Bank-Bank Besar Mulai Waspada, Ancaman Petaka di Depan Mata

Intan Rakhmayanti Dewi,  CNBC Indonesia
10 July 2026 11:40
U.S. dollar and Euro banknotes are seen in this illustration taken March 24, 2026. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration
Foto: REUTERS/Dado Ruvic

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank besar di dunia mulai khawatir karena ada bahaya mengancam di depan mata yang disebabkan teknologi kecerdasan buatan atau AI. Terbaru, Bank Sentral Inggris (Bank of England/BoE) memperingatkan bahwa perkembangan AI kini menjadi ancaman yang semakin besar terhadap stabilitas sistem keuangan.

Peringatan itu muncul di tengah optimisme investor yang terus menggelontorkan dana besar ke sektor AI, sekaligus meningkatnya risiko serangan siber terhadap industri perbankan.

Dalam laporan penilaian risiko sistem keuangan tengah tahun yang dirilis pada Selasa (7/7), BoE menyebut sejumlah risiko lama terhadap sistem keuangan Inggris masih bertahan.

Risiko tersebut meliputi valuasi harga saham yang dinilai terlalu tinggi, tingginya utang pemerintah, hingga ekspansi kredit swasta berisiko kepada pelaku usaha.

Namun, sejak laporan sebelumnya diterbitkan, BoE juga mengidentifikasi sejumlah ancaman baru yang berkaitan dengan perkembangan AI.

Di antaranya adalah meningkatnya praktik investor, termasuk hedge fund, yang meminjam dana untuk membeli saham, perusahaan AI yang berutang besar guna membiayai investasi, serta pesatnya peningkatan potensi dampak negatif dari teknologi AI.

Meski demikian, BoE menilai sistem perbankan Inggris masih berada dalam kondisi yang tangguh. Bank sentral itu juga mengusulkan kebijakan yang memudahkan perbankan mengurangi cadangan modal setelah terjadi krisis agar tetap dapat menyalurkan kredit ke perekonomian.

BoE menjelaskan, agar investasi besar di sektor AI benar-benar memberikan hasil sesuai harapan, dibutuhkan adopsi teknologi AI yang menguntungkan secara luas, pembangunan infrastruktur baru yang memadai, serta akses pembiayaan yang mudah bagi industri tersebut.

"Peninjauan ulang terhadap prospek tersebut dapat memicu penurunan harga saham yang diperparah oleh tingginya konsentrasi investasi, posisi investasi yang bergerak mengikuti momentum pasar secara bersamaan, serta meningkatnya penggunaan utang yang dapat memperbesar volatilitas ketika pasar turun," tulis BoE, dikutip dari Reuters, Kamis (9/7/2026).

BoE juga menyoroti kemampuan perusahaan AI untuk membayar utangnya di masa depan.

"Pertimbangan mengenai potensi pendapatan di masa depan bagi perusahaan-perusahaan terkait AI juga akan menjadi faktor penting terhadap keberlanjutan utang perusahaan-perusahaan tersebut," tulis BoE.

Menurut BoE, minimnya transparansi mengenai cara perusahaan AI memperoleh pembiayaan juga berpotensi memperburuk kondisi apabila terjadi krisis.

Regulator Keuangan Dunia Waswas

Di tingkat global, regulator keuangan mulai memberikan perhatian lebih besar terhadap dampak AI. Fokus pengawasan tidak hanya mencakup risiko siber dan operasional dari model AI canggih, tetapi juga tantangan yang ditimbulkan oleh sistem AI agentic yang mampu mengambil tindakan dengan intervensi manusia yang sangat terbatas.

Pada akhir Juni lalu, Deputi Gubernur BoE Sarah Breeden untuk pertama kalinya mengisyaratkan perlunya regulasi AI yang dirancang secara khusus untuk mengendalikan risiko dari sistem AI agentic yang semakin canggih.

"Kerangka kerja yang kami miliki tidak dirancang untuk menghadapi agen otonom, dan mengandalkan manusia untuk mengawasi setiap tindakan AI kemungkinan tidak lagi realistis," ujar Breeden.

Dalam laporan terbarunya, BoE juga mengakui masih belum jelas apakah perkembangan AI akan lebih menguntungkan pelaku serangan siber atau justru pihak yang bertugas melindungi sistem keuangan.

Namun, BoE memperkirakan perusahaan jasa keuangan akan semakin sering melakukan pembaruan perangkat lunak seiring berkembangnya teknologi AI. Di sisi lain, pembaruan tersebut juga membawa risiko gangguan operasional yang perlu diantisipasi.

Otoritas perbankan Jepang juga mengeluarkan peringatan keras terkait potensi "petaka" siber ini.

Asosiasi Perbankan Jepang mengungkapkan skenario terburuk di mana lembaga keuangan di Negeri Sakura tersebut terpaksa harus menonaktifkan infrastruktur krusial mereka secara mendadak. Langkah ekstrem ini berpotensi diambil demi melindungi dana nasabah dari serangan siber berskala masif.

Biang kerok dari kegaduhan ini adalah kehadiran model AI super canggih teranyar, salah satunya dinamakan Mythos besutan Anthropic. Teknologi mutakhir ini diketahui memiliki kemampuan mengerikan dalam mendeteksi celah keamanan (kerentanan) pada sistem perangkat lunak (software) dalam waktu sekejap.

Jika kemampuan ini jatuh ke tangan peretas (hacker), sistem keamanan perbankan seketat apa pun bisa jebol dalam hitungan detik.

"Ada kekhawatiran nyata mengenai lonjakan serangan siber tingkat tinggi yang jauh melampaui prediksi dan antisipasi kita selama ini," ujar Masahiko Kato, Ketua Asosiasi Perbankan Jepang sekaligus Presiden Mizuho Bank.

Kato menegaskan bahwa tindakan preventif yang agresif tidak lagi bisa dihindari jika situasi mendesak.

"Layanan tertentu seperti jaringan ATM bisa saja ditangguhkan secara proaktif. Ini murni langkah darurat demi memitigasi risiko dan melindungi aset para nasabah," tambahnya.

Kekhawatiran industri finansial ini bukan tanpa alasan. Saat meluncurkan model Mythos, Anthropic sendiri sudah mewanti-wanti bahwa produk AI terbarunya itu berhasil mengendus ribuan bug dan kelemahan sistem operasi serta peramban (browser) utama di seluruh dunia.

Pihak developer mengakui, apabila eksploitasi ini menyebar luas tanpa kontrol, dampak destruktifnya terhadap sistem keuangan global akan sangat parah.

Merespons alarm bahaya ini, sektor perbankan internasional mulai memperketat pengawasan dan membatasi penggunaan tools bertenaga AI di internal mereka.

Pemerintah Amerika Serikat (AS) sempat memerintahkan Anthropic untuk memblokir akses model AI canggih tersebut bagi warga negara asing, dengan dalih menjaga stabilitas dan keamanan nasional. Namun, perintah tersebut kemudian dicabut dan akses kembali dibuka untuk organisasi tertentu.

(fab/fab) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Bank-Bank Besar Kumpul, Sudah Siaga Penuh Hadapi Petaka Baru


Most Popular
Features