Data Center Rusak Bumi-Bikin Warga Sengsara, Singapura Punya Solusinya
Jakarta, CNBC Indonesia - Besarnya konsumsi energi pada data center (pusat data) menjadi momok hingga mendapat perlawanan dari masyarakat. Di Amerika Serikat (AS), konsumsi energi yang besar akhirnya merugikan masyarakat sekitar, sebab tagihan listrik mereka turut bengkak.
Namun, temuan ada penelitian baru di Singapura yang mencoba menghadirkan solusi, agar konsumsi energi bisa diredam. Temuan ini terbilang sangat ekstrem karena memanfaatkan sel otak manusia sebagai pengganti prosesor silikon.
Fakultas Kedokteran National University of Singapore (NUS Medicine), operator pusat data DayOne, serta Cortical Labs asal Melbourne meluncurkan prototipe data center biologis pertama. Fasilitas ini dilengkapi rak yang menampung 20 komputer CL1 bertenaga neuron yang beroperasi secara independen.
Sel-sel neuron tersebut dikembangkan dari sel punca (stem cell) dan dibudidayakan oleh Life Sciences Institute NUS, dikutip dari The Next Web, Jumat (21/8/2026).
Meski mengeklaim inovasi ini jauh lebih efisien dibandingkan data center konvensional, para peneliti belum membeberkan angka pasti untuk mendukung klaim efisiensi energi tersebut.
Pihak Cortical Labs hanya memberikan estimasi konsumsi daya harian. Satu unit komputer CL1 disebutkan membutuhkan daya sekitar 850 hingga 1.000 watt. Artinya, satu rak data center biologis ini memerlukan pasokan listrik hingga 20 kilowatt.
Teknologi ini diproyeksikan tidak hanya berhenti di laboratorium penelitian. Cortical Labs berencana membawa pusat data biologis ini ke ranah komersial.
Pendiri Cortical Labs, Hon Weng Chong, menyatakan bahwa keberhasilan prototipe ini menggeser fokus pembahasan dari sekadar riset akademis menuju aplikasi komersial di dunia nyata.
Kendati demikian, pusat data berbasis neuron ini masih menghadapi tantangan teknis yang besar. Sistem penopang hidup (life-support system) saat ini hanya mampu menjaga sel-sel neuron tetap hidup selama enam bulan-sebuah kendala batas usia yang tidak pernah ada pada server berbasis silikon.
Sementara itu, peneliti di Belanda juga sedang mengembangkan pusat data ramah energi serupa. Bedanya, mereka tidak menggunakan sel otak manusia asli, melainkan merancang chip neuromorfik yang meniru cara kerja jaringan neuron.
(fab/fab)