Ilmuwan NASA Mengaku Sudah 3 Kali Meninggal, Begini Kesaksiannya
Jakarta, CNBC Indonesia - Kematian umumnya hanya dirasakan satu kali seumur hidup. Namun, ada beberapa kasus yang disebut 'mati suri', yakni orang yang diduga sudah meninggal kemudian mengaku bisa kembali hidup.
Seorang perempuan bernama Ingrid Honkala mengaku sudah tiga kali meninggal. Ia adalah pemegang gelar PhD untuk Ilmu Kelautan, pernah menghabiskan beberapa tahun bekerja di NASA dan Angkatan Laut Amerika Serikat (AS).
Menurut pengakuannya, kejadian meninggal pertama ia rasakan pada usia 2 tahun. Ia jatuh ke dalam tangki air es di rumah saat pembantu rumah tangga keluarganya berada di ruangan lain.
Ibunya yang kala itu baru saja berangkat kerja, mendadak berbalik kembali tanpa alasan yang jelas. Sang ibu kemudian menarik putrinya keluar dari tangki air es dan resusitasi.
Honkala mengatakan insiden itu bukan sebuah kebetulan. Ketika kesadarannya pergi selama beberapa menit, ia yakin melihat ibunya berjalan pergi dan menyampaikan urgensi terkait situasi di rumah. Ketika ia kemudian menceritakan apa yang dilihatnya kepada sang ibu, detailnya cocok.
"Pada saat itu, seperti ada bentuk komunikasi di antara kami, tetapi bukan melalui kata-kata, melainkan melalui kesadaran," kata Honkala, dikutip dari Vice, Kamis (7/5/2026).
Apa yang ia alami saat tenggelam di tangki air es itu memberikan gambaran terkait apa yang dialaminya dalam dua 'kematian' selanjutnya. 'Kematian' keduanya terjadi kecelakaan sepeda motor pada usia 25 tahun.
Kemudian pada usia 52 tahun ketika tekanan darahnya turun selama operasi. Setiap kali, hal yang sama terjadi. Rasa takut lenyap, tubuh terasa ringan, dan yang tersisa terasa seperti sesuatu yang ia gambarkan sebagai kesadaran murni.
"Rasanya seperti memasuki lapisan realitas yang lebih dalam yang ada di luar indra fisik kita," katanya. "Dalam keadaan itu, kesadaran terasa luas, cerdas, dan saling terhubung," ia menjelaskan.
Honkala saat ini berusia 55 tahun dan berbasis di Bogota, Kolombia. Ia menuliskan pengalamannya melalui buku berjudul 'Dying To See The Light'.
Ia berhati-hati dalam membingkai semua kejadian yang dialami. Ia menekankan cerita ini bukan sebagai penolakan terhadap sains, melainkan sebagai perluasan dari sains itu sendiri. Pengalaman mendekati kematian, katanya, justru yang mendorongnya untuk berkarir di bidang sains sejak awal.
"Saya ingin memahami hakikat realitas melalui pengamatan dan penelitian," katanya. Setelah puluhan tahun berkecimpung di bidang tersebut, ia menyimpulkan sains dan spiritualitas mungkin tidak selalu bertentangan. Namun, keduanya mungkin hanya mengeksplorasi misteri yang sama dari perspektif yang berbeda.
Orang-orang yang skeptis akan merujuk pada penelitian yang menunjukkan bahwa pengalaman mendekati kematian adalah peristiwa neurologis, mungkin cara otak untuk meredam penutupan dirinya sendiri. Itu adalah posisi yang masuk akal.
Namun, argumen Honkala lebih sulit untuk diabaikan begitu saja. Ia menilai pengesahan ibunya atas apa yang diklaim oleh seorang anak berusia dua tahun yang telah disaksikannya dari luar tubuhnya sendiri adalah suatu kebetulan yang luar biasa atau sesuatu yang pantas mendapat respons lebih dari sekadar "itu aneh."
"Kematian tidak terasa seperti akhir dari eksistensi," kata Honkala.
"Rasanya lebih seperti transisi dalam kontinum kesadaran," ia menuturkan.
(fab/fab) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]