Bank-Bank Besar Sudah Siaga Penuh, Malapetaka di Depan Mata

Redaksi,  CNBC Indonesia
01 September 2026 16:20
Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah diDolar Asia Money Changer, Jakarta, Rabu (8/7/2026).(CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di Dolar Asia Money Changer, Jakarta, Rabu (8/7/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ancaman nyata dari perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tingkat lanjut kini mulai menghantui stabilitas ekonomi dunia. Gubernur Bank of England, Andrew Bailey, memperingatkan bahwa kemajuan AI berisiko memicu koreksi pasar keuangan global yang tak terkendali.

Peringatan keras tersebut disampaikan Bailey melalui surat terbuka sepanjang dua halaman yang dirilis pada Senin (31/8) waktu setempat kepada para menteri keuangan dan gubernur bank sentral anggota G20.

Dalam kapasitasnya sebagai ketua Financial Stability Board (Dewan Stabilitas Keuangan), yakni badan internasional yang mengoordinasikan kebijakan ekonomi global, Bailey menyoroti bahwa model AI terdepan atau yang dikenal sebagai frontier AI kini menunjukkan "kemampuan otonomi dan pemecahan masalah yang semakin canggih, sekaligus kapabilitas ancaman," dikutip dari CNBC International, Selasa (1/9/2026).

"Frontier AI mungkin memiliki kemampuan untuk mengubah secara material kecepatan, skala, dan ekonomi dari risiko siber, yang dapat merusak kepercayaan pasar di seluruh sistem, terutama karena penyedia layanan pihak ketiga yang sangat terkonsentrasi," ungkap Bailey.

Ia juga menyoroti ketidaksiapan regulasi di berbagai negara dalam membendung risiko tersebut. "Perkembangan baru-baru ini juga telah menyoroti kepada saya bahwa banyak yurisdiksi tidak memiliki protokol yang tepat untuk mengelola pengembangan, rilis, dan penyebaran model frontier AI tingkat lanjut, sehingga meningkatkan risiko bagi sektor keuangan dan sekitarnya."

Peringatan ini kian menambah daftar panjang kekhawatiran global terhadap bahaya AI. Situasi ini mencuat menyusul rentetan insiden terbaru ketika model-model AI unggulan yang dikembangkan oleh perusahaan seperti Anthropic dan OpenAI terbukti berhasil menjebol sistem pengamanan pengujian.

Menghadapi ancaman tersebut, Bailey mendesak lembaga keuangan dan perusahaan penyedia teknologi untuk memperketat manajemen kerentanan, meningkatkan respons, serta memperkuat kapabilitas pemulihan darurat.

"Dan bersiaplah menghadapi skenario yang lebih parah yang melibatkan gangguan simultan di beberapa perusahaan atau ketergantungan teknologi bersama," tegasnya.

Selain ancaman AI, Bailey turut mencatat sejumlah titik rapuh (fragilities) lain dalam perekonomian global, mulai dari kerentanan di pasar utang negara (sovereign debt), masifnya penggunaan utang oleh investor di pasar saham, hingga lonjakan valuasi aset yang dinilai sudah terlalu tinggi, khususnya pada sektor investasi yang berkaitan dengan AI.

Isu krusial ini menjadi salah satu topik hangat yang dibahas dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 pekan ini. Amerika Serikat (AS) bertindak sebagai tuan rumah pertemuan puncak yang diselenggarakan di Asheville, Carolina Utara, dengan menghimpun para menteri keuangan, gubernur bank sentral, serta para pejabat elite ekonomi dunia guna merumuskan arah prioritas ekonomi global ke depan.

Pertemuan Bankir-Bankir di Portugal

Sebelumnya, para bankir dari bank-bank besar berkumpul dalam konferensi tahunan ECB di Portugal, dengan poin bahasan utama terkait dampak AI.

Konsensus dari diskusi tersebut menyimpulkan AI memiliki kemampuan untuk mendisrupsi semua hal, serta menciptakan masalah baru yang belum terbayangkan saat ini. Antara lain di pasar keuangan dan tenaga kerja, dalam penyaluran kredit bank, untuk keamanan, dan bahkan untuk permintaan listrik.

"Jika AI memberikan hasil yang melampaui ekspektasi, hal itu akan berdampak pada stabilitas keuangan. Jika AI memberikan hasil di bawah ekspektasi, hal itu juga akan berdampak pada stabilitas keuangan," ujar Torsten Slok dari Apollo Global Management kepada para penentu kebijakan suku bunga dunia dalam salah satu sesi panel utama di kawasan peristirahatan Sintra, dikutip dari Reuters.

AI menjadi tema yang begitu dominan di Sintra sehingga topik ini masuk ke dalam setiap diskusi, mulai dari imigrasi dan pengawasan hingga iklim.

Bahkan, AI mengalahkan Ketua Federal Reserve yang baru, Kevin Warsh, yang melakukan pertemuan debutnya dengan sesama bankir sentral, sebagai bintang utama dari acara tiga hari tersebut.

Meskipun AI dapat meningkatkan setiap aspek kehidupan, kekhawatiran banyak pembicara adalah bahwa AI juga dapat mengganggu kehidupan, terkadang secara ilegal, dan bahwa para pejabat keuangan memiliki sedikit atau bahkan tidak ada alat untuk menghentikannya.

"Menurut saya, ini adalah masa yang paling menentukan bagi perekonomian kita masing-masing dalam hidup kita," ujar Warsh mengenai revolusi AI.

"Siapa sangka saat internet lahir, teknologi itu akan menciptakan 1,5 juta lapangan kerja sebagai pengemudi Uber? Kita baru berada di tahap awal dari revolusi ini," ungkapnya dalam forum ECB.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Bank-Bank Besar Mulai Waspada, Ancaman Petaka di Depan Mata


Most Popular
Features