Ditemukan di Pulau Papua, Spesies Ular Baru Diklaim Orang Amerika

Intan Rakhmayanti,  CNBC Indonesia
26 August 2026 14:55
Lielaphis slashi. (Istimewa)
Foto: Lielaphis slashi. (Istimewa)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah kabar unik datang dari dunia sains, kali ini melibatkan salah satu gitaris band rock ternama. Ilmuwan menamai spesies ular baru yang ditemukan di Pulau Papua, tepatnya Papua Nugini, dengan nama Slash. Nama itu merujuk pada gitaris band asal Amerika Serikat (AS) Guns N' Roses.

Para ilmuwan dari Field Museum di Chicago, Amerika Serikat (AS), memberi nama ular tanah non-berbisa tersebut Lielaphis slashi, sebagai penghormatan kepada Slash.

Reptil berwarna cokelat kemerahan dengan panjang sekitar 71 sentimeter itu kini secara resmi dikenal sebagai Slash's groundsnake.

Meskipun spesies ini ditemukan di tanah Papua Nugini, tetapi peneliti yang menemukannya berasal dari AS, sehingga bebas memberikan nama atas penemuan tersebut.

Aturan penamaan spesies hewan yang ditemukan ilmuwan diatur oleh International Code of Zoological Nomenclature (ICZN).

Orang atau tim peneliti yang pertama kali mendeskripsikan spesies baru secara ilmiah dan mempublikasikannya di jurnal yang diakui (peer-reviewed) memiliki hak penuh untuk memilih nama ilmiah (binomial nomenclature) spesies tersebut.

Peneliti bebas memilih nama berdasarkan lokasi penemuan, ciri fisik, nama tokoh terkemuka, musisi favorit (seperti kasus Slash), atau bahkan humor, selama memenuhi standar kaidah bahasa Latin/Yunani dan tidak menyinggung atau menghina.

Nama Lielaphis slashi atau Slash's groundsnake tersebut diberikan bukan tanpa alasan. Field Museum menyebut Slash sebagai pencinta reptil seumur hidup sekaligus pendukung aktif kebun binatang dan museum.

Kecintaan Slash terhadap ular juga sudah lama terlihat dalam kehidupan dan karier musiknya. Pada 1994, ia bahkan membentuk grup rock Slash's Snakepit yang beranggotakan sejumlah musisi dari Guns N' Roses, Alice in Chains, dan Jellyfish.

Dalam pernyataan Field Museum, Slash mengaku sebagai pencinta reptil dan amfibi. "Saya merasa sangat terhormat dan rendah hati karena Lielaphis slashi dari New Guinea diberi nama berdasarkan nama saya," kata Slash, dikutip dari CBC News, Rabu (26/8/2026).

"Ini benar-benar sangat menyenangkan. Saya tidak pernah membayangkan momen seperti ini akan datang," imbuhnya.

Penamaan ular tersebut ternyata berawal dari ketertarikan Sara Ruane, associate curator herpetologi di Field Museum sekaligus penulis senior dalam penelitian yang diterbitkan di jurnal Zootaxa. Ruane mengatakan ketertarikannya terhadap reptil sudah muncul sejak masih kecil.

"Saat kelas lima, saya sudah mengatakan kepada guru saya bahwa saya akan menjadi ahli herpetologi ketika dewasa," ujarnya.

Ketika berusia 12 tahun, Ruane mendapatkan Reptiles Magazine yang menampilkan Slash sedang memegang ular piton retikulasi peliharaannya di sampul. Saat itu, Ruane langsung membayangkan suatu hari bisa menamai ular dengan nama Slash.

"Saya berpikir, saya ingin sekali menamai seekor ular dengan nama Slash. Saya pikir itu akan sangat menyenangkan," katanya.

Dalam wawancara di majalah tersebut, Slash juga membicarakan kecintaannya terhadap reptil, museum, kebun binatang, dan sejarah alam. Bertahun-tahun kemudian, ketika Ruane sudah menjadi ilmuwan dan memiliki kesempatan memberi nama spesies reptil yang baru ditemukan, ia kembali mengingat artikel tersebut.

"Bagi saya, bisa mendeskripsikan dan memberi nama sebuah spesies saja sudah merupakan sebuah kehormatan besar. Itu adalah sesuatu yang tidak pernah bisa dilakukan oleh kebanyakan orang," kata Ruane.

Menurut Ruane, memberikan nama Slash kepada spesies tersebut menjadi pelengkap yang sempurna dalam proyek penelitian itu.

Ruane bahkan sempat menemani Slash berkeliling Field Museum ketika sang gitaris berkunjung ke Chicago. "Rasanya seperti berbicara dengan orang lain yang benar-benar menyukai ular, reptil, dan sejarah alam," ujarnya.

Ruane juga mengatakan Slash memiliki ketertarikan terhadap dinosaurus dan bahkan mengetahui lebih banyak soal dinosaurus dibanding dirinya. "Jika dia bukan gitaris yang luar biasa, berdasarkan percakapan saya dengannya, saya akan mengatakan dia bisa menjadi ilmuwan yang luar biasa."

Ular Spesies Baru Sempat Tak Disadari

Penemuan Slash's groundsnake sebenarnya sudah berlangsung cukup lama. Peneliti pertama kali menemukan ular tersebut pada 2006 ketika Chris Austin, profesor sekaligus kurator herpetologi di Museum of Natural Science Louisiana State University, melakukan penelitian lapangan di Papua Nugini.

Pulau Nugini berada di utara Australia dan secara politik terbagi antara Indonesia dan Papua Nugini. Kawasan tersebut dikenal memiliki keanekaragaman hayati luar biasa yang hingga kini belum sepenuhnya diteliti.

Namun, penelitian terhadap ular di kawasan itu bukan perkara mudah. Hutan lebat Papua Nugini menjadi medan yang menantang bagi para ilmuwan. Peneliti juga harus berhati-hati karena sejumlah spesies ular berbisa di kawasan tersebut memiliki penampilan yang mirip dengan ular yang tidak berbahaya.

Ular juga sulit ditemukan karena lebih banyak menghabiskan waktu untuk bersembunyi dan diam. Kondisi itu membuat keberadaan spesies tertentu bisa luput dari pengamatan selama bertahun-tahun.

Secara fisik, penampilan Slash's groundsnake juga tidak langsung menunjukkan bahwa ular tersebut merupakan spesies baru.

Para peneliti kemudian melakukan pengujian genetik. Hasilnya menunjukkan Lielaphis slashi memiliki karakter genetik yang berbeda dari ular lain dalam genus yang sama.

Peneliti memastikan Slash's groundsnake tidak dianggap sebagai ancaman bagi manusia.

Ular tersebut diduga menggunakan gigi yang membesar di bagian belakang mulutnya untuk menangkap kadal kecil dan telur reptil. Berbeda dengan boa pembelit (constrictor), ular ini tidak melumpuhkan mangsanya dengan cara meremas. Ular tersebut juga tidak menghasilkan bisa yang mampu membahayakan manusia secara serius.

Meski demikian, ancaman terbesar bagi spesies ini justru datang dari aktivitas manusia.

Hutan tempat Slash's groundsnake hidup menghadapi tekanan dari berbagai industri, termasuk perkebunan kopi dan pertambangan.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Gempa Besar Terus-terusan, Pulau Baru Lahir di Atas Papua


Most Popular
Features