Elon Musk Makin Ngaco, Omongannya Makin Enggak Masuk Akal

Redaksi, CNBC Indonesia
Rabu, 26/08/2026 18:20 WIB
Foto: CEO Tesla Elon Musk memegang telepon seluler saat tiba untuk menghadiri jamuan makan malam kenegaraan bersama Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Balai Besar Rakyat di Beijing, China, 14 Mei 2026. (REUTERS/Evan Vucci)

Jakarta, CNBC Indonesia - Elon Musk kembali melontarkan pernyataan yang dianggap tidak masuk akal sekaligus membahayakan arah perkembangan kecerdasan buatan atau AI dunia. Setelah SpaceX mengakuisisi perusahaan AI Cursor senilai US$ 60 miliar, Musk menyampaikan alasan percepatan pengembangan AI yang justru terdengar berlawanan dengan akal sehat.

Dalam rapat seluruh karyawan Cursor setelah proses akuisisi rampung selesai, Musk menyampaikan alasan mengapa ia harus mempercepat pengembangan AI di SpaceX. Menurutnya, suatu hari nanti model AI akan menjadi begitu canggih sehingga mustahil dikendalikan oleh manusia.

Namun, kesimpulan yang ia tarik justru sangat aneh. Karena AI pasti akan lepas kendali, SpaceX haruslah yang pertama kali membangunnya.


Alasan ini langsung menuai kritikan luas. Jika AI memang dipastikan akan lepas dari kendali manusia, buat apa perusahaan-perusahaan raksasa berlomba membangun AI?

Musk bahkan tidak berpendapat bahwa perusahaannya adalah pihak yang paling dapat dipercaya untuk membangun AI dengan aman,  seperti yang sering dikemukakan oleh pesaingnya, Anthropic.

Bagi Musk, yang terpenting hanyalah siapa yang paling dulu sampai di garis finis, tanpa memedulikan keselamatan atau dampaknya bagi umat manusia.

AI Buatan Elon Musk Banyak Masalah

Kekhawatiran atas logika Musk bukannya tanpa alasan. Produk AI buatannya, Grok, telah berulang kali memicu kontroversi serius. AI itu diketahui menyebarkan paham rasisme, menyebut dirinya sebagai penjelmaan Adolf Hitler, memuji teori konspirasi supremasi kulit putih, hingga memproduksi jutaan foto palsu (deepfake) bernuansa seksual dari orang sungguhan, termasuk anak-anak.

Bahkan, Indonesia sempat memblokir akses ke Grok karena risiko keamanan tersebut.

Alih-alih memperbaiki sistem pengamanannya, Musk justru membiarkan AI itu berkembang tanpa kendali memadai. Kritikus menilai sikap Musk ini justru membuktikan bahwa dialah orang terakhir yang seharusnya dipercaya memegang kendali atas masa depan kecerdasan buatan.

Para pengamat memperingatkan bahwa pola pikir Musk ini sangat berbahaya. Jika pemimpin di industri AI sudah berasumsi sejak awal bahwa AI pasti akan lepas kendali, buat apa membangun sistem pengamanan, keselamatan, batasan, atau pengawasan? Semangatnya berubah menjadi siapa paling cepat, dia yang berkuasa, tanpa peduli apakah ciptaannya aman atau tidak bagi manusia.


(dem/dem)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Inovasi ABB Manfaatkan AI di Bisnis Pulp & Paper hingga Tambang