 2025, naik signifikan dari 57% pada 2022. Tingkat retensi ini bahkan telah melibas wilayah Eropa yang kini tertahan di angka 60%, meski masih berada di bawah AS yang mencatat tingkat retensi 89%.
Lonjakan tingkat retensi di China ini didorong oleh dua faktor utama:
- Pesatnya ekspansi dan ledakan industri AI domestik yang menawarkan peluang karier sangat menggiurkan bagi para lulusan baru.
- Semakin ketatnya regulasi pembatasan visa di negara-negara Barat, terutama bagi mahasiswa pascasarjana asal China yang mengambil bidang studi STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics).
Meskipun demikian, Amerika Serikat tetap terbukti menjadi magnet kuat bagi talenta global, khususnya para periset asal China. Tercatat, pangsa peneliti di AS yang memegang gelar sarjana dari China justru meningkat 4 poin persentase pada 2025.
Dalam hal pergerakan bersih (brain gain vs brain drain), AS mencatatkan surplus penambahan bersih sebanyak +2.145 peneliti, berbanding terbalik dengan China yang mengalami defisit bersih sebanyak -1.729 peneliti akibat mobilitas lintas batas.
Dinamika Regional: Asia Berkibar, Eropa dan India Tertinggal
Di luar persaingan dua kekuatan utama tersebut, peta talenta AI global juga mencatat sejumlah kejutan menarik di berbagai kawasan:
- Kawasan Asia (Kecuali China): Korea Selatan dan Singapura membuat lompatan yang sangat signifikan. Korea Selatan kini menduduki peringkat kedua dalam hal tingkat retensi talenta tertinggi di dunia (77%), sementara kampus utamanya, KAIST, melesat dua belas peringkat untuk menduduki posisi ketiga global sebagai pencetak talenta AI papan atas. Di sisi lain, dua kampus kebanggaan Singapura, NUS (peringkat ke-13) dan NTU (peringkat ke-16), sukses menembus jajaran 20 besar institusi dunia.
- Eropa: Benua Biru terus mengalami kemunduran daya saing. Meskipun sedikit lebih menarik sebagai tempat bekerja dibanding 2022, institusi-institusi top Eropa seperti ETH Zurich dan University of Oxford justru terdepak dari daftar institusi papan atas pada 2025.
- India: Tren serupa juga menimpa India. Pangsa talenta AI papan atas negara tersebut merosot 2 poin persentase, begitu pula dengan jumlah talenta India yang bekerja di AS. Hingga kini, belum ada satupun institusi asal India yang berhasil masuk ke dalam jajaran institusi global teratas.
Dengan dominasi institusi pendidikan yang merajai daftar global serta tingkat retensi talenta domestik yang kian kokoh, China kini tidak lagi sekadar menjadi bayang-bayang Barat, melainkan siap memegang kendali penuh atas poros masa depan teknologi kecerdasan buatan dunia.
(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]
