Larang Minum Suplemen-Vitamin, WHO Ungkap Cara Cegah Pikun yang Benar

Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
Jumat, 11/09/2026 13:50 WIB
Foto: Photo: Issei Kato/Reuters/Newscom
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Jumlah penderita pikun atau demensia di seluruh dunia terus bertambah seiring bertambahnya usia penduduk. Di Indonesia sendiri, jumlah lansia terus meningkat setiap tahun sehingga risiko demensia menjadi perhatian kesehatan masyarakat yang makin mendesak.

Selama ini banyak orang beranggapan bahwa pikun adalah hal yang pasti terjadi seiring bertambahnya usia dan tidak dapat dicegah. Namun Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO baru saja merilis pedoman resmi yang mengubah pandangan tersebut.

WHO menyatakan bahwa demensia bukanlah takdir yang tidak dapat dihindari. Sebagian besar penyebabnya dapat dicegah atau ditunda dengan cara yang sederhana namun terbukti secara ilmiah, dikutip dari laporan Science Alert, Jumat (11/9/2026).


"Kita sekarang tahu lebih banyak daripada sebelumnya mengenai faktor yang meningkatkan risiko demensia dan pedoman ini menerjemahkan pengetahuan menjadi tindakan nyata yang dapat dilakukan setiap orang," ujar Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Pedoman ini disusun setelah meneliti ratusan penelitian ilmiah dari seluruh dunia. Hasilnya sangat jelas. Tidak ada obat ajaib untuk mencegah pikun. Namun ada cara-cara nyata yang terbukti menurunkan risiko seseorang mengalami penurunan daya pikir di masa tua.

Suplemen Dilarang, Tidak Ada Bukti Bermanfaat

Satu hal yang paling tegas disampaikan WHO adalah mengenai penggunaan suplemen kesehatan. Banyak orang menghabiskan uang jutaan rupiah setiap bulan untuk membeli suplemen penambah daya otak, vitamin, dan minyak ikan dengan harapan dapat mencegah pikun.

Namun setelah meneliti seluruh data penelitian yang tersedia, WHO menyatakan dengan tegas: tidak ada bukti yang cukup bahwa suplemen apa pun dapat mencegah demensia.
WHO secara khusus tidak menyarankan mengonsumsi suplemen berikut ini untuk pencegahan demensia:

  • Vitamin B
  • Vitamin E
  • Omega-3
  • Kompleks multivitamin atau mineral

Saran ini dikecualikan hanya bagi orang yang memang memiliki diagnosis medis menderita kekurangan nutrisi tertentu. WHO bahkan memperingatkan bahwa konsumsi suplemen dalam dosis tinggi justru dapat berbahaya bagi kesehatan. Artinya, uang yang dikeluarkan untuk membeli suplemen penambah daya otak selama ini belum tentu bermanfaat dan berisiko membahayakan kesehatan.

Inilah Cara yang Terbukti Ampuh Cegah Pikun

Daripada memboroskan uang untuk suplemen yang belum terbukti, WHO menyarankan melakukan langkah-langkah berikut ini yang semuanya telah terbukti secara ilmiah menurunkan risiko demensia:

  • Tetap aktif bergerak dan berolahraga secara teratur. Tubuh yang bergerak melancarkan aliran darah ke otak sehingga sel-sel otak tetap sehat.
  • Tetap aktif bersosialisasi dan terus melatih otak. Berinteraksi dengan orang lain dan belajar hal baru menjaga daya pikir tetap tajam.
  • Tidak merokok dan membatasi atau tidak mengonsumsi alkohol. Zat dalam tembakau dan alkohol merusak pembuluh darah dan sel otak secara perlahan.
  • Menjaga pola makan sehat dan seimbang. Asupan gizi yang tepat dari makanan alami jauh lebih baik dibandingkan suplemen apa pun.
  • Menjaga tekanan darah, kadar kolesterol, gula darah, dan berat badan tetap dalam batas normal. Penyakit pembuluh darah ternyata menjadi salah satu penyebab utama kerusakan otak di masa tua.

Alat Bantu Dengar Cegah Pikun

Penemuan paling menarik yang juga masuk ke dalam pedoman ini adalah hubungan antara pendengaran dan pikun. Sebuah penelitian besar membuktikan bahwa orang lanjut usia yang mengalami gangguan pendengaran namun tidak menggunakan alat bantu dengar memiliki risiko demensia yang jauh lebih tinggi.

Namun, bagi mereka yang menggunakan alat bantu dengar, penurunan daya pikir ternyata melambat hingga 50 persen. Alasannya sangat masuk akal. Jika seseorang tidak dapat mendengar dengan baik, otak harus bekerja sangat keras untuk memahami suara. Seiring berjalannya waktu, beban kerja berlebih itu justru mempercepat kerusakan sel otak.

Dengan alat bantu dengar, otak menjadi lebih ringan dalam memproses suara sehingga kemampuan berpikir tetap terjaga lebih lama.

WHO juga menyebutkan beberapa faktor lain yang berkaitan dengan risiko demensia, tetapi belum cukup bukti untuk menjadikannya sebagai anjuran resmi:

  • Polusi udara terbukti berkaitan erat dengan peningkatan risiko demensia. WHO menyarankan agar setiap orang berusaha mengurangi paparan udara kotor di lingkungan tempat tinggal maupun tempat bekerja.
  • Gangguan penglihatan juga dikaitkan dengan risiko demensia, namun belum cukup bukti bahwa pengobatan gangguan penglihatan dapat mencegah pikun secara langsung.
  • Kurang tidur juga berkaitan erat dengan risiko demensia. Namun belum cukup bukti bahwa memperbaiki kualitas tidur dapat menurunkan risiko tersebut.

Bagi masyarakat Indonesia, pesan WHO ini sangat penting. Banyak orang merasa lebih baik meminum suplemen mahal daripada mengubah gaya hidup. Kenyataannya justru sebaliknya. Suplemen belum tentu bermanfaat dan bisa berbahaya. Sedangkan menjaga tekanan darah, gula darah, berat badan, tidak merokok, tetap bergerak, dan menjaga pendengaran adalah cara yang terbukti ampuh mencegah pikun.

Artinya, cara terbaik menjaga otak tetap sehat hingga usia tua bukanlah dengan membeli suplemen termahal di pasaran. Cara terbaik adalah dengan menjalani hidup yang sederhana, sehat, dan teratur.


(dem/dem)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Transformasi Besar-besaran,Telkom Jalankan 4 Pilar Bisnis Utama