Bulan Menjauh dari Bumi, Manusia akan Rasakan Dampaknya

Lynda Hasibuan, CNBC Indonesia
Sabtu, 22/08/2026 13:00 WIB
Foto: Seorang pria mengambil foto bulan super, yang dikenal sebagai Bulan Biru, saat terbit di atas mercusuar di pelabuhan Kalk Bay di Cape Town, Afrika Selatan, 19 Agustus 2024. (REUTERS/Esa Alexander)

Jakarta, CNBC Indonesia — Jarak antara Bumi dan Bulan rupanya tidak pernah benar-benar stabil. Dalam sebuah fenomena astronomi yang berlangsung secara perlahan, satelit alami Bumi tersebut diketahui terus bergerak menjauh dari planet yang kita huni.

Kepastian mengenai pergeseran posisi ini tidak lepas dari temuan bersejarah Misi Apollo pada era 1960-an. Saat itu, para astronot menempatkan pemantul cahaya khusus (reflektor) di permukaan Bulan. Melalui metode Lunar Laser Ranging Experiment, para ilmuwan mengukur waktu tempuh sinar laser yang ditembakkan dari Bumi hingga memantul kembali ke titik asal. Dari durasi pantulan itulah, tingkat presisi jarak kedua benda langit tersebut dapat dihitung.

Hasil pemantauan dan pengukuran yang dilakukan secara berkala menunjukkan tren yang konsisten: Bulan secara bertahap terus meregangkan jaraknya dari Bumi. Meskipun pergerakan ini tergolong sangat lambat yakni hanya berkisar 3,8 centimeter per tahun temuan ini menjadi bukti nyata bahwa dinamika ruang angkasa terus berubah seiring berjalannya waktu.


Ternyata menjauhnya Bulan dari Bumi memiliki dampak di masa depan dan dirasakan umat manusia. Menurut IFL Science, Gerhana Matahari Total yang tidak bisa dilihat lagi dari Bumi karena ukuran Bulan yang makin mengecil.

Berbeda dengan sekarang, ukuran Bulan hampir sama dengan Matahari. Hal ini membuat fenomena Gerhana Matahari Total masih bisa terlihat dari Bumi.

Sebagai informasi, jarak dengan Matahari mencapai 400 kali lebih jauh dari Bumi dan Bulan. Diameternya juga mencapai 400 kali lebih besar.

Bahkan ukuran Bulan jauh lebih besar pada 4 miliar tahun lalu. Saat belum menempati orbitnya sekarang, ukuran Bulan nampak tiga kali lebih besar dari sekarang.

"Seiring berjalannya waktu, jumlah dan frekuensi Gerhana Matahari Total berkurang. Sekitar 600 juta tahun lagi, Bumi akan melihat keindahan Gerhana Matahari Total untuk terakhir kalinya," kata ilmuwan NASA, Richard Vondrak pada 2017, dikutip Sabtu (22/8/2026).


(mkh/mkh)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Kesiapan "Digital Talent" Jadi PR RI Akselerasi Investasi AI