Temuan Mengejutkan di Dekat RI, 149 Spesies Baru Sampai 1.000 Gigi Hiu

Novina Putri Bestari,  CNBC Indonesia
09 September 2026 09:05
Laut. (Dok. Freepik)
Foto: Laut. (Dok. Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah ilmuwan berhasil menemukan 149 spesies laut dalam baru dan kuburan gigi hiu berusia 22 juta tahun. Temuan ini berasal dari Samudra Hindia yang berada di dekat Indonesia.

Ekspedisi penelitian dilakukan di bawa laut sekitar pulau Christmas dan Cocos, barat daya pulau Jakarta Indonesia, serta di antara Australia dan Sri Lanka. Penelitian melakukan survei pada kedalaman dari 94-5.431 meter dan memetakan dasar laut abyssal dengan gunung laut vulkanik berusia 40-120 juta tahun berdiameter 70 km.

"Orang-orang telah menjelajahi pulau-pulau pada perairan dangkal, namun belum ada yang meneliti kehidupan di perairan lebih dalam. Itu merupakan celah besar dalam data," kata ilmuwan kelauran di Museum Victoria Melbourne, Tim O'Hara, dikutip dari ZME Science, Selasa (8/9/2026).

Ratusan spesies yang ditemukan termasuk teripang dari genus Oneirophanta, ikan baru dari famili greeneye (Chloroplhthalmus) dan teritip parasit dari genus Rhizolepas.

Bukan hanya itu, para peneliti juga menemukan kuburan berisi 1.000-an gigi hiu di dalam laut tersebut. Gigi-gigi tersebut ditemukan saat ditarik selama penangkapan ikan terakhir di sepanjang Dataran Abisal Cocos.

Diperkirakan gigi tersebut terdapat lebih dari 22 juta tahun. Termasuk di antaranya adalah gigi hiu putih besar (Carcharodon charcharias), hiu mako (Isurus oxyrinchus), hiu macan (Galeocerdo cuvier) dan fosil Megalodon pra sejararah (Otodus megalodon).

Selain itu juga ditemukan nodul polimetalik atau nodil mangan di dalam gigi hiu. Batuan kaya mineral ini disebut sangat dicari pada penambangan laut dalam dan digunakan pada baterai kendaraan listrik, turbin angin, dan energi terbarukan.

O'Hara menekankan pentingnya penelitian pada laut dalam. Beberapa ilmuwan, dia menyebutkan tengah melakukan penjelajahan di sekitar wilayah tersebut.

Salah satunya penelitian gunung bawah laut di taman Laut Coral Sea di lepas pantai timur laut Australia. Ada juga Sonne, kapal penelitian Jerman, yang meneliti struktur dasar laut di lepas pantai timur Selandia Baru.

O'Hara dan Jim Barry yang merupakan ilmuwan senior Monteray Bay Aquarium Research Institute jelaskan lautan tengah menghadapi banyak ancaman. Mulai dari kenaikan suhu permukaan laut, gelombang panas laut, penangkapan ikan berlebihan dan penambangan laut dalam.

Semua ancaman itu berdampak pada ekosistem. Namun di sisi lain, penelitian laut tetap penting dilakukan untuk mengetahui cara kerja laut dalam.

"Kita tidak bisa melihatnya dari permukaan, tidak ada yang pernah mengalami laut dalam kecuali orang yang pernah turun ke sana dengan kapal selam. Saya ingin sekali pergi lebih jauh ke Samudera Hindia.

(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Perubahan Besar Terjadi di Laut, Kebakaran dan Badai di Mana-Mana


Most Popular
Features