Era Baru, Schneider Electric Hadirkan Solusi End-to-End Data Center
Jakarta, CNBC Indonesia - Perkembangan data center ikut berubah seiring dengan kemajuan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Data center yang awalnya berperan sebagai fasilitas penyimpanan dan pemrosesan data menjadi tulang punggung ekonomi digital, layanan cloud computing, otomasi industri, teknologi finansial, e-commerce, layanan publik berbasis data, hingga ekosistem AIÂ berskala besar.
"AI menuntut data center untuk berpikir lebih jauh dari sekadar kapasitas. Yang dibutuhkan adalah kemampuan merancang infrastruktur yang dapat mengalirkan daya secara aman, membuang panas secara presisi, dan memberikan visibilitas operasional secara real time. Bagi Indonesia, kesiapan ini penting agar pertumbuhan ekonomi digital tidak hanya cepat, tetapi juga efisien, andal, dan berkelanjutan," ujar Business Vice President Data Center, Schneider Electric Indonesia, Ellya Cen dalam keterangan resmi, dikutip Rabu (17/6/2026).
Dengan pengalaman lebih dari 50 tahun dalam inovasi pendinginan serta portofolio end-to-end, Schneider Electric mendukung operator data center dalam membangun infrastruktur yang lebih siap menghadapi lonjakan kebutuhan AI. Selain itu, Schneider Electric juga bekerja sama dengan NVIDIA dalam pengembangan reference design untuk AI data center. Desain ini dirancang untuk mempercepat deployment Data Center sekaligus memastikan arsitektur yang scalable.Â
Schneider Electric, sebagai mitra teknologi energi, melihat transformasi ini sebagai bagian dari kebutuhan yang lebih besar: memastikan energi dapat dikelola secara lebih cerdas, efisien, andal, dan berkelanjutan. Dengan komitmen "Advancing Energy Tech", Schneider Electric menghadirkan teknologi dan keahlian untuk membantu pelaku industri data center membangun infrastruktur yang siap menghadapi pertumbuhan AI, tanpa mengorbankan efisiensi operasional dan keberlanjutan.
Karena itu, salah satu kunci dalam membangun data center AI-ready adalah desain infrastruktur yang terintegrasi dari sisi daya, pendinginan, arsitektur rak, visibilitas perangkat lunak, hingga lifecycle services. Pendekatan ini menjadi semakin penting ketika data center berkembang menjadi AI factory, karena operator perlu memahami bagaimana sistem akan bekerja sejak tahap perencanaan, sekaligus memantau performa fasilitas setelah mulai beroperasi.
Tanpa perencanaan yang matang, panas berlebih dapat memicu penurunan performa komputasi; thermal throttling, yaitu kondisi ketika prosesor menurunkan performa untuk mencegah panas berlebih; peningkatan konsumsi energi; gangguan operasional; hingga risiko downtime yang berdampak langsung pada layanan digital dan kepercayaan pelanggan.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Schneider Electric menghadirkan portofolio end-to-end bagi data center, mencakup liquid cooling, air cooling, Coolant Distribution Unit (CDU), manifold, sistem pembuangan panas atau heat rejection, high-performance chillers, prefabricated modular pods, serta sistem daya dari Medium Voltage ke Low Voltage, Uninterruptible Power Supply (UPS), Power Distribution Unit (PDU), switchgear, busway, dan Battery Energy Storage System (BESS).
Sejalan dengan meningkatnya kebutuhan daya pada rak AI generasi berikutnya untuk kesiapan AI Factory, Schneider Electric juga memperkenalkan inovasi seperti HVDC 800V Power Sidecar, arsitektur 800VDC yang siap diterapkan di lapangan dan dirancang untuk mendukung penyaluran daya berskala megawatt bagi rak AI.
Sidecar 800VDC Schneider Electric memindahkan konversi daya dari AC ke DC ke rak daya khusus di samping rak IT, sehingga membantu membebaskan ruang untuk komputasi. Inovasi ini juga mengurangi kepadatan kabel, dan mengimplementasikan 800 VDC dengan gangguan minimal terhadap infrastruktur berbasis AC yang sudah ada.
Dari sisi perangkat lunak, Schneider Electric menghadirkan Building Management System (BMS), Electric Power Management System (EPMS), Electrical Transient Analyzer Program (ETAP) Digital Twin, EcoStruxure IT, serta solusi digital twin dari AVEVA untuk meningkatkan visibilitas terhadap risiko downtime, inefisiensi energi, dan performa operasional di seluruh siklus hidup data center.
Kepemimpinan Schneider Electric dalam infrastruktur data center juga diperkuat oleh rekam jejak global. Melalui akuisisi Motivair pada Februari 2025, Schneider Electric memperluas kapabilitas liquid cooling dengan pengalaman lebih dari 10 tahun deployment, lebih dari 4 gigawatt kapasitas liquid cooling yang telah digunakan, serta pengalaman mendinginkan 6 dari 10 supercomputer tercepat di dunia, termasuk tiga teratas. Di Indonesia, Schneider Electric juga memiliki teknisi lokal bersertifikasi liquid cooling, sehingga pelanggan mendapatkan kombinasi antara teknologi global dan dukungan implementasi lokal.
Sementara itu, bagi Indonesia, momentum generasi AI bagi data center membuka peluang besar. Dengan sekitar 287 juta penduduk, dan 235 juta pengguna internet, kebutuhan terhadap infrastruktur digital yang andal terus meningkat. Menurut data Asosiasi Penyelenggara Data Center Indonesia (IDPRO), Jakarta juga semakin mengukuhkan posisinya sebagai gerbang digital utama, dengan total kapasitas data center colocation dan hyperscale yang telah beroperasi hingga Q1 2026 mencapai 637,24 megawatt, serta rencana pengembangan sekitar 1,65 gigawatt pada 2026.
Pertumbuhan ini tidak hanya ditopang oleh besarnya konsumsi digital masyarakat, tetapi juga oleh migrasi perusahaan ke cloud computing, regulasi lokalisasi data, konektivitas kabel laut, investasi infrastruktur AI, serta kebutuhan industri untuk memproses data dengan lebih cepat dan aman. Seiring meningkatnya kebutuhan tersebut, data center menjadi infrastruktur strategis yang menentukan daya saing ekonomi digital Indonesia di kawasan Asia Tenggara.
Namun, era AI membawa tantangan baru yang jauh lebih kompleks. Workload berbasis AI membutuhkan kemampuan komputasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan workload konvensional. Penggunaan Graphics Processing Unit (GPU) dan high-performance computing membuat kebutuhan daya dan pendinginan meningkat secara signifikan. Schneider Electric memperkirakan konsumsi AI untuk workload dan infrastruktur pendukungnya meningkat dari 4,3 gigawatt pada 2023 menjadi sekitar 13,5 hingga 18 gigawatt pada 2028. Pada periode yang sama, porsi AI terhadap konsumsi daya data center diperkirakan naik dari 8% menjadi 15-20%.
Perubahan ini juga mendorong evolusi data center menuju konsep AI factory, yaitu infrastruktur komputasi berskala besar yang perlu dirancang secara menyeluruh sejak tahap desain, simulasi, pembangunan, operasional, hingga pemeliharaan. Dalam periode 2025 hingga 2030, sekitar 60% deployment data center diperkirakan akan ditujukan untuk AI, sementara 75% workload AI diproyeksikan membutuhkan liquid cooling. Bahkan, International Data Corporation (IDC) memperkirakan 65% dari 2.000 perusahaan terbesar di Asia Pasifik akan mengoperasikan AI factory sebagai infrastruktur inti pada 2028.
Implikasinya terlihat langsung pada meningkatnya densitas rak dan kebutuhan distribusi daya. Contohnya, seiring bertambahnya kapasitas komputasi, sistem yang semula menggunakan 72 GPU dapat berkembang menjadi 288 GPU, sehingga kebutuhan distribusi daya dapat meningkat dari sekitar 150 kilowatt menjadi 1.000 kilowatt per rak. Ketika panas terkonsentrasi dalam ruang yang semakin padat, pendekatan pendinginan konvensional berbasis udara perlu dilengkapi dengan arsitektur pendinginan yang lebih presisi, efisien, dan siap mendukung beban komputasi intensif.
Untuk diketahui, pengakuan global terhadap kepemimpinan Schneider Electric semakin menegaskan posisinya sebagai mitra strategis industri data center. Schneider Electric masuk dalam daftar TIME World's Most Sustainable Companies 2024 dan 2025, meraih peringkat pertama dalam Corporate Knights Global 100 Most Sustainable Corporations 2025, serta diakui TIME100 Companies 2026 sebagai salah satu dari 10 perusahaan energi paling berpengaruh. Di sektor data center, Data Centre Magazine juga menempatkan Schneider Electric sebagai perusahaan nomor satu dalam kategori liquid cooling.
Untuk melihat portofolio lengkap liquid cooling Schneider Electric, kunjungi di sini.
Â
(bul/bul) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]