China Blak-Blakan Ungkap Taktik Perang Dingin Amerika
Jakarta, CNBC Indonesia - Seruan CEO Anthropic Dario Amodei agar pengembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) diperlambat demi alasan keselamatan, membuat China bereaksi. Seperti diketahui, Amerika Serikat (AS) dan China merupakan dua negara yang paling getol mengembangkan teknologi AI.
Anthropic sendiri merupakan raksasa AI asal AS yang sempat memasok tool AI untuk kepentingan militer AS. Menurut China, omongan Amodei yang diamini Sam Altman dari OpenAI dan Elon Musk dari xAI, dinilai bukan sekadar pernyataan rasional.
Media pemerintah China, Global Times, menyebut langkah tersebut sebagai strategi "Perang Dingin" yang terang-terangan membidik China.
Dalam esai yang dirilis akhir pekan lalu, Amodei memaparkan kerangka kerja untuk memperlambat laju pengembangan model AI canggih (frontier AI). Tujuannya diklaim untuk memberi ruang lebih luas dalam mengantisipasi risiko keamanan yang kian mengkhawatirkan.
Namun, Global Times menilai ada agenda terselubung di balik narasi keselamatan tersebut. Tabloid corong pemerintah itu menuding niat sebenarnya adalah menjegal langkah China di arena AI lewat hambatan teknologi dan monopoli regulasi.
"Ini upaya mempertahankan hegemoni monopolistik Washington di sektor teknologi mutakhir, sekaligus mendepak China dari sistem tata kelola AI global," tulis Global Times dalam editorialnya, dikutip dari Reuters,k Senin (14/9/2026).
Seruan Perketat Kontrol Ekspor Chip ke China
Kebijakan ini juga mencakup desakan Amodei agar AS memperketat kontrol ekspor chip ke China, serta menyikat dugaan praktik distilasi model oleh laboratorium AI China. Di sisi lain, Amodei sempat mengakui kepada CBS News bahwa batu sandungan terbesar dari usulannya adalah kekhawatiran jika China dan negara rival lainnya memilih jalan berbeda dan tidak ikut mengerem laju inovasi mereka.
Global Times mengecam pendekatan tersebut sebagai "Perang Dingin AI senyap" yang munafik dan rabun jauh. Menurut mereka, mengisolasi China justru akan melambungkan biaya coba-coba (trial and error) serta memperbesar risiko hilangnya kendali atas arah perkembangan AI global.
Sikap Washington sendiri terbelah. Di satu sisi, para legislator AS mendesak regulasi ketat usai peringatan dini dari peneliti Anthropic ihwal ancaman kepunahan umat manusia akibat AI. Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump justru kompak menepis narasi mengerikan tersebut.
Bagi Trump, seruan mengerem AI digerakkan oleh "kekuatan-kekuatan negatif" yang sengaja meniupkan ketakutan berlebihan. Ia menegaskan posisi AS yang saat ini masih memimpin atas China dan berambisi mempertahankan takhta tersebut dengan segala cara.
"Kita memimpin China dalam AI. Kita negara paling canggih di dunia, dan jujur saya ingin mempertahankannya, karena siapa pun yang memenangkan AI adalah pemenangnya," tegas Trump.
Kendati tensi teknologi memanas, kedua negara dikabarkan tetap berencana mendiskusikan risiko keselamatan frontier AI dalam perundingan paruh September ini. Isu sensitif tersebut bahkan berpeluang besar dibahas langsung dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) antara Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pada 24 September mendatang.
(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]