Bulan Bergerak Menjauhi Bumi, Warga Pelan-Pelan Rasakan Dampaknya

Redaksi,  CNBC Indonesia
13 May 2026 18:20
Pemandangan sebagian Bulan di tempat yang digambarkan NASA sebagai "sepanjang terminator, batas antara siang dan malam di Bulan, di mana sinar matahari dengan sudut rendah menghasilkan bayangan panjang dan dramatis di permukaan" selama penerbangan li
Foto: Pemandangan sebagian Bulan di tempat yang digambarkan NASA sebagai "sepanjang terminator, batas antara siang dan malam di Bulan, di mana sinar matahari dengan sudut rendah menghasilkan bayangan panjang dan dramatis di permukaan" selama penerbangan lintas Bulan oleh awak Artemis II pada 6 April 2026 dan diperoleh oleh Reuters pada 7 April 2026. (via REUTERS/NASA)

Jakarta, CNBC Indonesia - Jarak antara Bumi dan Bulan ternyata tidak bersifat statis. Satelit alami Bumi tersebut dilaporkan terus bergerak menjauh secara perlahan, sebuah fenomena yang diprediksi bakal membawa dampak signifikan bagi kehidupan di masa depan.

Berdasarkan data dari Lunar Laser Ranging Experiment, para ilmuwan berhasil memetakan perubahan jarak ini. Proyek yang bermula dari misi Apollo tahun 1960-an tersebut menempatkan reflektor di permukaan Bulan guna mengukur jarak presisi dengan Bumi.

Metode perhitungannya dilakukan dengan menembakkan sinar laser dan mengukur waktu tempuh pantulannya kembali ke Bumi. Hasilnya cukup mengejutkan: Bulan terus "angkat kaki" dari orbitnya saat ini dengan kecepatan sekitar 3,8 centimeter (cm) per tahun.

Lantas, apa dampaknya bagi manusia?

Mengutip laporan IFL Science, salah satu efek visual yang paling nyata di masa depan adalah hilangnya fenomena Gerhana Matahari Total. Hal ini terjadi karena ukuran Bulan yang terlihat dari Bumi akan terus mengecil seiring bertambahnya jarak.

Sebagai catatan, fenomena Gerhana Matahari Total saat ini terjadi karena ukuran Bulan nampak hampir sama dengan Matahari jika dilihat dari permukaan Bumi. Padahal, secara aktual, diameter Matahari mencapai 400 kali lebih besar dengan jarak yang juga 400 kali lebih jauh dibandingkan Bulan.

Kondisi ini sangat kontras dengan situasi 4 miliar tahun lalu. Kala itu, saat Bulan belum menempati orbitnya yang sekarang, ukurannya nampak tiga kali lebih besar dibandingkan yang kita saksikan hari ini.

"Seiring berjalannya waktu, jumlah dan frekuensi Gerhana Matahari Total akan terus berkurang. Sekitar 600 juta tahun lagi, penduduk Bumi kemungkinan besar akan menyaksikan keindahan Gerhana Matahari Total untuk terakhir kalinya," ujar ilmuwan NASA, Richard Vondrak.

Selain hilangnya fenomena langit tersebut, menjauhnya Bulan juga berdampak pada rotasi Bumi. Interaksi gravitasi yang melemah akibat jarak yang kian jauh menyebabkan rotasi Bumi melambat secara perlahan, yang secara teknis akan menambah durasi waktu dalam satu hari di masa depan yang sangat panjang.

(fab/fab) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Viral Bumi Gelap Total Agustus 2027, Ini Penjelasan Ilmiahnya


Most Popular
Features